Showing posts with label Fiksi. Show all posts
Showing posts with label Fiksi. Show all posts

Sunday, February 28, 2016

My Dream

Aku berusaha mengumpulkan keberanian sementara menanti vonis yang meluncur dari bibir ortuku. Kesunyian total menyelimuti kami. Aku mengawasi ekspresi Papa dan Mama. Wajah Mama masih menyisakan perasaan seakan ditampar bercampur putus asa. Sementara Papa tampak berpikir keras. Keningnya berkerut luar biasa. Rupanya Papa benar-benar serius.Aku tegang setengah mati. Kubulatkan tekad agar tak satu pun kata-kata Papa nanti yang mengoyahkanku. Aku makin gelisah dalam duduk. Tanganku dingin. Keringat mengalir setes demi setetes.
Akhirnya seolah seabad telah berlalu, Papa berdeham. Menarik napas perlahan-lahan, sebelum menatapku tajam.
“Sayang, kenapa harus Papua Barat?”
Aku menelan ludah. Bukannya aku sudah mengatakan alasannya?Mengapa Papa perlu bertanya lagi?Sia-sia usahaku berceloteh panjang lebar.
“Papa, tadi kan aku sudah menjelaskannya. Apa Papa mau aku mengulang kembali semuanya dari awal?”
“Oh, lupakan saja.”Papa tampak gelisah. Membisu lagi. Oh, aku benar-benar tersiksa.
Kualihkan tatapanku ke arah Mama. Mama lebih parah. Airmata seakan siap jebol kapan saja. Aku mendesah lega saat Beliau berusaha menahan diri. Hatiku seketika akan luluh menyaksikan Mama meneteskan airmata.
“Pa, maafkan Rena. Rena …”
Aku ikut diam. Sepertinya ketularan diamnya Papa. Kutundukkan kepalaku dalam-dalam. Aku memandang taplak meja berukir bunga. Hening sejenak.
“Pa …”
“Papa tahu, sayang. Tolong beri waktu Papa dan Mama memikirkannya dulu. Rasanya … sulit. Kamu tahu. Papua Barat … hmm …tempat yang cukup jauh. Terlalu jauh malah. Seperti di ujung bumi. Jadi … ya … Papa bukannya melarang. Hanya … Papa rasa Mama juga perlu waktu.”
Oh, rasa bersalah menghujam dadaku keras. Belum pernah Papa segugup itu. Papa yang kukenal selalu tenang, bijak dan bisa diandalkan.
“Oke, Pa. Rena mengerti kalau Papa dan Mama butuh waktu mempertimbangkannya. Tapi Rena mohon. Rena amat menginginkannya.” Aku menatap Papa pasrah.
Papa tersenyum menenangkan. Sinar matanya tampak suram. Mama masih terisak. Aku pun pamit pergi. Bagaimana pun percuma membujuk ortuku saat ini. Mereka terlihat lelah dan shock.
Mungkin kalian akan mencelaku habis-habisan. Aku telah mengecewakan ortuku. Lebih dari sekedar kecewa malah. Bahkan teman-teman dekatku ikut heboh. Mereka kompak menyuarakan protes. Mengapa harus ke Papua Barat?Kan masih ada tempat lain yang lebih baik!Demikian alasan mereka. Astaga!Kayak itu tempat terkutuk saja. Seolah-olah kau akan mati pada kesempatan pertama saat menginjakkan kaki di sana.
