Tuesday, January 19, 2016

Nilai Ekonomi Kawasan Konservasi Berbasis Kearifan Lokal di Raja Ampat

            Siapa yang tak kenal Raja Ampat?Pulau tersohor yang diibaratkan “surga yang jatuh ke bumi”. Raja Ampat memiliki kekayaan alam bawah laut dengan keindahan yang luar biasa, bahkan sekitar 75% spesies karang dunia atau sekitar 537 spesies terumbu karang berada di Raja Ampat. Raja Ampat sendiri merupakan gugusan pulau yang tersebar dengan empat pulau besar, yaitu Pulau Waigeo, Pulau Misool, Pulau Salawati, dan Pulau Batanta. Secara administrasi wilayah Raja Ampat tercakup dalam Provinsi Papua Barat, berlokasi di barat bagian kepala burung dan Sorong merupakan penghubung langsung ke kawasan ini. Masyarakat Kepulauan Raja Ampat umumnya nelayan tradisional yang menyebar di berbagai pulau yang rata-rata berjauhan dan hanya dapat ditempuh melalui transportasi laut seperti speed boat, perahu jonson dan kapal-kapal baik kapal besar maupun kapal kecil. Meski demikian, belum ada transportasi laut yang bersifat reguler untuk menyusuri pulau-pulau di Raja Ampat. Raja Ampat dikenal sebagai “surganya diving” karena menurut berbagai sumber, perairan di Raja Ampat merupakan salah satu dari 10 perairan terbaik di dunia untuk diving site. Berdasarkan organisasi Green Peace, Raja Ampat merupakan surga bawah laut terbesar di Indonesia sehingga Pemerintah Indonesia menargetkan sekitar 30 persen dari 34 juta hektar wilayah laut yang dijadikan kawasan konservasi pada tahun 2020 berasal dari Raja Ampat.
            Kepulauan Raja Ampat ditetapkan sebagai kawasan konservasi untuk keanekaragaman kekayaan hayati sejak tahun 2008 dan disempurnakan dengan landasan hukum Peraturan Bupati Nomor 66 tahun 2007 serta perubahan nomor 05 tahun 2009 tentang Penetapan Kawasan Konservasi Raja Ampat yang terdiri dari 7 kawasan (mencakup Ayau-Asia, Teluk Mayalibit, Selat Dampier, Wayag-Sayang-Piay, Misool Selatan) seluas 900.000 hektar. Hal ini berarti bahwa Raja Ampat dijadikan sebagai wilayah yang dilindungi secara hukum dari unsur kerusakan lingkungan maupun aktivitas manusia yang merugikan ekosistem laut di Raja Ampat. Raja Ampat diistilahkan sebagai “marine protected areas” sehingga keberadaannya berperan penting dalam pelestarian ekosistem laut. Suatu wilayah yang ditetapkan menjadi kawasan konservasi yang berarti bahwa hanya diperbolehkan aktivitas yang tidak merugikan keberadaan kekayaan laut dan isinya selain untuk kepentingan penelitian kelautan, penangkapan ikan yang tidak menggunakan pukat harimau (trawl) atau bom, serta tujuan wisata yang tidak merusak ekosistem bawah laut. Untuk tujuan konservasi, terdapat beberapa organisasi pelestarian lingkungan laut seperti TNC (The Nature Conservatory) yang salah satu programnya adalah Konservasi Laut di kawasan Misool dan Kofiau serta CI (Conservation International) dengan berbagai program perlindungan lingkungan laut, salah satunya konservasi spesies hiu manta di Kepulauan Raja Ampat. Keberadaan kawasan konservasi berperan penting dalam kelangsungan ekosistem laut maupun manusia. Berdasarkan obrolan santai dengan para penduduk di Distrik Yenbuba, misalnya ketika penulis melakukan perjalanan dalam rangka pengecekan monitoring Sensus Pertanian yang mencakup lima sektor termasuk sektor perikanan pada bulan Mei 2013, menyampaikan bahwa mereka mendukung adanya program konservasi dengan tidak mematikan matapencaharian penduduk yang sebagian besar bergantung dengan hasil laut. Beberapa diantara penduduk di Kepulauan Raja Ampat seperti di pulau Saonek, Distrik Teluk Mayalibit dan Distrik Meosmansar, memiliki persepsi bahwa konservasi di Raja Ampat merupakan upaya perlindungan terhadap ekosistem laut termasuk ikan-ikan dan terumbu karang, namun tidak memberikan dampak berarti bagi perekonomian penduduk di pesisir pantai. Sebagian besar dari mereka masih bingung dengan istilah “konservasi” karena sejak zaman nenek moyang, mereka telah diingatkan untuk tidak merusak laut atau melakukan penangkapan ikan secara berlebihan. Warisan luhur dari nenek moyang itu terkenal dengan nama “sasi”. Sasi berarti larangan untuk mengambil sumber daya alam tertentu dalam batas waktu dan wilayah tertentu yang bertujuan untuk menjaga kelestarian alam agar keseimbangan ekosistem tetap terjaga. Sasi dikenal luas oleh penduduk Kepulauan Raja Ampat. Salah satunya seperti penduduk di Distrik Misool yang sejak lama memegang teguh konservasi tradisional “sasi”. Menurut penuturan penduduk yang bermukim di Waisai, hampir semua pulau memiliki pemahaman mengenai kearifan lokal yang dikenal dengan nama “sasi” karena nenek moyang mereka telah menanamkan wawasan tersebut untuk mencegah kerusakan kekayaan laut Kepulauan Raja Ampat yang merupakan “surga” dunia.

Dokumentasi : Distrik Meos Mansar, salah satu distrik di Raja Ampat
                                 Dokumentasi : Salah satu SD di Yenbuba, salah satu daerah dengan kearifan lokal, Sasi

            Sasi merupakan wujud kearifan lokal yang dikembangkan dan dipertahankan oleh penduduk Kepulauan Raja Ampat di berbagai pulau. Sistem sasi bahkan telah dikenal selama ratusan tahun karena diwariskan turun-temurun. Keberadaan kepala suku sebagai pemimpin berperan penting dalam menjaga kultur budaya dan harmonisasi manusia dan alam. Sasi sendiri didasarkan tidak hanya pada jenis komoditas, namun juga batas wilayah tertentu. Sebagai contoh penerapan sasi Teripang pada wilayah tertentu, yang berarti penduduk tidak boleh memburu atau mengambil teripang hingga Sasi dibuka. Jangka waktu sasi ini berkisar 6 bulan hingga bertahun-tahun. Lembaga adat atau gereja yang memiliki kewenangan untuk membuka dan menutup Sasi. Secara umum, penduduk di pesisir pantai di beberapa pulau di Raja Ampat seperti Pulau Waigeo, Pulau Misool dan beberapa wilayah sekitar Waisai yang menjadi pusat ibukota sangat menjunjung tinggi Sasi karena bagi mereka sektor perikanan merupakan penyangga kehidupan sehari-hari dan sumber utama ekonomi. Apabila kekayaan laut menjadi rusak, maka berarti sumber perekonomian mereka juga terancam hilang. Penduduk yang tinggal di pulau-pulau di wilayah sekitar Pianemo, kawasan wisata yang terkenal di Raja Ampat selain Pulau Wayag, misalnya menuturkan bahwa ribuan wisatawan yang mengunjungi Pianemo setiap tahun sangat menguntungkan bagi pendapatan mereka. Meski demikian, mereka tetap menekankan para wisatawan yang datang dan pergi agar tetap menjaga kelestarian alam bawah laut dengan tidak melakukan aktivitas merusak seperti membuang sampah plastik ke laut. Bagi penduduk lokal di pulau-pulau eksotis Raja Ampat, laut merupakan sumber kehidupan mereka yang harus tetap dijaga karena perekonomian mereka juga bergantung pada keberlangsungan ekosistem laut. Contoh lainnya seperti subsuku Ambel yang mengenal adat tradisi yang disebut Gabus. Gabus memiliki arti larangan adalah tradisi menjaga, mengatur, serta memanfaatkan sumber daya alam baik di darat dan laut.  Penerapan sasi kini lebih intensif dan berbasis ilmu pengetahuan dikarenakan para penduduk lokal mulai menyadari adanya ancaman kegiatan perikanan yang merusak, yaitu perikanan Illegal, Unreported, and Uregulated (IUU). Hingga kini, belum dapat diperkirakan nilai ekonomi yang hilang akibat aktivitas merusak tersebut. Seperti misalnya aktivitas kapal-kapal asing penangkap ikan dari nelayan-nelayan Filipina yang tidak saja melakukan penangkapan ikan secara illegal, namun juga menggunakan peralatan yang dapat merusak ekosistem terumbu karang di wilayah perbatasan Raja Ampat-Filipina, yaitu Kofiau yang merupakan wilayah terluar dari Kepulauan Raja Ampat. Kearifan lokal yang dianut dan diterapkan oleh sebagian besar penduduk lokal di Kepulauan Raja Ampat perlu dipertahankan dan ditingkatkan ke level yang lebih tinggi sehingga pengelolaan kekayaan laut dilakukan dengan prinsip keberkelanjutan.

