Showing posts with label blog. Show all posts
Showing posts with label blog. Show all posts
Monday, January 11, 2016
Senja di Kaimana
Perjalanan ini begitu melelahkan. Rasanya sekujur tubuhku diserang penat yang tak henti. Ingin rasanya aku merebahkan diri sesampainya di sana. Pikiranku seolah terkuras habis. Kosong. Tak kuduga perjalanan panjang ini terasa menyiksa.
Lamunanku melayang ke masa tujuh bulan yang lalu. Saat itu keyakinanku goyah. Pendirianku runtuh sekejap. Tak kuduga Mami akan menelepon dan melontarkan permintaan yang seketika menyesakkan dadaku.
“Apa tidak bisa kamu kembali ke Jakarta?Kamu harus berhenti menemuinya, Ditha.”
Oh, astaga. Apa Mami benar-benar tak risau dengan anak perempuannya yang melajang?Apa ada yang lebih berharga daripada lamaran seorang laki-laki pada perempuan yang lebih sibuk melewati hari-harinya dalam dunianya?
“Mami....”Lidahku tercekat. Seolah-olah ada yang menyumbat kerongkonganku.
“Mami tidak akan keberatan kalau kalian hanya berteman. Tapi kalau sudah melangkah serius, lebih baik putuskan saja. Mami tidak akan menyetujui dia menjadi pasanganmu, Ditha.”
Entah aku harus menjawabnya dengan amarah, atau lirihan. Hatiku mendadak sesak oleh kecewa. Aku tak mengharapkan reaksi Mami seperti itu. Suaranya tegas meminta. Sesuatu yang dulu dengan senang hati akan kuturuti. Tapi, ini sudah melampaui kesadaranku.
Kenangan itu menghempasku keras. Tak terasa, tak dipaksa, air mata meleleh di pipiku. Aku memalingkan muka ke arah jendela agar tak seorangpun di sebelahku yang menyadari kegalauan yang melandaku. Latar langit begitu putih. Tampak gumpalan awan yang menghiasi horizon.
Suara pramugari menyentak lamunanku yang mengembara. Tak lama lagi pesawat akan lepas landas di bandara Utarum, Kaimana. Aku menggeleng pelan. Entah mengapa aku menyesali keputusanku. Aku seharusnya membatalkannya sepuluh jam yang lalu. Oh, astaga. Aku benar-benar merindukan sosoknya. Kepergianku ke Jakarta tak mampu menghapus bayangannya.
Deru pesawat bergemuruh. Ada sedikit guncangan, namun bukan kepanikan yang menyergapku. Malah ketakutan untuk keputusan yang kuambil tanpa pikir panjang yang menggangguku.
Pesawat melaju mulus di landasan hingga pelan-pelan berhenti pada suatu titik. Aku terpaku. Nyaris sekujur tubuhku gemetaran. Mungkin tak seharusnya aku menginjakkan kaki di tempat ini.
“Maaf, Mbak.”Suara pramugari mengagetkanku. Pelan-pelan aku menarik napas.
Pramugari itu tersenyum. “Anda tidak apa-apa?”
“Oh.”Aku menatapnya linglung. Lalu kualihkan tatapanku ke sekeliling. Seisi kabin nyaris kosong. Rupanya aku terlalu sibuk berkelana dengan pikiranku.
Pramugari itu melempar senyum menenangkan. Aku mengembuskan napas. Kalah. Hatiku begitu lemah hingga tak mampu memutuskan pilihan yang tepat.
Aku melangkah lunglai. Udara segar menyambutku. Tapi yang kurasakan justru kedinginan yang menusuk hatiku. Bandara ini begitu kecil, namun sekelilingnya menyajikan pemandangan alami yang serba hijau. Baru kali ini aku bersentuhan dengan alam yang tenang.
Setengah bingung, aku membuntuti langkah orang-orang yang tersisa. Mereka berjalan ke sebuah gedung. Aku mengedarkan pandangan, menjelajahi sekitarku. Benar-benar menenangkan.
“Dithaaaa, Dithaaaaa.....”Seseorang memanggil keras namaku. Terasa familiar. Aku pun melirik ke sana kemari.