Aku tahu siapa pun akan menentang. Aku tahu, banyak cerita mengerikan tentang provinsi paling ujung timur itu. Gempa bumi, wabah malaria, epidemik AIDS, bahkan perang antar suku. Namun apa daya. Aku terlanjur jatuh cinta dan terlalu ingin mencurahkan hatiku ke sana. Dan kesempatan sekali seumur hidup itu ditawarkan dosen pembimbingku, Dr. Rahardi Baskoro, spesialis penyakit dalam. Beliau sangat memuji skripsiku berjudul “Penanganan Malaria Epidemik di Daerah Tropis Indonesia yang Minim dan Potensial Wabah-Studi Empirik Lima Kabupaten di Provinsi Papua dan Papua Barat”. Bahkan Dr. Reinaldi Hariawan, dosen pengujiku yang terkenal pelit nilai di kampus memberi aplaus kelewat heboh. Beliau menawarkan posisi ko-as di Papua Barat. Koleganya, dokter spesialis malaria sudah 3 tahun menghabiskan hari-hari di sana.
Sejak mengerjakan proyek skripsiku, aku pernah sambil lalu mengutarakan kemungkinan aku ingin mengabdi ke Papua Barat. Namun Papa hanya tergelak, candaanku benar-benar lucu baginya. Sementara Mama terbelalak sejenak, lalu beliau menganggapku main-main. Aku jadi tak tega berkata jujur. Bisa-bisa sakit jantung Papa kumat.
Aku pun memendamnya dalam hati. Menyimpan rapat di suatu sudut terdalam. Berharap mampu meluapkannya suatu hari. Maka aku pun memilih hari itu. Tepat seminggu setelah euforia kelulusanku usai.
* * * * *
“Kakak sudah dengar, Re. Yang benar saja!Kau cuma bercanda, kan. Kau cuma emosi sesaat, kan.” Suara Kak Rado tajam menusuk. Sinar matanya menyelidik.
Aku diserang keletihan luar biasa. Kakak sulungku sengaja pulang sehari dari pamerannya di Jakarta. Sudah 2 tahun dia menenggelamkan diri di dunia melukis. Dia juga suka mendesain interior. Usia kami terpaut 5 tahun.
“Sudahlah, Kak. Apa kakak juga akan menentang Rena?Rena capek kalau terus dibombardir dengan protes.”
Pasti Papa menelepon dan memohon Kak Rado untuk membujukku. Dasar Papa licik!Aku tahu Beliau takkan menyakitiku. Namun Papa terlalu cerdik, tahu kelemahan terbesarku. Aku mampu menolak argumen siapa pun. Cuma Kak Rado yang kucemaskan.
Kak Rado menatapku iba. Di sinar matanya memancar sayang. Aku meringis dalam hati. Keterlaluan benar Papa!Kak Rado itu logis, cerdas dan anehnya berbakat menaklukkan hati siapa pun, termasuk sedingin es sekali pun.
“Re, kamu tahu banget kalau Papa dan Mama sangat mencemaskanmu. Sejak kecil mereka selalu melindungimu. Kamu pun tak pernah jauh dari mereka. Kamu tahu, mereka mencintaimu karena kamu anak perempuan satu-satunya. Mereka pasti nggak mau sesuatu apa pun menimpamu. Kakak pun begitu.”
“Sejak awal, kamu sudah memilih fakultas kedokteran dan menjalaninya selama 5 tahun sampai akhirnya tahun ini kamu lulus. Mereka memintamu jadi dokter seperti mereka. Kamu pun menurut dengan senang hati. Prestasimu bagus dan yakinlah, Papa Mama sangat bangga. Mereka sudah berharap kau akan mengikuti jejak mereka. Bekerja di tempat bagus, gaji tinggi, penuh pengabdian dan karir sukses. Mengapa tiba-tiba kau tidak bertanggung jawab sampai akhir?Kau malah ingin menjauh. Ke Papua Barat lagi.”