Dokumentasi : Wawancara dengan penduduk lokal di salah satu desa di Raja Ampat

                                    Dokumentasi : Wawancara dengan nelayan lokal di salah satu desa di Raja Ampat

            Kepulauan Raja Ampat memiliki bentang alam berupa kepulauan dengan berbagai tipe pulau-pulau karst yang dibawahnya berhiaskan bentang terumbu (reefscape) dan habitat terumbu serta sea mounth (gunung laut). Bahkan spesies ikan dan karang Raja Ampat bersifat endemik. Artinya spesies dan karang tersebut hanya dapat ditemukan di satu tempat saja dan tidak terdapat di tempat lainnya. Berdasarkan informasi dari E-Pariwisata, tercatat sekitar 600 spesies karang, 57 spesies udang mantis, 13 spesies mamalia laut, 5 spesies penyu laut langka, 700 spesies moluska dan 1.320 spesies ikan dimana sekitar 27 spesies ikan hanya dapat ditemukan di Kepulauan Raja Ampat. Secara ekonomi, keindahan bawah laut Raja Ampat sangat bernilai dan tiada duanya. Penduduk lokal dapat meningkatkan pendapatan atau kesejahteraannya dengan mengembangkan perekonomian berbasis pariwisata dengan memanfaatkan keindahan surga bawah laut. Perekonomian Kabupaten Raja Ampat berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Raja Ampat selama kurun waktu 2010-2014 (tanpa mencakup kategori pertambangan migas) ditopang dari kategori pertanian dengan besaran 21% - 26%. Bahkan sekitar 15%-19% dari total barang dan jasa yang dihasilkan di Raja Ampat per sektor dihasilkan dari sektor perikanan selama tahun 2010-2014. Bahkan bila dirinci terhadap total nilai barang dan jasa yang dihasilkan dari pertanian, lebih dari 70 persen berasal dari kontribusi sektor perikanan. Hal ini berarti bahwa sektor perikanan yang mencakup perikanan tangkap dan budidaya merupakan urat nadi perekonomian masyarakat Kepulauan Raja Ampat. Keberadaan laut beserta kekayaannya merupakan penyangga perekonomian wilayah. Sementara dilihat dari sisi pariwisata, berdasarkan kontribusi dari sektor-sektor yang terkait dengan pariwisata seperti sektor penyediaan akomodasi, sektor penyediaan makan minum, sektor transportasi, sektor informasi dan komunikasi, sektor keuangan dan sektor jasa-jasa lainnya, persentasenya masih rendah atau kurang dari satu persen untuk masing-masing terhadap nilai total barang dan jasa yang dihasilkan (Produk Domestik Regional Bruto). Hal ini berarti bahwa sektor-sektor terkait pariwisata di Raja Ampat belum dikembangkan secara optimal. Kebijakan Kepulauan Raja Ampat sebagai kawasan konservasi tidak memungkinkan adanya pengembangan sarana pariwisata yang lebih modern seperti yang dikembangkan oleh pemerintah daerah Bali karena hal tersebut justru dikhawatirkan akan menguntungkan dari segi ekonomi, namun merugikan bagi kelangsungan ekosistem di laut. Pengembangan pariwisata Raja Ampat bagi beberapa penduduk lokal di desa wisata Arborek misalnya, mutlak diperlukan dengan tidak merusak alam. Penulis menyempatkan diri untuk mengunjungi desa wisata ini pada awal Desember 2015 saat mengikuti tur wisata di Raja Ampat. Para penduduk desa terkenal dengan kemampuan konservasi warga terhadap lingkungan laut. Mereka memiliki kepedulian tinggi dalam menjaga kelestarian laut baik di atas maupun di bawah. Daya tarik desa wisata ini, sama seperti desa wisata lainnya, terletak pada spot diving dan snorkeling. Keindahan alam bawah laut dapat diekspos oleh wisatawan menggunakan peralatan penyelaman. Meski demikian, perekonomian desa ini tidak serta-merta meningkat dikarenakan sebagian besar wisatawan memilih tinggal di homestay milik orang asing, bukan penduduk lokal dikarenakan fasilitas dan kenyamanannya. Bila ditelaah lebih lanjut, homestay maupun resort di Kepulauan Raja Ampat lebih banyak dikuasai oleh orang asing. Hal ini tentu tidak akan mendongkrak perekonomian penduduk lokal.

                                         Dokumentasi : pemandangan salah satu pulau dari atas perahu di Raja Ampat

Dokumentasi : salah satu desa wisata (Yenbuba) di Raja Ampat

Dokumentasi : pemandangan salah satu desa wisata di Raja Ampat

Dokumentasi : Wawancara dengan penduduk lokal di Raja Ampat (desa pesisir di Saonek)

Dokumentasi : Wawancara dengan penduduk lokal yang sehari-hari bekerja sebagai nelayan

                                                        Dokumentasi : Kantor Distrik Teluk Mayalibit, Raja Ampat

                   Dokumentasi : Perjalanan keliling pulau dengan perahu jonson, salah satu transportasi populer

            Sektor pariwisata Raja Ampat memiliki keterkaitan dengan konservasi laut. Meski sisi ekonomi perlu dikedepankan, namun kelestarian laut Kepulauan Raja Ampat jauh lebih penting. Visi pemerintah daerah Kabupaten Raja Ampat adalah pengembangan pariwisata sebagai sektor pendongkrak Penerimaan Asli Daerah (PAD). Secara ekonomi, Kepulauan Raja Ampat memiliki potensi besar dalam pengembangan pariwisata bahari untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk lokal, namun perlu juga diperhatikan apakah pengembangan tersebut akan berdampak sebagai ancaman bagi kelangsungan ekosistem laut Raja Ampat. Kepulauan Raja Ampat merupakan “world heritage” yang perlu dijaga dan diproteksi dari ancaman kerusakan sumber daya alam hayati baik dari pihak luar maupun dari masyarakat sendiri yang masih belum memiliki kepedulian akan keberlangsungan ekosistem bahari Raja Ampat. Sektor pariwisata merupakan sektor unggulan Raja Ampat karena potensi bahari yang menjanjikan. Optimalisasi sektor pariwisata bahari selama ini masih terkendala fasilitas dan sarana pendukung, terutama sistem transportasi. Akan tetapi, perlu diingat bahwa Kepulauan Raja Ampat adalah kawasan konservasi sehingga pengembangan sektor pariwisata bahari di Raja Ampat perlu kajian dan penelitian mendalam agar rencana tata kelola sektor ini tidak menjadi bumerang bagi penduduk lokal yang secara langsung berinteraksi dengan ekosistem laut. Setinggi apa pun nilai ekonomis suatu kawasan laut berserta kekayaan sumber daya hayati yang terkandung di dalamnya, tetap diperlukan prinsip keberlanjutan untuk generasi mendatang.

                                            Dokumentasi : Salah satu pantai dengan pasir putih di Raja Ampat

                                          Dokumentasi : Homestay sebagai tempat tinggal wisatawan di Raja Ampat

                                            Dokumentasi : Salah satu homestay milik penduduk lokal di Raja Ampat

                                                                    Dokumentasi : Waiwo Dive Resort, Raja Ampat


            Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Papua Barat, Edi Sumarwanto menuturkan dalam pertemuan di Kantor Gubernur Provinsi Papua Barat bahwa pemerintah Provinsi Papua Barat akan memprioritaskan pengembangan Kepulauan Raja Ampat sebagai destinasi utama di Papua Barat. Pemerintah daerah dikatakan oleh Edi Sumarwanto akan sangat berhati-hati dalam mengembangkan kawasan wisata bahari Raja Ampat dengan membuat perencanaan pembangunan secara arif dan bijaksana. Selama dua tahun terakhir, Pemprov Papua Barat telah mendorong Pemkab Raja Ampat agar memiliki rencana tata ruang pengembangan pariwisata bahari Raja Ampat yang berorientasi pada lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat sehingga hal tersebut akan membangun ekonomi kerakyatan penduduk lokal Raja Ampat sekaligus mempertahankan status Kepulauan Raja Ampat sebagai kawasan konservasi. Dengan demikian, nilai ekonomis keberadaan sektor pariwisata bahari Kepulauan Raja Ampat tetap berlandaskan kearifan lokal penduduk secara turun-temurun, bukan semata demi mengejar keuntungan pribadi dalam bentuk rupiah. 