Tak perlu waktu lama untuk menyadari siapa yang memanggilku. Wajah itu begitu ceria dengan senyum hangat yang akrab. Di sebelahnya berdiri seorang laki-laki jangkung, kurus dan berkulit cokelat.
Rika, sepupuku memelukku gembira. Seolah-olah aku telah lama menghilang dari pandangannya. Aku membalasnya dengan canggung. Padahal tujuh bulan lalu aku masih tinggal di kota ini.
“Oh, gimana perjalanannya?Pasti kamu capek ya. Maaf, seharusnya kamu tidak perlu repot-repot datang. Tapi aku mau kamu hadir di pernikahanku nanti. Mama sudah merecokiku terus soal bridemaids.”
Untuk pertama kalinya aku tersenyum. Rika memang selalu memancarkan kehangatan. Dia menepis semua keraguanku dengan sambutannya yang luar biasa.
“Sayang, sudah to. Jangan terlalu bicara banyak. Dia pasti su lelah.”
“Eh iya. Ditha, kenalkan calon suamiku, Daniel.”
Aku tersenyum dan membalas uluran tangan Daniel yang terasa kasar namun mengalirkan kehangatan.
Rika menyambar lenganku dan menarikku pergi. Daniel dengan sopan menawarkan diri untuk membawa koperku. Laki-laki itu menyunggingkan senyum sekilas, namun mampu mencairkan kekakuan antara kami.
Kota Kaimana lebih sepi bila dibandingkan Jakarta. Dominasi pepohonan dan pegunungan menghiasi wajah kota itu. Wajah-wajah asing bertebaran, namun suasana penuh akrab begitu terasa. Aku selalu mengagumi setiap sudut kota yang menyajikan pemandangan yang sangat berbeda dengan Jakarta yang penat dan sesak. Daniel, pacar Rika sepertinya sengaja mengemudikan mobil perlahan hingga aku memuaskan nostalgia keindahan Kaimana.
Tiba di rumah, Tante Inggrid dan Om Edi memelukku hangat. Tidak ada yang berubah. Rumah mungil dengan kesan hangat yang hampir memancar di setiap sudut. Interior rumah itu begitu sederhana, didominasi furnitur dan warna-warna alam seperti coklat, hijau dan biru.
Rika membawaku ke kamar yang akan kutempati. Aku masih terpesona dengan kamar dengan pemandangan langsung kehijauan pepohonan. Ornamen kayu begitu dominan dengan perabotan seperlunya. Rasanya sudah lama aku merindukan kamar ini.
Rika memperkenalkan para cewek yang menjadi pengiring pernikahannya. Beberapa sudah kukenal. Aku sempat tinggal dan bekerja di Kaimana dua tahun sebagai tenaga honor administrasi di rumah sakit.
Meski sibuk dengan persiapan pernikahannya, Rika berusaha keras agar aku tidak merasa kesepian. Kehangatannya benar-benar membuatku merasa bersalah. Tak seharusnya aku merepotkannya. Aku nyaris tak berpikir saat dia meneleponku untuk memintaku mendampinginya dalam pernikahan sakral dengan Daniel. Mereka telah berpacaran tiga tahun. Saat itu, otakku jenuh dengan pekerjaan. Belum lagi sosok seseorang menyita seisi pikiran dan hatiku. Aku berjuang keras menahan perih yang menekan dada. Duniaku terasa sunyi. Tak ada lagi telepon penuh rindu setiap malam. Atau senyuman penuh kehangatan yang menyambutku. Aku benar-benar tak mampu menghapus sosoknya yang begitu melekat di hatiku. Susah payah akhirnya aku memutuskan pulang ke Jakarta tujuh bulan lalu.
Entah sudah berjuta-juta kali upayaku untuk meraih sosoknya. Namun dia seolah mengabaikan kecemasanku. Dia memilih menjauh dengan sejuta alasan. Aku berusaha memberinya ruang. Berharap dia akan lelah dengan jarak di antara kami. Aku menunggu, menunggu dan terus menunggu dengan harapan yang makin membuncah. Entah mengapa penantian terasa lebih buruk daripada sikap dinginnya.