Aku menggigit bibir. Gugup. Tatapan Kak Rado tepat menghujam jantungku. Aku kian gusar berdiri di sebelahnya. Angin sepoi membelai lembut pipiku. Perlahan aku menarik napas. Gazebo itu, pemandangan indah taman belakang dan rumah dari sudut belakang mematri memoriku. Kak Rado benar. Sejak kecil ortuku mendekap erat dan menjagaku ketat. Tidak seprotektif itu pada Kak Rado dan Kak Rangga. Aku amat dimanja, disayang dengan berlebihan. Di antara kami bertiga, cuma aku yang setuju jadi dokter. Kak Rado memberontak, gigih memperjuangkan impiannya jadi pelukis. Kak Rangga berkeras kuliah jurusan bisnis dan setahun ini bekerja di Singapura.
“Maafkan aku, Kak. Rena tak mau mundur. Sekali ini Rena ingin bersikap egois.”
“Astaga!Coba pikirkan perasaan Mama Papa. Mereka sangat mencemaskanmu. Terlalu beresiko ke sana. Pikirkan dulu, Re.”
“Sudah kupikirkan selama setahun.”Timpalku ketus. Maaf saja Kak Rado. Aku takkan goyah. Tekadku sekuat baja dan sedingin es.
Kak Rado memicingkan mata, seakan belum pernah menatapku. Sekelebat syok melintas di wajahnya. Meski begitu dia tersenyum kalem.
“Re, please. Tolong pikirkan kembali. Jangan kecewakan Mama Papa. Suatu hari kamu akan menyesalinya.”
“Dan apa Kak Rado pernah menyesali keputusan kakak?Saat menentang keinginan Mama Papa. Aku pun begitu. Untuk sekali ini aku memutuskan sesuatu. Bukan orang yang memilihkannya untuk hidupku.”
Kak Rado membisu lama. Dia tertegun tadi. Kata-kataku menembus dinding pertahanannya. Tampak sinar mata mengalah. Aku pun menyunggingkan senyum. Aku menang.
* * * * *
Ternyata Papa Mama masih berjuang keras. Kali ini Kak Rangga membujukku, disusul Nenekku dari Mama, Om dan Tante Wiryawan yang kusukai, Paman dan Bibi Jonar yang jauh-jauh dari Siantar (aku amat sayang mereka), bahkan keluarga besar kami, siapa pun yang bersedia, mengepung dan memojokkanku. Awalnya aku mampu meladeninya. Namun sebulan berlalu tanpa persetujuan ortuku. Kesabaranku kehilangan batas. Dr. Baskoro bolak balik bertanya. Bulan depan akan ada perjalanan tim medisnya ke Manokwari. Beliau tak memaksa bila aku masih ragu. Rupanya Papa sudah campur tangan hingga Beliau tak enak hati menjerumuskanku dalam bahaya. Ya ampun, Papa!Beliau memang salah seorang dokter bedah terkenal Indonesia dan Mama adalah dokter spesialis anak yang top. Namun ini sudah kelewatan!
Aku memilih mengkonfrontasi ortuku. Terbuka, aku memprotes mereka di ruang keluarga, empat hari menjelang tenggat waktu keberangkatan tim dokter Baskoro.
Bermenit-menit aku menumpahkan unek-unek. Aku benar-benar frustasi.“Pa, berapa kali kukatakan. Bukankah kita sudah sepakat sebelumnya?Waktu itu aku sudah bilang pada Papa. Papa berkata, “terserah kau mau kemana, Na. Yang penting kau lulus dan jadi dokter”. Apa Papa mau melanggarnya?Bukankah Papa sendiri yang mengajar kami agar taat pada peraturan, disiplin pada aturan dan memegang teguh janji serta bertanggung jawab?Dimana Papa yang selalu memegang prinsip itu?!”
“Jangan sekali-kali menguliahi Papa, Re!”Kata Kak Rado menahan geram. Wajahnya gusar. Papa mengangkat tangan. Kak Rado mendesah putus asa. Masa bodoh!
“Na, Papa mohon. Ini demi kebaikanmu. Lupakanlah Papua Barat. Papa bisa membantu. Papa punya banyak kolega. Tak ada hal bagus yang bisa kamu dapatkan di sana. Pokoknya kamu tidak boleh pergi!Kamu mengerti?!”