Monday, January 18, 2016

Pertumbuhan Ekonomi Versus Pembangunan Ekonomi

        Pengertian pertumbuhan ekonomi harus dibedakan dengan pembangunan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi hanyalah merupakan salah satu aspek saja dari pembangunan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi adalah proses kenaikan kapasitas produksi suatu perekonomian yang diwujudkan dalam bentuk kenaikan pendapatan nasional. Suatu negara dikatakan mengalami pertumbuhan ekonomi apabila terjadi peningkatan GNP (Gross National Product) riil negara tersebut. Pertumbuhan ekonomi (Economic Growth) juga diartikan sebagai proses kenaikan output per kapita dalam jangka panjang. Ada tiga aspek yang perlu diperhatikan dalam definisi tersebut, yaitu : (1) proses, (2) output per kapita, dan (3) jangka panjang. Pertumbuhan ekonomi adalah suatu proses, bukan suatu gambaran ekonomi pada suatu saat. Simon Kuznet mendefinisikan pertumbuhan ekonomi suatu negara sebagai “kemampuan negara itu untuk menyediakan barang-barang ekonomi yang terus meningkat bagi penduduknya, pertumbuhan kemampuan ini berdasarkan pada kemajuan teknologi dan kelembagaan serta penyesuaian ideologi yang dibutuhkannya”.
            Pertumbuhan ekonomi yang dinyatakan dengan kenaikan output (Produk Domestik Bruto) dan pendapatan riil perkapita merupakan salah satu ukuran kemakmuran suatu wilayah, namun bukan indikator yang mutlak untuk menentukan tingkat kesejahteraan masyarakat karena masih ada beberapa aspek lainnya yang perlu diperhatikan. Sederhananya, pertumbuhan ekonomi adalah peningkatan jumlah barang dan jasa yang diproduksi oleh kegiatan ekonomi dari waktu ke waktu. Hal ini diukur secara konvensional sebagai laju persen kenaikan dalam produk domestik bruto riil, atau PDB riil. Pertumbuhan biasanya dihitung secara riil, yaitu disesuaikan dengan hal inflasi, untuk output yang bersih dari efek inflasi pada harga barang dan jasa yang dihasilkan. Dalam ilmu ekonomi, "pertumbuhan ekonomi" atau "teori pertumbuhan ekonomi" biasanya mengacu pada pertumbuhan output potensial, seperti: produksi di "lapangan kerja", yang disebabkan oleh pertumbuhan permintaan agregat atau output yang diamati. Sehingga dapat dikatakan bila pertumbuhan ekonomi tinggi berarti ada peningkatan aktivitas perekonomian yang digenjot untuk mengimbangi kebutuhan para pelaku ekonomi.
            Pada zaman sekarang seringkali pembangunan ekonomi disamakan dengan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi karena orang percaya, hasil-hasil pembangunan akan dengan sendirinya menetes ke bawah (trickle down) sebagaimana yang terjadi di negara-negara yang sekarang tergolong maju. Jadi, yang perlu diusahakan dalam pembangunan adalah bagaimana caranya untuk mencapai tujuan pertumbuhan ekonomi yang tinggi tersebut. Selama ini banyak negara sedang berkembang telah berhasil menunjukkan laju pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi, tetapi masih banyak permasalahan pembangunan yang belum terpecahkan, seperti : tingkat pengganguran tetap tinggi, pembagian pendapatan yang tidak merata, masih banyak terdapat kemiskinan absolut, tingkat pendidikan rata-rata masih rendah, pelayanan  kesehatan masih kurang, dan sekelompok kecil penduduk yang sangat kaya cenderung semakin kaya sedangkan sebagian besar penduduk tetap saja bergelut dengan kemiskinan, yang terjadi bukan trickle down tapi trickle up. Keadaan ini cukup memprihatinkan, sehingga banyak pihak  yang mulai mempertanyakan arti dari pembangunan.
            Kondisi serupa dimana pertumbuhan ekonomi yang tinggi, namun diiringi dengan tingkat pengangguran dan tingkat kemiskinan yang masih tergolong tinggi juga terjadi di Papua Barat. Selama kurun waktu tahun 2005-2008, pertumbuhan ekonomi Papua Barat cukup tinggi meski dalam kisaran 5-10 persen. Namun memasuki tahun 2009, pertumbuhan ekonominya mencapai 13,87 persen. Bahkan pada tahun 2010-2011, pertumbuhan ekonomi Papua Barat mencapai angka fantastis, diatas 20 persen (berdasarkan data BPS Papua Barat). Pertumbuhan ekonomi yang tergolong bombastis untuk provinsi yang terbilang ‘baru’ dimekarkan pada tahun 2003. Pertumbuhan itu bahkan menempatkan Papua Barat sebagai provinsi yang memiliki tingkat pertumbuhan tertinggi di Indonesia. Meskipun pencapaian pertumbuhan ekonomi tergolong ‘luar biasa’ namun ternyata angka kemiskinan dan angka pengangguran Papua Barat masih cukup tinggi. Tentu saja hal ini menjadi pertanyaan besar, apakah pertumbuhan ekonomi yang digambarkan dalam  bentuk ‘angka’ dapat dijadikan tolak ukur kemakmuran atau peningkatan kesejahteraan masyarakat di Papua Barat?Apakah pembangunan ekonomi Papua Barat dapat dikatakan berhasil atau hanya keberhasilan ‘semu’?


            Pertumbuhan ekonomi merupakan faktor penting dalam mengurangi kemiskinan dan menghasilkan sumber daya yang diperlukan bagi pembangunan manusia dan perlindungan lingkungan.  Namun, pertumbuhan ekonomi saja tidak menjamin pembangunan manusia. Sementara pembangunan ekonomi adalah sebuah upaya untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi. Dengan adanya pembangunan diharapkan kesejahteraan dari masyarakat bertambah. Ukuran keberhasilan pembangunan idealnya harus ditentukan berdasarkan dimensi pembangunan, yakni tergantung kepada fokus dan orientasi pembangunan yang dilaksanakan dan dimensi mana yang lebih menjadi perhatian bersama bagi: (1) Pengambil keputusan (Decision maker); (2) Perencana (planner) sebagai perencana dan perancang (berbagai aktivitas pembangunan, tujuan dan targetnya serta pelaksanaannya); (3) Pelaksana pembangunan itu sendiri sebagai pihak yang menjalankan atau sering disebut juga sebagai agen pembangunan; (4) Masyarakat yang menjadi sasaran pembangunan. Tantangan utama pembangunan ekonomi adalah bagaimana memberdayakan masyarakat dan seluruh kekuatan ekonomi, terutama pengusaha kecil, menengah dan koperasi, dengan mengembangkan sistem ekonomi kerakyatan. Sistem ini mensyaratkan adanya partisipasi yang luas dari seluruh masyarakat, baik dalam proses pembangunan ekonomi itu sendiri, maupun dalam menikmati hasil-hasilnya.
            Pada hakekatnya pembangunan ekonomi dinilai berhasil bila masyarakat merasa sejahtera atau hidup makmur, yaitu dengan terpenuhinya kebutuhan dasar dan hidup layak. Sesuai dengan tujuan pembangunan ekonomi itu sendiri yaitu penciptaan lapangan kerja dan kesejahteraan, dan perbaikan kualitas hidup (the creation of jobs and wealth, and the improvement of quality of life). Proses pembangunan ekonomi adalah untuk mempengaruhi pertumbuhan dan penataan kembali suatu ekonomi dalam rangka meningkatkan kemakmuran ekonomi suatu masyarakat (as a process that influences growth and restructuring of an economy to enhance the economic well being of a community). Adanya pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikasi keberhasilan pembangunan ekonomi. Namun bukan satu-satunya tolak ukur keberhasilan pembangunan ekonomi karena perlu ditelaah apakah masyarakat sebagai sasaran pembangunan turut menikmati hasil dari pertumbuhan ekonomi tersebut.


            Pertumbuhan ekonomi Papua Barat yang ‘luar biasa’ pada tahun 2010-2011 tidak serta merta dapat dijadikan ukuran mutlak bahwa masyarakat di Papua Barat memiliki tingkat kesejahteraan yang tinggi, bahkan tertinggi di Indonesia. Karena sebenarnya ‘gairah’ pertumbuhan ekonomi Papua Barat didorong oleh kehadiran pertambangan minyak bumi dan gas alam (migas) yang menjadi primadona dalam mendongkrak perekonomian. Padahal yang menikmati keberadaan ‘sumber daya alam’ tersebut hanya ‘segelintir’ orang, yang diistilahkan dengan ‘pelaku kakap’. Sungguh memprihatinkan dengan kenyataan bahwa SDA migas memegang peranan yang terus meningkat selama tahun 2008-2011. Bahkan pada tahun 2011 kontribusinya lebih dari 50 persen terhadap penciptaan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Papua Barat. Ini terutama dipicu oleh kehadiran ‘LNG Tangguh’ yang beroperasi pada akhir tahun 2009 di Kabupaten Teluk Bintuni.
            Kehadiran migas di Papua Barat secara signifikan mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Lantas apakah ini berarti bahwa pembangunan ekonomi Papua Barat dinilai berhasil mensejahterakan masyarakat, terutama masyarakat Papua?Pada dasarnya penopang kehidupan masyarakat di Papua Barat adalah sektor primer, dalam hal ini adalah sektor pertanian karena sebagian besar penduduk di Papua Barat memiliki mata pencaharian sebagai petani atau nelayan. Namun sektor pertanian memiliki kontribusi yang terus menurun selama tahun 2005-2011 terhadap penciptaan PDRB Papua Barat. Bahkan pada tahun 2011, pertanian hanya berkontribusi sebesar 13,76 persen. Pertumbuhan sektor ini juga hanya sekitar 1,56 persen saja dan hanya menyumbang sebesar 0,34 persen terhadap pertumbuhan ekonomi Papua Barat sebesar 27,22 persen di tahun 2011. Hal ini sangat memprihatinkan karena kehidupan masyarakat di Papua Barat banyak yang bergantung pada sektor pertanian. Hanya sebagian kecil yang berusaha di sektor lain, seperti perdagangan, pertambangan, dll. Dengan demikian apakah pembangunan ekonomi Papua Barat dinilai gagal meskipun pertumbuhan ekonominya sangat tinggi?Sebenarnya tujuan pembangunan ekonomi itu sendiri adalah untuk mencapai kemakmuran atau kesejahteraan. Yang terpenting dalam suatu pembangunan adalah suatu ‘proses’ sedangkan ‘hasil’ merupakan buah dari pembangunan. Proses itu seringkali memerlukan jangka waktu yang panjang untuk mencapai hasil yang diharapkan.