“Ditaaa...”Lamunanku terputus.
Aku terhempas ke masa kini. Rika menatapku dengan cemas. Aku tersadar kalau saat ini kami duduk dan di depan kami tersaji menu makan malam.
“Kamu kenapa?”Tanya Rika terdengar lebih cemas. Mungkin reaksi bisuku memancing penasarannya. Orangtuanya dan kerabat dekat kami menatap penuh tanya.
Aku tersenyum kecil lalu menggeleng pelan. “Tidak apa-apa. Mungkin hanya capek karena perjalanan jauh.”
Rika memandang dengan tatapan penuh tanya. Sinar matanya masih terpancar tak percaya. Aku menyunggingkan senyum menenangkan. Om Doni mengalihkan perhatian Rika. Meski aku merasakan dia masih melirik terus dengan tatapan yang ingin kuhindari.
Selama hampir lima hari menikmati udara segar dengan pemandangan kota di Kaimana, aku mulai resah. Ketakutanku makin nyata. Rasanya menyesakkan. Meski kehangatan Rika dan keluarganya terasa menyenangkan, namun aku masih tak mampu menghapus bayangan seseorang. Kata-kata Mami kembali menghantuiku. Suaranya yang menolak tegas kehadiran seseorang yang bermakna bagi hidupku yang membosankan. Terasa bagai pisau menghujam hatiku bertubi-tubi.
“Ditha, tolong hentikan hubungan kalian. Percayalah sayang, dia akan menyakiti hatimu. Perasaan Mami tidak nyaman dan Mami tidak suka dia.”
Aku merintih letih. Pernah aku membayangkan bayangannya memudar seiring waktu. Namun justru kerinduan menyerangku. Aku tak mampu membendung kepedihan yang perlahan mengurungku. Mami benar, tak seharusnya aku membiarkannya menembus bahkan menggapai hatiku. Aku menyesali sekaligus mensyukurinya. Mungkin otakku sudah korslet total. Susah payah aku membentengi diriku agar tidak terjerumus dengan sosoknya. Namun belakangan ini sosoknya makin merenggut kesadaranku.
Tepukan pelan dan panggilan lembut menyentakku. Rika telah berdiri di sebelah dengan senyum manisnya. Matanya memancarkan sinar kecemasan.
“Kamu tidak apa-apa, Dit?Kamu selalu melamun. Ada apa?”
Aku memaksakan diri tersenyum. Rika menggenggam tanganku. Terasa hangat menjalari sekujur tubuhku. Aku baru menyadari sore mulai beranjak.
“Tante menelepon, menanyakan apa kamu baik-baik saja. Aku bilang kamu tidak apa-apa. Tapi kelihatannya Tante mengkhawatirkan kamu. Tante meminta tolong padaku untuk menemanimu termasuk mendengarkan kalau kamu ingin curhat.”
“Kapan Mami datang ke sini?”
“Paling lambat lusa, sehari sebelum pernikahanku. Tante kelihatan cemas kalau kamu nanti ketemu sama …”
Aku menggigit bibir. Rika terdiam. Dia menyadari sinar keresahan yang terpancar di setiap inci tubuhku. Kadang-kadang, aku bersyukur dia amat memahamiku. Aku masih enggan mengungkapkan keresahan yang seakan meracuniku hari demi hari.
“Dit, besok kita pergi ke pantai ya. Kamu masih ingat nggak, kalau kita lagi banyak pikiran, kita pasti ke sana memandangi senja.”
“Tidak usah, Ka. Kamu kan sudah capek mengurus persiapan pernikahanmu.”
Rika berkacak pinggang dengan tatapan pura-pura marah. “Oh ayolah, Dit. Kamu harus menikmati keindahan Kaimana. Nanti kalau sudah di Jakarta, kamu harus cerita sama teman sekantormu.”
Aku membisu. Ragu. Sebenarnya aku tak ingin mengacaukan cutiku, tapi perasaanku masih berantakan. Tak mampu untuk menjalani hari tanpa kesadaran penuh.
Rika menatapku dengan sinar mata memelas. Aku mengerang. Dia menyatukan kedua telapak tangannya sambil memandangku penuh harap. Oh, sudahlah. Sejak dulu aku tahu dia keras kepala. Percuma mendebatnya. Aku pun mengangguk pasrah.