Rahang Papa mendadak mengeras. Sikapnya berubah berwibawa. Tegas dan mematikan. Mama duduk di sebelah dengan sikap serupa. Tekadnya meruntuhkan sikap kerasku terpancar. Kak Rangga lebih lunak. Dia tersenyum menyemangati. Dari dulu selalu begitu. Mendukung dan memberiku kebebasan secara tepat.
Aku menghela napas panjang. “Baik, apa pendapat Papa kalau aku punya mimpi?Dari dulu aku selalu menuruti apa pun kemauan dan kata-kata Papa Mama. Tak pernah sekali pun aku membantah. Tak pernah. Papa Mama mengaturku sekolah dimana, les apa, bahkan akan jadi apa. Kak Rado dan Kak Rangga bisa memilih hidup mereka sendiri. Tapi aku tidak. Lalu apa bedanya aku dengan mereka?Untuk pertama kalinya, aku benar-benar punya keinginan. Hanya sekali saja, Pa, Ma. Lebih baik aku memilih hidupku untuk sekali ini dan kalau menyesalinya, itu salahku sendiri. Daripada orang lain yang memilihnya, lalu saat menyesalinya, aku jadi menyalahkan orang lain.”
Lalu tiba-tiba, tanpa peringatan, tanpa tanda-tanda, di tengah usaha Papa membalasku berapi-api, serangan itu memukul jantungnya. Beliau kehabisan napas dan tersungkur kesakitan menghujam lantai. Mama kaget, berteriak histeris. Kak Rangga dan lainnya menghampiri Papa. Untung Kak Rado tanggap menelepon ambulans. Sementara aku terpaku ngeri. Membeku hingga sekujur tubuh. Oh, Tuhan!Tuhan!Tuhan!
Ketegangan itu berlanjut di rumah sakit. Papa dilarikan ke ruang UGD dan hampir berjam-jam di sana tanpa irama kehidupan. Mama terisak, tubuhnya berguncang hebat. Kak Rangga merangkul lembut, menenangkannya. Sejak dulu dia ahli dalam hal itu. Tangis Mama agak reda, menyisakan wajah letih. Paman, Bibi, Om, Tante, sepupu-sepupuku menyusul kemudian. Ruang tunggu itu jadi sesak. Aku menangis kencang, menyesali semuanya. Apalagi Kak Rado sempat murka. Membuat rasa bersalahku menjadi-jadi. Namun Kak Rangga menengahi. Sedikit membelaku tepatnya. Padahal aku layak ditampar keras.
Untunglah Papa sempat diselamatkan. Untuk sementara Beliau harus istirahat total di rumah sakit. Aku sengaja menghindar, tak mendekati Beliau. Takut memompa jantungnya lagi. Susah payah, aku bertahan mengintip Papa yang dibaringkan selama seminggu ini. Yang mengejutkanku, Papa sendiri yang ingin berbicara dan mendengar suaraku. Aku teramat merindukan Beliau. Ternyata Papa juga kelewat sayang dan kangen padaku.
Kata-katanya membuat kegembiraanku meluap. “Na, Papa pikir … Ternyata Papa begitu egois padamu dan kakak-kakakmu. Papa dan Mama selalu menuntut kalian seperti kami. Kami hanya ingin melindungi kalian dari kerasnya hidup. Tidak aneh kalau Kak Rado dan Kak Rangga memberontak. Sungguh tak bijaksana. Bagaimana pun kuatnya, kerasnya perlindungan ortu, tak berarti anak akan aman. Hidup anak bukan ditentukan oleh ortu. Ortu seharusnya mendukung apa pun keputusan anak, karena yang akan menjalaninya bukan mereka. Sampai kapan pun anak takkan bertumbuh dewasa bila ortu selalu protektif dan mengatur anak. Jadi, Na. Pergilah, Sayang. Bertumbuh dewasalah, raihlah cita-citamu. Dan ingatlah, kami, Papa Mama, akan selalu menunggumu kembali.”