            Sekali lagi pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak serta merta mengindikasikan keberhasilan pembangunan ekonomi. Demikian juga sebaliknya. Karena patut dicermati adalah “apakah pertumbuhan ekonomi yang dicapai tersebut benar-benar berkualitas atau tidak”, “siapakah pelaku ekonomi yang paling merasakan dampak dari pertumbuhan ekonomi yang tinggi tersebut”, dan bagaimana pertumbuhan ekonomi yang tinggi berdampak pada kemakmuran masyarakat umum, bukan ‘segelintir orang’ saja. Selain itu pembangunan ekonomi juga memiliki aspek-aspek lain yang mengindikasikan suatu ‘kesuksesan pembangunan’ seperti angka pengangguran dan angka kemiskinan yang rendah, sarana dan prasarana pendukung wilayah yang mendukung, akses barang dan jasa yang tidak terhambat, dan lain-lain. Meskipun demikian pertumbuhan ekonomi yang tinggi dapat mengurangi kemiskinan dan menyerap tenaga kerja bila ‘pertumbuhan ekonomi’ tersebut terjadi pada sektor-sektor yang menguasai hajat hidup orang banyak. Karena pertumbuhan ekonomi yang berkualitas adalah pertumbuhan yang benar-benar digerakkan oleh masyarakat sehingga masyarakat harus berpartisipasi aktif dalam mendongkrak aktivitas perekonomian. Ini akan menandakan keberhasilan pembangunan ekonomi sehingga tujuan pembangunan, yaitu kemakmuran dapat tercapai.

Monday, January 11, 2016

Selayang Pandang : Produk Domestik Regional Bruto dan Maknanya Dalam Perekonomian Papua Barat

            Pembangunan pada dasarnya merupakan rangkaian upaya dan proses perbaikan yang terencana, terpadu, bertahap dan berkesinambungan dalam berbagai bidang. Pembangunan dimaksudkan untuk menciptakan kualitas hidup manusia dengan pemanfaatan seluruh sumber daya yang ada secara optimal. Dengan demikian maka akan tercapai tingkat kemakmuran atau kesejahteraan masyarakat di suatu wilayah. Dalam mencapai kesejahteraan dan kemakmuran tersebut, diperlukan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Salah satu indikator yang dapat digunakan untuk mengukur kinerja perekonomian suatu wilayah pada suatu periode tertentu adalah Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).
            Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan salah satu indikator pertumbuhan ekonomi suatu negara/wilayah/daerah. Pertumbuhan tersebut dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya infrastruktur ekonomi. PDRB adalah jumlah nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit ekonomi. PDRB dihitung dengan menggunakan atas dasar harga berlaku dan konstan. Untuk PDRB atas dasar harga berlaku menggambarkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung dengan menggunakan harga pada setiap tahun, sedangkan PDRB atas dasar harga konstan menunjukan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga pada satu tahun tertentu sebagai tahun dasar penghitungannya. PDRB atas dasar harga berlaku dapat digunakan untuk melihat pergeseran struktur ekonomi, sedangkan harga konstan untuk mengetahui pertumbuhan ekonomi dari tahun ke tahun. Dengan demikian, PDRB merupakan indikator untuk mengatur sampai sejauh mana keberhasilan pemerintah dalam memanfaatkan sumber daya yang ada, dan dapat digunakan sebagai perencanaan dan pengambilan keputusan. Dalam PDRB yang perlu diperhatikan adalah transaksi ekonomi yang terjadi di wilayah domestik suatu daerah tidak memperhatikan apakah transaksi dilakukan oleh masyarakat (residen) dari daerah tersebut atau masyarakat lain (non-residen).
            Ada beberapa komponen yang penting dalam penghitungan PDRB. Komponen-komponen tersebut, yaitu (1) Produk Domestik: Semua barang dan jasa sebagai hasil dari kegiatan-kegiatan ekonomi yang beroperasi di wilayah domestik, tanpa memperhatikan apakah faktor produksinya berasal dari atau dimiliki oleh penduduk daerah tersebut, merupakan produk domestik daerah yang bersangkutan; (2) Residen dan Non-Residen: Unit institusi yang mencakup penduduk/rumah tangga, perusahaan, pemerintah lembaga non-profit, dikatakan sebagai residen bila mempunyai/melakukan kegiatan ekonomi di suatu wilayah; (3) Biaya faktor dan harga pasar; (4) Penyusutan ialah nilai susutnya (ausnya) barang-barang modal yang terjadi selama barang-barang modal tersebut ikut serta dalam proses produksi. Kekurangan dalam penghitungan PDRB adalah tidak memperhitungkan asal faktor produksi padahal sebagian dari faktor produksi yang digunakan dalam kegiatan produksi di suatu daerah berasal dari daerah lain atau dari luar negeri, demikian juga sebaliknya faktor produksi yang dimiliki oleh penduduk daerah tersebut ikut serta dalam proses produksi di daerah lain atau di luar negeri. Hal ini menyebabkan nilai produk domestik yang timbul di suatu daerah tidak sama dengan pendapatan yang diterima penduduk daerah tersebut. Dengan adanya arus pendapatan yang mengalir antar daerah (termasuk juga dari dan ke luar negeri) yang pada umumnya berupa upah/gaji, bunga, deviden dan keuntungan maka timbul perbedaan antara Produk Domestik dan Produk Regional.
              Produk Regional adalah Produk Domestik ditambah dengan pendapatan yang diterima dari luar daerah/negeri dikurangi dengan pendapatan yang dibayarkan keluar daerah/negeri tersebut. Akan tetapi untuk mendapatkan angka-angka tentang pendapatan yang mengalir keluar dan masuk ke suatu daerah (yang secara nasional dapat diperoleh dari neraca pembayaran luar negeri) masih sangat sulit saat ini, hingga Produk Regional ini belum dapat dihitung. Untuk sementara dalam perhitungan ini Produk Regional dianggap sama dengan “Produk Domestik Regional Netto (PDRN) Atas Dasar Biaya Faktor”. Ada hal yang perlu diperhatikan lagi yaitu konsep biaya faktor dengan harga pasar. Ada perbedaan mendasar antara keduanya karena adanya pajak tidak langsung yang dipungut oleh pemerintah dan subsidi yang diberikan oleh pemerintah kepada unit-unit produksi. Pajak tidak langsung yang dibayar oleh perusahaan terdiri dari iuran wajib ke pemerintah yang diberlakukan sebagai biaya untuk kegiatan produksi. Pajak tidak langsung ini termasuk segala jenis pajak yang dikenakan atas kegiatan produksi, penjualan, pembelian atau penggunaan barang dan jasa oleh perusahaan. Suatu perusahaan/usaha dapat membayar pajak tidak langsung kepada Pemerintah Daerah maupun ke Pemerintah Pusat. Pajak Tidak Langsung ini meliputi pajak penjualan, bea ekspor, cukai dan lain-lain pajak, kecuali pajak pendapatan dan pajak perseorangan. Pajak tidak langsung dan subsidi mempunyai pengaruh terhadap harga barang-barang. Pajak berpengaruh menaikkan harga sedangkan subsidi menurunkan harga. Pajak tidak langsung neto diperoleh dari pajak tidak langsung dikurangi subsidi. Produk Domestik Regional Netto Atas Dasar Harga Pasar dikurangi pajak tidak langsung neto, hasilnya adalah Produk Domestik Regional Neto Atas Dasar Biaya Faktor.
           Dalam perekonomian Papua Barat, jika ditinjau dari nilai PDRB selama tahun 2006-2011 telah menunjukkan perkembangan yang menggembirakan terutama dengan beroperasinya gas alam yang diproduksi oleh LNG Tangguh di Kabupaten Teluk Bintuni. Bahkan PDRB Papua Barat mencatat pertumbuhan ekonomi yang luar biasa pada tahun 2011, yaitu sebesar 27,22 persen. Sungguh kemajuan yang luar biasa untuk provinsi yang terbilang masih baru atau baru “seumur jagung”. Namun pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak serta merta mendorong penurunan kemiskinan dan tingkat pengangguran di Papua Barat ke level terendah. Bahkan banyak kalangan yang terkesan “mencemooh” pertumbuhan ekonomi yang dinilai terlalu tinggi dan hanya sekedar “angka” saja. Masyarakat lebih terpaku pada kondisi riil sehingga cenderung memvonis keberadaan PDRB yang melahirkan angka “pertumbuhan ekonomi” sebagai sesuatu yang dianggap hanya sekedar “angka di atas kertas”. Padahal diperlukan pemahaman yang mendalam mengenai esensi dari nilai PDRB dan pertumbuhan ekonomi. Untuk menghindarkan penafsiran yang salah maka pemahaman atas konsep dan definisi yang digunakan sangat diperlukan. Pada dasarnya Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) adalah jumlah nilai tambah bruto (gross value added) yang timbul dari seluruh sektor perekonomian di suatu wilayah. Nilai tambah adalah nilai yang ditambahkan dari kombinasi faktor produksi dan bahan baku dalam proses produksi. Penghitungan nilai tambah adalah nilai produksi (output) dikurangi biaya antara. Nilai tambah bruto di sini mencakup komponen-komponen pendapatan faktor (upah dan gaji, bunga, sewa tanah dan keuntungan), penyusutan dan pajak tidak langsung neto. Bila PDRB dibagi jumlah penduduk pertengahan tahun di daerah tersebut maka diperoleh PDRB per kapita. PDRB per kapita berbeda konsepnya dengan pendapatan regional per kapita karena dalam PDRB per kapita masih terdapat unsur penyusutan dan pajak. Sementara dalam pendapatan regional telah dikurangi dengan pendapatan yang mengalir ke luar dan ditambah dengan pendapatan yang mengalir ke dalam. Hasilnya merupakan Produk Regional Neto yaitu jumlah pendapatan yang benar-benar diterima oleh penduduk yang tinggal di daerah tersebut. Produk Regional Neto inilah yang merupakan Pendapatan Regional. Jika pendapatan regional dibagi jumlah penduduk yang tinggal di daerah itu, maka akan dihasilkan suatu Pendapatan Per kapita. Pendapatan per kapita inilah yang dapat dijadikan ukuran suatu kemakmuran penduduk di daerah tersebut. Sehingga ukuran kemakmuran bukanlah “pertumbuhan ekonomi” yang tinggi karena perlu dicermati sektor-sektor mana dalam PDRB yang berdampak langsung terhadap hajat hidup orang banyak. Perlu diperhatikan juga apakah sektor yang “tumbuh” tersebut bersifat padat karya atau padat modal.                        Dalam PDRB Papua Barat, yang menunjukkan pertumbuhan ekonomi tinggi dan secara sgnifikan mendorong kegiatan perekonomian Papua Barat adalah sektor industri pengolahan yang bahkan menyumbang sebesar 51,67 persen, yang artinya dominan menentukan pertumbuhan ekonomi. Dominasi sektor ini disebabkan pertumbuhan ekonomi pada subsektor migas terutama pengolahan gas alam cair yang tumbuh luar biasa hingga mencapai lebih dari 50 persen. Padahal tenaga kerja yang diserap oleh subsektor ini memiliki proporsi yang lebih rendah daripada tenaga kerja di sektor pertanian. Maka tidak mengherankan, walaupun pertumbuhan ekonomi Papua Barat terbilang fantastis, namun jumlah tenaga kerja yang diserap oleh sektor industri pengolahan migas yang merupakan penyangga utama perekonomian Papua Barat selama 3 tahun terakhir (tahun 2009-2011) masih jauh lebih rendah daripada sektor pertanian. Setiap tahun nilai PDRB terus meningkat, artinya jumlah barang dan jasa yang dihasilkan oleh penduduk Papua Barat mengalami peningkatan. Namun memprihatinkan bahwa sekalipun pertumbuhan ekonomi digenjot hingga mencapai level yang tergolong “tinggi” tapi pada kenyataannya kemakmuran akibat pertumbuhan tersebut hanya dinikmati unit ekonomi kelas “kakap”. Faktanya masyarakat ekonomi bawah dan menengah tidak menikmati dampak dari pertumbuhan tersebut bahkan hanya sekedar mendapatkan “percikan-percikan” saja tidak. Seharusnya bukan nilai “PDRB” yang sepatutnya “dicemooh”, karena berdasarkan teorinya, PDRB dihitung dengan sedapat mungkin mendekati “aktivitas ekonomi” yang terukur. Namun perlu dipahami esensi dari nilai PDRB atau pertumbuhan ekonomi tersebut agar tidak terjadi penafsiran yang absolut bahwa ada rekayasa “nilai” yang tidak mencerminkan kenyataan di lapangan. Dengan segala kekurangannya, PDRB digunakan untuk mengukur dan menggambarkan “realitas” perekonomian yang berlangsung di suatu daerah dengan “tools” berupa data dan pendekatan untuk mengestimasi nilai dari “perekonomian” tersebut. Seperti ada istilahnya “sesempurna apa pun metode atau cara pengukuran yang digunakan tetap saja ada kelemahannya”. Untuk itu, perlu ada pemahaman konseptual yang tidak bersifat “spasial” agar tidak terjadi persepsi yang “misleading” atau perdebatan mengenai makna PDRB. Karena esensi dari “kemakmuran ekonomi” berkaitan dengan banyak aspek, bukan hanya diukur dari “pertumbuhan ekonomi” saja.