Untuk kesekian kalinya, aku mendengarkan suara operator yang menyambut dari seberang. Entah sudah keberapa ratus kalinya suara itu bergaung di telingaku. Sekali lagi membunuh harapan yang membuncah di hatiku. Sepertinya dia mengganti nomornya.
“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Silakan mencoba beberapa saat lagi.”
Mengapa saat itu dia seolah menguji perasaanku?Padahal aku tak pernah menyerah pada hubungan kami. Meski peluangnya tipis untuk menyatukan kami dalam pernikahan. Apakah kata-kataku pada pertemuan terakhir kami telah menyakiti hatinya?Hingga dia butuh ruang untuk memikirkan kebersamaan kami?Atau dia ingin memberiku rasa sakit yang serupa?
“Al, aku tahu pasti sulit menghadapi penolakan keluarga, terutama Mami. Sampai kapan pun dia tidak akan setuju dengan rencana kita. Tapi kita tidak boleh menyerah.”
Air mata yang sedari tadi kutahan akhirnya meleleh di pipi. Oh, kata-kata itu pasti telah menohok hatinya. Padahal ketika itu dia ingin pamit, meninggalkanku sejenak untuk pulang kampung ke Tana Toraja. Keluarga besar di sana akan mengadakan pesta pemakaman Neneknya yang meninggal dua tahun lalu. Kehadirannya sangat diharapkan sejak dia merantau dan tak pernah kembali selama lima tahun.
Setelah mendengar kata-kataku, dia sempat mengeluh marah namun kemarahannya perlahan mereda setelah menyaksikan reaksiku yang tampak terluka. Dia pun menarikku ke dalam pelukannya, memberiku dekapan yang menghangatkan. Kini sosoknya telah menjauh. Telah ribuan SMS kukirimkan ke nomor ponselnya, namun tak ada balasan. Bahkan kemudian saat aku mengirimkan SMS lagi, semuanya macet di udara. Begitupun dengan jutaan teleponku, yang semuanya berakhir dalam boks pesan.
Aku terhempas dalam kekecewaan campur kesedihan. Rasanya begitu menyakitkan saat sosoknya pelan-pelan menghilang. Aku merasa kehilangan yang teramat perih. Ketakutanku telah menjelma nyata. Rasanya dia telah memilih menghapus sosok hingga bayang-bayangku. Bahkan ketika aku meninggalkan Kaimana, dia belum kembali.
Sebuah tepukan lembut menyadarkanku. Aku terhempas ke masa kini, di suatu pantai dengan untaian pasir putih dan debur ombak yang lembut mengalun. Aku menoleh ke sebelah. Rika telah berdiri dengan senyumannya yang hangat. Dia melingkarkan lengannya di bahuku dan berbisik pelan.
“Tunggu ya Dit. Aku berharap senja hari ini bisa menghapus semua kesedihan dan derita yang kamu tanggung.”
Mataku berkaca-kaca. Rika memberiku tatapan penuh makna. Lama kami saling bertatapan dalam diam. Oh, tak sadarkah dia. Sejak kami kecil hingga kini, bahkan sampai jarak dan waktu memisahkan kami, dia selalu memberiku kehangatan yang melimpah ruah di hatiku. Dia menyayangiku lebih dari sekedar sepupu. Bahkan dia meneteskan air mata saat aku memilih meninggalkan Kaimana.
“Oh, cepat lihat ke pantai, Dit.” Dia tersadar sesuatu. Aku pun melirik ke arah pantai.
Aku terpaku. Seakan-akan aku tersedot dalam dunia asing yang indah. Warna kemerahan senja yang menghiasi cakrawala membuatku kehilangan kata-kata. Perlahan-lahan mentari turun seakan ingin tenggelam dalam pesona pantai yang membiaskan rona senja.
Aku kehilangan kata-kata. Tak mampu melukiskan perasaan yang membanjiri hatiku.
“Tetap indah ya kan, Dit. Sepertinya senja ingin menyedot semua kesedihan kita. Kuharap senja sudah menghapus derita di hatimu.”