Senja di Kaimana

Perjalanan ini begitu melelahkan. Rasanya sekujur tubuhku diserang penat yang tak henti. Ingin rasanya aku merebahkan diri sesampainya di sana. Pikiranku seolah terkuras habis. Kosong. Tak kuduga perjalanan panjang ini terasa menyiksa. Lamunanku melayang ke masa tujuh bulan yang lalu. Saat itu keyakinanku goyah. Pendirianku runtuh sekejap. Tak kuduga Mami akan menelepon dan melontarkan permintaan yang seketika menyesakkan dadaku. “Apa tidak bisa kamu kembali ke Jakarta?Kamu harus berhenti menemuinya, Ditha.” Oh, astaga. Apa Mami benar-benar tak risau dengan anak perempuannya yang melajang?Apa ada yang lebih berharga daripada lamaran seorang laki-laki pada perempuan yang lebih sibuk melewati hari-harinya dalam dunianya? “Mami....”Lidahku tercekat. Seolah-olah ada yang menyumbat kerongkonganku. “Mami tidak akan keberatan kalau kalian hanya berteman. Tapi kalau sudah melangkah serius, lebih baik putuskan saja. Mami tidak akan menyetujui dia menjadi pasanganmu, Ditha.” Entah aku harus menjawabnya dengan amarah, atau lirihan. Hatiku mendadak sesak oleh kecewa. Aku tak mengharapkan reaksi Mami seperti itu. Suaranya tegas meminta. Sesuatu yang dulu dengan senang hati akan kuturuti. Tapi, ini sudah melampaui kesadaranku. Kenangan itu menghempasku keras. Tak terasa, tak dipaksa, air mata meleleh di pipiku. Aku memalingkan muka ke arah jendela agar tak seorangpun di sebelahku yang menyadari kegalauan yang melandaku. Latar langit begitu putih. Tampak gumpalan awan yang menghiasi horizon. Suara pramugari menyentak lamunanku yang mengembara. Tak lama lagi pesawat akan lepas landas di bandara Utarum, Kaimana. Aku menggeleng pelan. Entah mengapa aku menyesali keputusanku. Aku seharusnya membatalkannya sepuluh jam yang lalu. Oh, astaga. Aku benar-benar merindukan sosoknya. Kepergianku ke Jakarta tak mampu menghapus bayangannya. Deru pesawat bergemuruh. Ada sedikit guncangan, namun bukan kepanikan yang menyergapku. Malah ketakutan untuk keputusan yang kuambil tanpa pikir panjang yang menggangguku. Pesawat melaju mulus di landasan hingga pelan-pelan berhenti pada suatu titik. Aku terpaku. Nyaris sekujur tubuhku gemetaran. Mungkin tak seharusnya aku menginjakkan kaki di tempat ini. “Maaf, Mbak.”Suara pramugari mengagetkanku. Pelan-pelan aku menarik napas. Pramugari itu tersenyum. “Anda tidak apa-apa?” “Oh.”Aku menatapnya linglung. Lalu kualihkan tatapanku ke sekeliling. Seisi kabin nyaris kosong. Rupanya aku terlalu sibuk berkelana dengan pikiranku. Pramugari itu melempar senyum menenangkan. Aku mengembuskan napas. Kalah. Hatiku begitu lemah hingga tak mampu memutuskan pilihan yang tepat. Aku melangkah lunglai. Udara segar menyambutku. Tapi yang kurasakan justru kedinginan yang menusuk hatiku. Bandara ini begitu kecil, namun sekelilingnya menyajikan pemandangan alami yang serba hijau. Baru kali ini aku bersentuhan dengan alam yang tenang. Setengah bingung, aku membuntuti langkah orang-orang yang tersisa. Mereka berjalan ke sebuah gedung. Aku mengedarkan pandangan, menjelajahi sekitarku. Benar-benar menenangkan. “Dithaaaa, Dithaaaaa.....”Seseorang memanggil keras namaku. Terasa familiar. Aku pun melirik ke sana kemari. Tak perlu waktu lama untuk menyadari siapa yang memanggilku. Wajah itu begitu ceria dengan senyum hangat yang akrab. Di sebelahnya berdiri seorang laki-laki jangkung, kurus dan berkulit cokelat. Rika, sepupuku memelukku gembira. Seolah-olah aku telah lama menghilang dari pandangannya. Aku membalasnya dengan canggung. Padahal tujuh bulan lalu aku masih tinggal di kota ini. “Oh, gimana perjalanannya?Pasti kamu capek ya. Maaf, seharusnya kamu tidak perlu repot-repot datang. Tapi aku mau kamu hadir di pernikahanku nanti. Mama sudah merecokiku terus soal bridemaids.” Untuk pertama kalinya aku tersenyum. Rika memang selalu memancarkan kehangatan. Dia menepis semua keraguanku dengan sambutannya yang luar biasa. “Sayang, sudah to. Jangan terlalu bicara banyak. Dia pasti su lelah.” “Eh iya. Ditha, kenalkan calon suamiku, Daniel.” Aku tersenyum dan membalas uluran tangan Daniel yang terasa kasar namun mengalirkan kehangatan. Rika menyambar lenganku dan menarikku pergi. Daniel dengan sopan menawarkan diri untuk membawa koperku. Laki-laki itu menyunggingkan senyum sekilas, namun mampu mencairkan kekakuan antara kami. Kota Kaimana lebih sepi bila dibandingkan Jakarta. Dominasi pepohonan dan pegunungan menghiasi wajah kota itu. Wajah-wajah asing bertebaran, namun suasana penuh akrab begitu terasa. Aku selalu mengagumi setiap sudut kota yang menyajikan pemandangan yang sangat berbeda dengan Jakarta yang penat dan sesak. Daniel, pacar Rika sepertinya sengaja mengemudikan mobil perlahan hingga aku memuaskan nostalgia keindahan Kaimana. Tiba di rumah, Tante Inggrid dan Om Edi memelukku hangat. Tidak ada yang berubah. Rumah mungil dengan kesan hangat yang hampir memancar di setiap sudut. Interior rumah itu begitu sederhana, didominasi furnitur dan warna-warna alam seperti coklat, hijau dan biru. Rika membawaku ke kamar yang akan kutempati. Aku masih terpesona dengan kamar dengan pemandangan langsung kehijauan pepohonan. Ornamen kayu begitu dominan dengan perabotan seperlunya. Rasanya sudah lama aku merindukan kamar ini. Rika memperkenalkan para cewek yang menjadi pengiring pernikahannya. Beberapa sudah kukenal. Aku sempat tinggal dan bekerja di Kaimana dua tahun sebagai tenaga honor administrasi di rumah sakit. Meski sibuk dengan persiapan pernikahannya, Rika berusaha keras agar aku tidak merasa kesepian. Kehangatannya benar-benar membuatku merasa bersalah. Tak seharusnya aku merepotkannya. Aku nyaris tak berpikir saat dia meneleponku untuk memintaku mendampinginya dalam pernikahan sakral dengan Daniel. Mereka telah berpacaran tiga tahun. Saat itu, otakku jenuh dengan pekerjaan. Belum lagi sosok seseorang menyita seisi pikiran dan hatiku. Aku berjuang keras menahan perih yang menekan dada. Duniaku terasa sunyi. Tak ada lagi telepon penuh rindu setiap malam. Atau senyuman penuh kehangatan yang menyambutku. Aku benar-benar tak mampu menghapus sosoknya yang begitu melekat di hatiku. Susah payah akhirnya aku memutuskan pulang ke Jakarta tujuh bulan lalu. Entah sudah berjuta-juta kali upayaku untuk meraih sosoknya. Namun dia seolah mengabaikan kecemasanku. Dia memilih menjauh dengan sejuta alasan. Aku berusaha memberinya ruang. Berharap dia akan lelah dengan jarak di antara kami. Aku menunggu, menunggu dan terus menunggu dengan harapan yang makin membuncah. Entah mengapa penantian terasa lebih buruk daripada sikap dinginnya. “Ditaaa...”Lamunanku terputus. Aku terhempas ke masa kini. Rika menatapku dengan cemas. Aku tersadar kalau saat ini kami duduk dan di depan kami tersaji menu makan malam. “Kamu kenapa?”Tanya Rika terdengar lebih cemas. Mungkin reaksi bisuku memancing penasarannya. Orangtuanya dan kerabat dekat kami menatap penuh tanya. Aku tersenyum kecil lalu menggeleng pelan. “Tidak apa-apa. Mungkin hanya capek karena perjalanan jauh.” Rika memandang dengan tatapan penuh tanya. Sinar matanya masih terpancar tak percaya. Aku menyunggingkan senyum menenangkan. Om Doni mengalihkan perhatian Rika. Meski aku merasakan dia masih melirik terus dengan tatapan yang ingin kuhindari. Selama hampir lima hari menikmati udara segar dengan pemandangan kota di Kaimana, aku mulai resah. Ketakutanku makin nyata. Rasanya menyesakkan. Meski kehangatan Rika dan keluarganya terasa menyenangkan, namun aku masih tak mampu menghapus bayangan seseorang. Kata-kata Mami kembali menghantuiku. Suaranya yang menolak tegas kehadiran seseorang yang bermakna bagi hidupku yang membosankan. Terasa bagai pisau menghujam hatiku bertubi-tubi. “Ditha, tolong hentikan hubungan kalian. Percayalah sayang, dia akan menyakiti hatimu. Perasaan Mami tidak nyaman dan Mami tidak suka dia.” Aku merintih letih. Pernah aku membayangkan bayangannya memudar seiring waktu. Namun justru kerinduan menyerangku. Aku tak mampu membendung kepedihan yang perlahan mengurungku. Mami benar, tak seharusnya aku membiarkannya menembus bahkan menggapai hatiku. Aku menyesali sekaligus mensyukurinya. Mungkin otakku sudah korslet total. Susah payah aku membentengi diriku agar tidak terjerumus dengan sosoknya. Namun belakangan ini sosoknya makin merenggut kesadaranku. Tepukan pelan dan panggilan lembut menyentakku. Rika telah berdiri di sebelah dengan senyum manisnya. Matanya memancarkan sinar kecemasan. “Kamu tidak apa-apa, Dit?Kamu selalu melamun. Ada apa?” Aku memaksakan diri tersenyum. Rika menggenggam tanganku. Terasa hangat menjalari sekujur tubuhku. Aku baru menyadari sore mulai beranjak. “Tante menelepon, menanyakan apa kamu baik-baik saja. Aku bilang kamu tidak apa-apa. Tapi kelihatannya Tante mengkhawatirkan kamu. Tante meminta tolong padaku untuk menemanimu termasuk mendengarkan kalau kamu ingin curhat.” “Kapan Mami datang ke sini?” “Paling lambat lusa, sehari sebelum pernikahanku. Tante kelihatan cemas kalau kamu nanti ketemu sama …” Aku menggigit bibir. Rika terdiam. Dia menyadari sinar keresahan yang terpancar di setiap inci tubuhku. Kadang-kadang, aku bersyukur dia amat memahamiku. Aku masih enggan mengungkapkan keresahan yang seakan meracuniku hari demi hari. “Dit, besok kita pergi ke pantai ya. Kamu masih ingat nggak, kalau kita lagi banyak pikiran, kita pasti ke sana memandangi senja.” “Tidak usah, Ka. Kamu kan sudah capek mengurus persiapan pernikahanmu.” Rika berkacak pinggang dengan tatapan pura-pura marah. “Oh ayolah, Dit. Kamu harus menikmati keindahan Kaimana. Nanti kalau sudah di Jakarta, kamu harus cerita sama teman sekantormu.” Aku membisu. Ragu. Sebenarnya aku tak ingin mengacaukan cutiku, tapi perasaanku masih berantakan. Tak mampu untuk menjalani hari tanpa kesadaran penuh. Rika menatapku dengan sinar mata memelas. Aku mengerang. Dia menyatukan kedua telapak tangannya sambil memandangku penuh harap. Oh, sudahlah. Sejak dulu aku tahu dia keras kepala. Percuma mendebatnya. Aku pun mengangguk pasrah. Untuk kesekian kalinya, aku mendengarkan suara operator yang menyambut dari seberang. Entah sudah keberapa ratus kalinya suara itu bergaung di telingaku. Sekali lagi membunuh harapan yang membuncah di hatiku. Sepertinya dia mengganti nomornya. “Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Silakan mencoba beberapa saat lagi.” Mengapa saat itu dia seolah menguji perasaanku?Padahal aku tak pernah menyerah pada hubungan kami. Meski peluangnya tipis untuk menyatukan kami dalam pernikahan. Apakah kata-kataku pada pertemuan terakhir kami telah menyakiti hatinya?Hingga dia butuh ruang untuk memikirkan kebersamaan kami?Atau dia ingin memberiku rasa sakit yang serupa? “Al, aku tahu pasti sulit menghadapi penolakan keluarga, terutama Mami. Sampai kapan pun dia tidak akan setuju dengan rencana kita. Tapi kita tidak boleh menyerah.” Air mata yang sedari tadi kutahan akhirnya meleleh di pipi. Oh, kata-kata itu pasti telah menohok hatinya. Padahal ketika itu dia ingin pamit, meninggalkanku sejenak untuk pulang kampung ke Tana Toraja. Keluarga besar di sana akan mengadakan pesta pemakaman Neneknya yang meninggal dua tahun lalu. Kehadirannya sangat diharapkan sejak dia merantau dan tak pernah kembali selama lima tahun. Setelah mendengar kata-kataku, dia sempat mengeluh marah namun kemarahannya perlahan mereda setelah menyaksikan reaksiku yang tampak terluka. Dia pun menarikku ke dalam pelukannya, memberiku dekapan yang menghangatkan. Kini sosoknya telah menjauh. Telah ribuan SMS kukirimkan ke nomor ponselnya, namun tak ada balasan. Bahkan kemudian saat aku mengirimkan SMS lagi, semuanya macet di udara. Begitupun dengan jutaan teleponku, yang semuanya berakhir dalam boks pesan. Aku terhempas dalam kekecewaan campur kesedihan. Rasanya begitu menyakitkan saat sosoknya pelan-pelan menghilang. Aku merasa kehilangan yang teramat perih. Ketakutanku telah menjelma nyata. Rasanya dia telah memilih menghapus sosok hingga bayang-bayangku. Bahkan ketika aku meninggalkan Kaimana, dia belum kembali. Sebuah tepukan lembut menyadarkanku. Aku terhempas ke masa kini, di suatu pantai dengan untaian pasir putih dan debur ombak yang lembut mengalun. Aku menoleh ke sebelah. Rika telah berdiri dengan senyumannya yang hangat. Dia melingkarkan lengannya di bahuku dan berbisik pelan. “Tunggu ya Dit. Aku berharap senja hari ini bisa menghapus semua kesedihan dan derita yang kamu tanggung.” Mataku berkaca-kaca. Rika memberiku tatapan penuh makna. Lama kami saling bertatapan dalam diam. Oh, tak sadarkah dia. Sejak kami kecil hingga kini, bahkan sampai jarak dan waktu memisahkan kami, dia selalu memberiku kehangatan yang melimpah ruah di hatiku. Dia menyayangiku lebih dari sekedar sepupu. Bahkan dia meneteskan air mata saat aku memilih meninggalkan Kaimana. “Oh, cepat lihat ke pantai, Dit.” Dia tersadar sesuatu. Aku pun melirik ke arah pantai. Aku terpaku. Seakan-akan aku tersedot dalam dunia asing yang indah. Warna kemerahan senja yang menghiasi cakrawala membuatku kehilangan kata-kata. Perlahan-lahan mentari turun seakan ingin tenggelam dalam pesona pantai yang membiaskan rona senja. Aku kehilangan kata-kata. Tak mampu melukiskan perasaan yang membanjiri hatiku. “Tetap indah ya kan, Dit. Sepertinya senja ingin menyedot semua kesedihan kita. Kuharap senja sudah menghapus derita di hatimu.” Air mataku panas. Dadaku terasa sesak. Seolah ada yang menghimpitnya hingga aku tercekik. Napasmu memburu. Tanpa mampu kutahan, kesedihan itu memaksaku menyerah. Aku kalah. Air mata perlahan-lahan menetes di pipiku. Aku terguncang. Aku pun menangis keras-keras. Pertahananku jebol. Susah payah aku memendamnya, namun kini tak tertahankan lagi. Aku sungguh mencintainya. Begitu mencintainya sampai perasaanku terluka terlalu dalam. Dia tidak akan kembali. Dia telah memutuskannya. Dia bak senja yang pelan-pelan akan menghilang dibalik gelombang pantai. Dia hanya akan memancarkan kehangatan sesaat sebelum sosoknya lenyap. Aku takkan bisa meraihnya. Dari kejauhan, senja itu telah memudar. Menyisakan setitik cahaya hingga lenyap sepenuhnya. Rika telah memelukku dengan lembut. Tanpa kata namun penuh makna. “Dia akan menikah, Dit.” Aku terguncang. Melepas pelukan Rika. Berusaha mencari kebohongan dari matanya. “Sabtu ini dia akan menikah di Tana Toraja.” “Kok kamu tahu?Itu pasti cuma gossip.”Sangkalku keras. Rika berteriak frustasi. “Sampai kapan kamu akan terus keras kepala, Dit?Dia itu tidak sungguh-sungguh mencintai kamu. Aku bisa merasakannya. Kalau tidak, kenapa dia tidak berjuang mempertahankanmu?Kalian sudah berencana menikah tujuh bulan lalu. Tapi sekarang apa.” Air mataku tumpah. Aku berjongkok sambil menumpahkan semuanya. Harapanku kosong. Selama dua puluh delapan tahun aku hidup di dunia ini, untuk pertama kalinya aku merasa hampa. Rika ikut berjongkok dan memelukku penuh sayang. “Kamu pantas mendapatkan seseorang yang lebih baik, Dit. Kamu pasti akan menemukan kebahagiaan sama seperti aku.” Aku terus menangis. Menangisi cinta yang telah menjauh. Senja itu perlahan-lahan tenggelam.