Air mataku panas. Dadaku terasa sesak. Seolah ada yang menghimpitnya hingga aku tercekik. Napasmu memburu. Tanpa mampu kutahan, kesedihan itu memaksaku menyerah. Aku kalah. Air mata perlahan-lahan menetes di pipiku. Aku terguncang. Aku pun menangis keras-keras. Pertahananku jebol. Susah payah aku memendamnya, namun kini tak tertahankan lagi.
Aku sungguh mencintainya. Begitu mencintainya sampai perasaanku terluka terlalu dalam. Dia tidak akan kembali. Dia telah memutuskannya. Dia bak senja yang pelan-pelan akan menghilang dibalik gelombang pantai. Dia hanya akan memancarkan kehangatan sesaat sebelum sosoknya lenyap. Aku takkan bisa meraihnya.
Dari kejauhan, senja itu telah memudar. Menyisakan setitik cahaya hingga lenyap sepenuhnya. Rika telah memelukku dengan lembut. Tanpa kata namun penuh makna.
“Dia akan menikah, Dit.”
Aku terguncang. Melepas pelukan Rika. Berusaha mencari kebohongan dari matanya.
“Sabtu ini dia akan menikah di Tana Toraja.”
“Kok kamu tahu?Itu pasti cuma gossip.”Sangkalku keras.
Rika berteriak frustasi. “Sampai kapan kamu akan terus keras kepala, Dit?Dia itu tidak sungguh-sungguh mencintai kamu. Aku bisa merasakannya. Kalau tidak, kenapa dia tidak berjuang mempertahankanmu?Kalian sudah berencana menikah tujuh bulan lalu. Tapi sekarang apa.”
Air mataku tumpah. Aku berjongkok sambil menumpahkan semuanya. Harapanku kosong. Selama dua puluh delapan tahun aku hidup di dunia ini, untuk pertama kalinya aku merasa hampa. Rika ikut berjongkok dan memelukku penuh sayang.
“Kamu pantas mendapatkan seseorang yang lebih baik, Dit. Kamu pasti akan menemukan kebahagiaan sama seperti aku.”
Aku terus menangis. Menangisi cinta yang telah menjauh. Senja itu perlahan-lahan tenggelam.
Sunday, January 10, 2016
Love Raphsody
Aku akan menikah tiga minggu lagi. Sungguh penantian panjang yang melelahkan. Namun aku akan
bersabar sampai momen membahagiakan itu tiba. Calon istriku adalah cewek paling
aneh dan menarik yang pernah kukenal. Tentu saja dia juga wanita tercantik dimataku. Tedi selalu menertawakanku setiap
aku memuji-mujinya. Debbie memang unik. Jujur saja, dia tak secantik
mantan-mantanku, namun seolah ada magnet dalam dirinya yang menarikku. Dia ramah, ekspresif, apa adanya dan menyenangkan.
Pertemuan pertama kami terjadi 3 tahun lalu, saat pertunangan sepupuku, Tedi
dengan pacarnya. Awalnya aku menolak hadir. Aku baru saja
putus dengan Nadya. Masalahnya sepele. Nadya menganggap aku terlalu cuek dan
lebih sering nongkrong dengan
teman-temanku daripada memerhatikannya. Susah payah aku membujuknya, namun dia
sudah lelah dengan hubungan satu arah. Akhirnya kami pun putus.
Sepanjang pesta itu, aku enggan
meladeni cewek yang berusaha menarik perhatianku. Tedi mati-matian
menjodohkanku dengan semua cewek kenalannya. Kami sudah bersahabat sepuluh tahun
sejak SMP, jadi aku memakluminya.
Di sana, saat aku
pura-pura ke toilet (aku menghindar dari incaran para cewek jomblo-sungguh menyebalkan), sosok
Debbie tampak berdebat dengan Lala, sahabatnya sejak TK. Tadinya aku cuek saat melintas
di depan mereka yang berdiri di sudut ruangan, namun langkahku terhenti
mendengar ucapan Debbie. Susah payah aku menahan tawa.
“Ya ampun, Deb. Susah
payah gue kenalkan elo sama sepupu gue yang super tampan, elo
malah sibuk makan di meja prasmanan.”