Sunday, January 10, 2016

Love Raphsody

Aku akan menikah tiga minggu lagi. Sungguh penantian panjang yang melelahkan. Namun aku akan bersabar sampai momen membahagiakan itu tiba. Calon istriku adalah cewek paling aneh dan menarik yang pernah kukenal. Tentu saja dia juga wanita tercantik dimataku. Tedi selalu menertawakanku setiap aku memuji-mujinya. Debbie memang unik. Jujur saja, dia tak secantik mantan-mantanku, namun seolah ada magnet dalam dirinya yang menarikku. Dia ramah, ekspresif, apa adanya dan menyenangkan.
Pertemuan pertama kami terjadi 3 tahun lalu, saat pertunangan sepupuku, Tedi dengan pacarnya. Awalnya aku menolak hadir. Aku baru saja putus dengan Nadya. Masalahnya sepele. Nadya menganggap aku terlalu cuek dan lebih sering nongkrong dengan teman-temanku daripada memerhatikannya. Susah payah aku membujuknya, namun dia sudah lelah dengan hubungan satu arah. Akhirnya kami pun putus.
Sepanjang pesta itu, aku enggan meladeni cewek yang berusaha menarik perhatianku. Tedi mati-matian menjodohkanku dengan semua cewek kenalannya. Kami sudah bersahabat sepuluh tahun sejak SMP, jadi aku memakluminya.
Di sana, saat aku pura-pura ke toilet (aku menghindar dari incaran para cewek jomblo-sungguh menyebalkan), sosok Debbie tampak berdebat dengan Lala, sahabatnya sejak TK. Tadinya aku cuek saat melintas di depan mereka yang berdiri di sudut ruangan, namun langkahku terhenti mendengar ucapan Debbie. Susah payah aku menahan tawa.
“Ya ampun, Deb. Susah payah gue kenalkan elo sama sepupu gue yang super tampan, elo malah sibuk makan di meja prasmanan.”
“Habis makanannya enak-enak. Gue susah menahan diri kalo di depan gue ada makanan. Tenang saja. Sepupu elo nggak menganggur kok. Tadi ada dua cewek yang mengajaknya kenalan.”
Lala menahan gemas. Dia menjitak jidat Debbie dengan semangat menggelora. Debbie meringis kecut. “Elo itu pintar, tapi nggak peka. Masa elo malah memilih makanan daripada cowok sih?Mana ada cewek nggak waras kayak elo.”
Debbie manyun. Bibirnya lalu meliuk lucu. Aku benar-benar berusaha tak meledakkan tawa. Tampangnya gabungan malas, sebal, dan kesal.
“Elo sih ngenalin gue dengan cowok cakep bertampang playboy. Maaf kalo gue jujur. Dia bisa mendapatkan cewek mana pun yang dia mau. Gue nggak mau makan hati. Lebih baik gue mundur sebelum itu terjadi. Sepupu loe nggak rugi, kok. Justru gue yang rugi karena kehilangan kesempatan mencicipi makanan enak.”
“Mencicipi makanan apaan?Dimata gue kelihatan elo makan dengan rakus.”
“Berarti elo salah lihat. Mungkin seharusnya elo periksa mata ke dokter. Siapa tahu minus. Gue cuma nyomot doank kok.”
Ampun deh!Tawaku meledak. Sumpah!Aku berjuang keras menahannya. Ucapannya itu sungguh menggelitik. Keduanya menoleh. Tatapan mereka super heran.
Itulah awal pertemuan kami. Tadinya kupikir kami tidak akan bertemu lagi. Ternyata takdir mempertemukan kami lagi di pesta ulangtahun Arya, sepupu teman SMA-ku. Kebetulan atau ini namanya takdir – entahlah - kakak Debbie adalah pacar Arya. Maka, tanpa buang waktu, aku mendekati Debbie untuk mengajaknya ngobrol dengan modus menanyakan nomor ponselnya.  
Awalnya dia keberatan. Alasannya membuatku tergelak. Sungguh. Itu alasan paling konyol yang pernah kudengar.
“Loe serius mau minta nomor ponsel gue?”
Aku tersenyum mengangguk. Debbie menghela napas berat. Rautnya seolah-olah mengatakan,”Nanti-elo-akan-menyesal-seumur hidup”.
“Memangnya kenapa?Tidak boleh, ya?Atau ada yang marah?”
“Bukannya begitu. Elo kan belum tentu menelepon gue. Daripada nomor gue mubazir dalam phonebook elo, lebih baik elo simpan nomor-nomor yang sudah pasti terpakai.”
Oke, wajahku jadi bengong sejadi-jadinya. Percayakah kalian, bahwa nomor dialah yang pertama kali kuhubungi setelah aku meninggalkan pesta ultah Arya. Reaksi Debbie?Tentu saja kaget setengah mati. Tapi sumpah, kata-kata pembuka yang terlontar dari bibirnya setelah ponsel tersambung dan aku mengucapkan hai adalah, “Maaf, nomor anda tidak tercetak di phonebook saya. Jadi pasti anda salah sambung.”
Aku menganga takjub sebelum membalasnya. Entah mengapa, sejak mendengar kata-kata itu, mulai timbul desiran aneh di dadaku. Aku bertekad ingin mengenalnya lebih dekat. Maka mulailah aku gencar mendekatinya. Awalnya susah, apalagi dia tipe cuek dan selalu meragukan keseriusanku. Coba tebak, apa katanya saat aku mengajaknya kencan?
“Kencan?Dengan elo?”
Aku mengangguk antusias. Mata Debbie bersinar seolah tak percaya.
“Elo yakin?”
“Seratus persen. Memangnya kenapa?”
“Lebih baik jangan. Elo pasti menyesal. Lagipula elo kan bisa mengajak siapa saja. Yang ada juga gue yang rugi. Sepanjang jalan dengan elo, gue bisa dimusuhi cewek-cewek. Wajah elo kan kelewatan gantengnya.”
Astaga!Aku tak bisa menahan tawa. Perutku sampai sakit. Bisa-bisanya ada cewek seaneh dirinya. Bahkan kencan dengannya juga unik. Serba makanan dan mainan. Kami selalu berhenti di suatu tempat hanya untuk makan. Dan, jangan tertawa, ini benaran. Sungguh. Belum pernah aku menyaksikan seorang cewek yang porsi makannya super jumbo. Entah dia sengaja atau tidak membuatku il-fil. Aku justru makin penasaran.
Setelah 6 bulan - ya ampun - belum pernah selama itu aku menaklukkan hati cewek, akhirnya dia setuju berpacaran denganku tapi ada syarat dan ketentuan berlaku. Aku makin bengong saat dia menyodorkan surat perjanjian. Masa pacaran saja perlu kontrak?
“Aku maunya, nanti kalaupun putus, hubungan kita tetap baik. Aku malas bernasib seperti sepupu atau temanku. Setelah putus, mereka malah saling benci. Bayangkan saja, ada yang sampai menjelek-jelekkan pasangannya. Gila!Kemana rasa cinta mereka yang dulu bersemi indah itu?”
Sekali lagi aku tertawa terbahak-bahak. Entah sudah keberapa kalinya aku tertawa. Sepanjang bersamanya, aku sering tertawa. Dia itu polos atau apa?Seolah-olah dia berasal dari planet mana.
Setahun kebersamaan kami juga tidak mulus. Beberapa kali keriki-kerikil tajam berusaha menggoyahkan hubungan kami. Pernah dia cemburu karena ada cewek sekantorku yang terang-terangan suka padaku. Dia mengabaikanku beberapa hari. Aku berusaha membujuknya dengan menyodorkan sejuta alasan. Salahku juga sih memberi perhatian pada cewek itu, yang dianggapnya sebagai bentuk cinta dalam hati. Di kala lain, gantian aku yang marah. Dia sering menomorduakan aku dan lebih peduli pada sahabat-sahabatnya. Lucu juga. Kok aku malah cemburu sama wanita?
Ketika Debbie bertemu pertama kali dengan orangtuaku, aku sempat ketar-ketir. Namun kecemasan itu seketika mencair saat memandanginya akrab dengan orangtuaku. Mama dan Papa selalu sumringah bila Debbie muncul. Anehnya, cuma aku yang sering diacuhkannya. Dia malah sering melupakanku. Aku pernah curhat pada Lala, sahabatnya.
Lala malah terkikik geli. “Itu tandanya elo orang yang paling disayanginya lebih dari siapapun. Dari dulu sifatnya begitu. Mantan pacarnya memutuskan dia karena itu. Tahu nggak, dia mengalami kekosongan selama 2 bulan setelah diputusin.” Aku termangu, caranya aneh dalam mengungkapkan cinta.
Setiap perhatian kecil darinya membuat hatiku melonjak kegirangan. Dia tak pernah absen mengirim SMS setiap rindu menyergap hatiku, menitipkan bekal makan siang ke kantor melalui kurir, memberi kejutan pesta ultahku dan kenangan manis yang lain.
Tanpa terasa tiga tahun berlalu, aku menikmati setiap momen didekatnya. Keceriaannya, wajah cemberutnya, tangis bahagianya, kecemburuannya, semua itu terpahat di hatiku.
Ketika tiba saat aku melamarnya, aku susah payah merencanakannya seromantis adegan film-film. Lala membantuku menipunya agar mampir ke kantor. Tedi tampak girang menghias ruanganku dengan balon dan pernak-pernik. Dilla, kakak Debbie bersemangat membuat kue dan memasang lilin. Orangtuaku dan orangtua Debbie bahkan luar biasa bahagia dan menyemangatiku. Betapa aku bersyukur memiliki keluarga dan teman-teman yang selalu mendukung kami.
Reaksi Debbie?Dia terkejut sekaligus linglung. Dia meneteskan air mata haru sampai membuatku aku kelabakan.
“Davi Pratama, sebelum melamar, sebaiknya rundingkan dulu caranya denganku.”Katanya sambil terisak tanpa henti.
Aku tersenyum geli. Lalu merengkuhnya dalam dekapanku. Mana ada di dunia ini, dimana sang pria berunding dulu dengan sang wanita tentang cara melamar?Kalau begitu, untuk apa melamar?Sekalian saja tanya, mau pernikahan seperti apa.
Akhirnya, di sinilah aku. Aku berdiri sambil mengamati persiapan untuk pernikahanku. Hampir rampung. Aku tak menyangka kalau mempersiapkan pernikahan begitu luar biasa melelahkan. Orangtuaku dan orangtua Debbie berkeras ingin pernikahan yang tak terlupakan. Debbie setuju saja. Dia pernah berbisik pelan padaku setelah persiapan memasuki minggu kedua.
“Gila, kenapa sih pernikahan harus ribet dan melelahkan seperti ini?Tolol saja kalau ada orang yang memilih bercerai lalu menikah lagi. Apa mereka nggak capek?Mengulangi kerepotan pernikahan?”
Oke, aku cuma bisa tertawa. Dalam hati bertekad, aku tidak akan membuatnya mengulangi ritual pernikahan. Apalagi kalau sampai dia menikahi orang lain. Aku bergidik ngeri memikirkannya.
Tedi menepuk pundakku, membuyarkan lamunan yang membiusku. Rasanya aku sudah mengembara dari massa lalu, masa kini dan masa depan.
“Orang yang elo puja setengah mati sudah datang. Baru juga berpisah tiga hari, elo sudah kangen berat. Elo punya penyakit cinta akut.”
Aku tergelak kecil. Sudah tiga hari memang kami tak bertemu. Debbie mengunjungi neneknya di kampung halaman. Dia berkeras ingin memboyong neneknya ke Jakarta. Namun, justru dia seolah betah di sana, menghabiskan waktu sampai tiga hari. Aku terpaksa menelepon, mengingatkannya. Dia malah cengengesan.
“Maaf, Dav. Sekedar mengingat masa kecil dulu. Lumayan buat refreshing dari persiapan pernikahan.”
Yang benar saja. Dia memang selalu mengejutkanku dengan cara-cara di luar normal. Kadang aku merenung. Apa aku akan tahan kalau seumur hidup menghabiskan hari-hari bersamanya?Dengan segala tingkah lakunya?Atau kebiasaannya?Termasuk segala kekurangannya?Aku bisa saja mati tertawa. Atau malah suatu hari aku justru sebal dengan sifatnya yang unik?
Namun saat aku melirik sosoknya yang melintasi lantai ballroom itu, aku tertegun. Dia tampak lebih cantik dan segar. Keceriaan tak pernah lepas dari raut wajahnya. Aku meringis. Begitulah cinta. Tak peduli seaneh atau seunik apa pun pasanganmu, perasaan itu tetap terpatri dihatimu. Aku ingin lebih banyak lagi tertawa bersamanya. Melewatkan hari-hari sepanjang tahun sampai usia kami mendekati senja. Musik di hatiku mengalun merdu.
Dia mengulum senyum manis. Secercah sinar menyelimuti wajahnya. Menepis semua keraguan yang sempat mengusik hatiku. Aku tersenyum lebar membalasnya. Daripada sejuta kecemasan yang hinggap, ternyata keinginan untuk bersamanya jauh lebih menggelora. Toh selama ini, aku tahan-tahan saja dan malah nyaman dengan keanehannya.

Aku meraih tangannya setelah dia menghampiriku dan berdiri sambil menatap lurus mataku. Saat menggenggam kehangatan jemarinya, aku diam-diam berdoa untuk kebahagiaan kami selamanya. Tiga tahun berlalu, kami berhasil melewati masa-masa serba warna-warni. Masih ada masa depan yang menanti kami di sana. Karena aku mencintainya sepenuh hatiku. Dialah Love Raphsody-ku yang menggema di hatiku.