“Habis makanannya
enak-enak. Gue susah menahan diri kalo di depan gue ada makanan. Tenang saja. Sepupu elo nggak menganggur kok.
Tadi ada dua cewek yang mengajaknya kenalan.”
Lala menahan gemas. Dia
menjitak jidat Debbie dengan semangat menggelora. Debbie meringis kecut. “Elo itu pintar, tapi nggak peka. Masa elo malah memilih makanan daripada cowok sih?Mana ada cewek nggak
waras kayak elo.”
Debbie manyun. Bibirnya
lalu meliuk lucu. Aku benar-benar berusaha tak meledakkan tawa. Tampangnya
gabungan malas, sebal, dan kesal.
“Elo sih ngenalin gue dengan cowok cakep bertampang playboy.
Maaf kalo gue jujur. Dia bisa
mendapatkan cewek mana pun yang dia mau. Gue
nggak mau makan hati. Lebih baik gue
mundur sebelum itu terjadi. Sepupu loe
nggak rugi, kok. Justru gue yang rugi karena kehilangan
kesempatan mencicipi makanan enak.”
“Mencicipi makanan apaan?Dimata gue kelihatan elo makan
dengan rakus.”
“Berarti elo salah lihat. Mungkin seharusnya elo periksa mata ke dokter. Siapa tahu
minus. Gue cuma nyomot doank kok.”
Ampun
deh!Tawaku
meledak. Sumpah!Aku berjuang keras menahannya. Ucapannya itu sungguh menggelitik.
Keduanya menoleh. Tatapan mereka super heran.
Itulah awal pertemuan
kami. Tadinya kupikir kami tidak akan bertemu lagi. Ternyata takdir
mempertemukan kami lagi di pesta ulangtahun Arya, sepupu teman SMA-ku.
Kebetulan atau ini namanya takdir – entahlah - kakak Debbie adalah pacar Arya.
Maka, tanpa buang waktu, aku mendekati Debbie untuk mengajaknya ngobrol dengan modus menanyakan nomor
ponselnya.
Awalnya dia keberatan.
Alasannya membuatku tergelak. Sungguh. Itu alasan paling konyol yang pernah
kudengar.
“Loe serius mau minta nomor ponsel gue?”
Aku tersenyum mengangguk.
Debbie menghela napas berat. Rautnya seolah-olah mengatakan,”Nanti-elo-akan-menyesal-seumur hidup”.
“Memangnya kenapa?Tidak boleh, ya?Atau ada yang
marah?”
“Bukannya begitu. Elo kan belum tentu menelepon gue. Daripada nomor gue mubazir dalam phonebook
elo, lebih baik elo simpan nomor-nomor yang sudah pasti terpakai.”
Oke, wajahku jadi bengong
sejadi-jadinya. Percayakah kalian, bahwa nomor dialah yang pertama kali
kuhubungi setelah aku meninggalkan pesta ultah Arya. Reaksi Debbie?Tentu saja
kaget setengah mati. Tapi sumpah, kata-kata pembuka yang terlontar dari
bibirnya setelah ponsel tersambung dan aku mengucapkan hai adalah, “Maaf, nomor
anda tidak tercetak di phonebook
saya. Jadi pasti anda salah sambung.”
Aku menganga takjub
sebelum membalasnya. Entah mengapa, sejak mendengar kata-kata itu, mulai timbul
desiran aneh di dadaku. Aku bertekad ingin mengenalnya lebih dekat. Maka
mulailah aku gencar mendekatinya. Awalnya susah, apalagi dia tipe cuek dan selalu
meragukan keseriusanku. Coba tebak, apa katanya saat aku mengajaknya kencan?
“Kencan?Dengan elo?”
Aku mengangguk antusias.
Mata Debbie bersinar seolah tak percaya.
“Elo yakin?”
“Seratus persen.
Memangnya kenapa?”
“Lebih baik jangan. Elo pasti menyesal. Lagipula elo kan bisa mengajak siapa saja. Yang
ada juga gue yang rugi. Sepanjang
jalan dengan elo, gue bisa dimusuhi cewek-cewek. Wajah elo kan kelewatan gantengnya.”
Astaga!Aku tak bisa
menahan tawa. Perutku sampai sakit. Bisa-bisanya ada cewek seaneh dirinya.
Bahkan kencan dengannya juga unik. Serba makanan dan mainan. Kami selalu
berhenti di suatu tempat hanya untuk makan. Dan, jangan tertawa, ini benaran.
Sungguh. Belum pernah aku menyaksikan seorang cewek yang porsi makannya super
jumbo. Entah dia sengaja atau tidak membuatku il-fil. Aku justru makin penasaran.
Setelah 6 bulan - ya ampun - belum pernah selama itu aku
menaklukkan hati cewek, akhirnya dia setuju berpacaran denganku tapi ada syarat
dan ketentuan berlaku. Aku makin bengong saat dia menyodorkan surat perjanjian.
Masa pacaran saja perlu kontrak?
“Aku maunya, nanti kalaupun
putus, hubungan kita tetap baik. Aku malas bernasib seperti sepupu atau
temanku. Setelah putus, mereka malah saling benci. Bayangkan saja, ada yang
sampai menjelek-jelekkan pasangannya. Gila!Kemana rasa cinta mereka yang dulu
bersemi indah itu?”
Sekali lagi aku tertawa
terbahak-bahak. Entah sudah keberapa kalinya aku tertawa. Sepanjang bersamanya,
aku sering tertawa. Dia itu polos atau apa?Seolah-olah dia berasal dari planet
mana.
Setahun kebersamaan kami
juga tidak mulus. Beberapa kali keriki-kerikil tajam berusaha menggoyahkan
hubungan kami. Pernah dia cemburu karena ada cewek sekantorku yang
terang-terangan suka padaku. Dia mengabaikanku beberapa hari. Aku berusaha membujuknya
dengan menyodorkan sejuta alasan. Salahku juga sih memberi perhatian pada cewek itu, yang dianggapnya sebagai
bentuk cinta dalam hati. Di kala lain, gantian aku yang marah. Dia sering menomorduakan
aku dan lebih peduli pada sahabat-sahabatnya. Lucu juga. Kok aku malah cemburu sama wanita?
Ketika Debbie bertemu
pertama kali dengan orangtuaku, aku sempat ketar-ketir. Namun kecemasan itu seketika
mencair saat memandanginya akrab dengan orangtuaku. Mama dan Papa selalu sumringah
bila Debbie muncul. Anehnya, cuma aku yang sering diacuhkannya. Dia malah
sering melupakanku. Aku pernah curhat pada Lala, sahabatnya.
Lala malah terkikik geli.
“Itu tandanya elo orang yang paling
disayanginya lebih dari siapapun. Dari dulu sifatnya begitu. Mantan pacarnya
memutuskan dia karena itu. Tahu nggak,
dia mengalami kekosongan selama 2 bulan setelah diputusin.” Aku termangu, caranya aneh dalam mengungkapkan cinta.
Setiap perhatian kecil
darinya membuat hatiku melonjak kegirangan. Dia tak pernah absen mengirim SMS
setiap rindu menyergap hatiku, menitipkan bekal makan siang ke kantor melalui
kurir, memberi kejutan pesta ultahku dan kenangan manis yang lain.
Tanpa terasa tiga tahun
berlalu, aku menikmati setiap momen didekatnya. Keceriaannya, wajah
cemberutnya, tangis bahagianya, kecemburuannya, semua itu terpahat di hatiku.
Ketika tiba saat aku
melamarnya, aku susah payah merencanakannya seromantis adegan film-film. Lala
membantuku menipunya agar mampir ke kantor. Tedi tampak girang menghias
ruanganku dengan balon dan pernak-pernik. Dilla, kakak Debbie bersemangat
membuat kue dan memasang lilin. Orangtuaku dan orangtua Debbie bahkan luar
biasa bahagia dan menyemangatiku. Betapa aku bersyukur memiliki keluarga dan
teman-teman yang selalu mendukung kami.
Reaksi Debbie?Dia
terkejut sekaligus linglung. Dia meneteskan air mata haru sampai membuatku aku
kelabakan.
“Davi Pratama, sebelum
melamar, sebaiknya rundingkan dulu caranya denganku.”Katanya sambil terisak
tanpa henti.
Aku tersenyum geli. Lalu
merengkuhnya dalam dekapanku. Mana ada di dunia ini, dimana sang pria berunding
dulu dengan sang wanita tentang cara melamar?Kalau begitu, untuk apa
melamar?Sekalian saja tanya, mau pernikahan seperti apa.
Akhirnya, di sinilah aku.
Aku berdiri sambil mengamati persiapan untuk pernikahanku. Hampir rampung. Aku
tak menyangka kalau mempersiapkan pernikahan begitu luar biasa melelahkan.
Orangtuaku dan orangtua Debbie berkeras ingin pernikahan yang tak terlupakan.
Debbie setuju saja. Dia pernah berbisik pelan padaku setelah persiapan memasuki
minggu kedua.
“Gila, kenapa sih pernikahan harus ribet dan
melelahkan seperti ini?Tolol saja
kalau ada orang yang memilih bercerai lalu menikah lagi. Apa mereka nggak capek?Mengulangi kerepotan
pernikahan?”
Oke, aku cuma bisa
tertawa. Dalam hati bertekad, aku tidak akan membuatnya mengulangi ritual
pernikahan. Apalagi kalau sampai dia menikahi orang lain. Aku bergidik ngeri
memikirkannya.
Tedi menepuk pundakku,
membuyarkan lamunan yang membiusku. Rasanya aku sudah mengembara dari massa
lalu, masa kini dan masa depan.
“Orang yang elo puja setengah mati sudah datang.
Baru juga berpisah tiga hari, elo
sudah kangen berat. Elo punya penyakit cinta akut.”
Aku tergelak kecil. Sudah
tiga hari memang kami tak bertemu. Debbie mengunjungi neneknya di kampung
halaman. Dia berkeras ingin memboyong neneknya ke Jakarta. Namun, justru dia seolah
betah di sana, menghabiskan waktu sampai tiga hari. Aku terpaksa menelepon,
mengingatkannya. Dia malah cengengesan.
“Maaf, Dav. Sekedar
mengingat masa kecil dulu. Lumayan
buat refreshing dari persiapan
pernikahan.”
Yang benar saja. Dia
memang selalu mengejutkanku dengan cara-cara di luar normal. Kadang aku
merenung. Apa aku akan tahan kalau seumur hidup menghabiskan hari-hari
bersamanya?Dengan segala tingkah lakunya?Atau kebiasaannya?Termasuk segala
kekurangannya?Aku bisa saja mati tertawa. Atau malah suatu hari aku justru
sebal dengan sifatnya yang unik?
Namun saat aku melirik
sosoknya yang melintasi lantai ballroom
itu, aku tertegun. Dia tampak lebih cantik dan segar. Keceriaan tak pernah
lepas dari raut wajahnya. Aku meringis. Begitulah cinta. Tak peduli seaneh atau
seunik apa pun pasanganmu, perasaan itu tetap terpatri dihatimu. Aku ingin
lebih banyak lagi tertawa bersamanya. Melewatkan hari-hari sepanjang tahun
sampai usia kami mendekati senja. Musik di hatiku mengalun merdu.
Dia mengulum senyum
manis. Secercah sinar menyelimuti wajahnya. Menepis semua keraguan yang sempat
mengusik hatiku. Aku tersenyum lebar membalasnya. Daripada sejuta kecemasan
yang hinggap, ternyata keinginan untuk bersamanya jauh lebih menggelora. Toh selama ini, aku tahan-tahan saja dan
malah nyaman dengan keanehannya.
Aku meraih tangannya
setelah dia menghampiriku dan berdiri sambil menatap lurus mataku. Saat
menggenggam kehangatan jemarinya, aku diam-diam berdoa untuk kebahagiaan kami selamanya.
Tiga tahun berlalu, kami berhasil melewati masa-masa serba warna-warni. Masih
ada masa depan yang menanti kami di sana. Karena aku mencintainya sepenuh
hatiku. Dialah Love Raphsody-ku yang
menggema di hatiku.
Subscribe to:
Posts (Atom)