Airmataku meleleh tak henti. Aku memeluk lembut Papa, lalu mendekap hangat Mama. Aku benar-benar bahagia, dicintai begitu hebat oleh Papa dan Mama. Aku pun sangat mencintai mereka.
* * * * *
Sebulan lamanya aku tenggelam dalam merawat orang-orang yang terserang malaria. Wabah malaria sedemikian hebat hingga aku dan tim dokter Baskoro berjuang keras. Perlahan-lahan aku menganggap Manokwari itu sebagai rumah keduaku. Orang-orang di sini begitu hangat dan luar biasa. Seperti keluargaku di Bandung. Aku mulai fasih berbahasa setempat. Mereka menyambut kami dengan keramahan indah. Agak sulit menelepon atau mengirim surat di sini. Daerahnya cukup terisolir dan sepi dari dunia luar. Namun perjuangan dan kegigihan mereka membuatku meneteskan air mata haru tiap hari.
Aku menuliskan surat pada Papa dan Mama sebelum mereka sangat rindu dan berpikir aku lenyap. Aku tersenyum membacanya terakhir kali, sebelum menyerahkannya pada Dr. Baskoro yang akan kembali ke Jakarta.

“Untuk Papa dan Mama, Rena baik-baik saja di sini. Orang-orangnya benar-benar hangat dan baik hati seperti Papa Mama. Ini bagai rumah keduaku. Terima kasih sudah mengijinkanku ke sini. Aku sayang kalian.”
(Catatan Harian, 2 Juni 2009)

Monday, January 11, 2016

Senja di Kaimana

Perjalanan ini begitu melelahkan. Rasanya sekujur tubuhku diserang penat yang tak henti. Ingin rasanya aku merebahkan diri sesampainya di sana. Pikiranku seolah terkuras habis. Kosong. Tak kuduga perjalanan panjang ini terasa menyiksa. Lamunanku melayang ke masa tujuh bulan yang lalu. Saat itu keyakinanku goyah. Pendirianku runtuh sekejap. Tak kuduga Mami akan menelepon dan melontarkan permintaan yang seketika menyesakkan dadaku. “Apa tidak bisa kamu kembali ke Jakarta?Kamu harus berhenti menemuinya, Ditha.” Oh, astaga. Apa Mami benar-benar tak risau dengan anak perempuannya yang melajang?Apa ada yang lebih berharga daripada lamaran seorang laki-laki pada perempuan yang lebih sibuk melewati hari-harinya dalam dunianya? “Mami....”Lidahku tercekat. Seolah-olah ada yang menyumbat kerongkonganku. “Mami tidak akan keberatan kalau kalian hanya berteman. Tapi kalau sudah melangkah serius, lebih baik putuskan saja. Mami tidak akan menyetujui dia menjadi pasanganmu, Ditha.” Entah aku harus menjawabnya dengan amarah, atau lirihan. Hatiku mendadak sesak oleh kecewa. Aku tak mengharapkan reaksi Mami seperti itu. Suaranya tegas meminta. Sesuatu yang dulu dengan senang hati akan kuturuti. Tapi, ini sudah melampaui kesadaranku. Kenangan itu menghempasku keras. Tak terasa, tak dipaksa, air mata meleleh di pipiku. Aku memalingkan muka ke arah jendela agar tak seorangpun di sebelahku yang menyadari kegalauan yang melandaku. Latar langit begitu putih. Tampak gumpalan awan yang menghiasi horizon. Suara pramugari menyentak lamunanku yang mengembara. Tak lama lagi pesawat akan lepas landas di bandara Utarum, Kaimana. Aku menggeleng pelan. Entah mengapa aku menyesali keputusanku. Aku seharusnya membatalkannya sepuluh jam yang lalu. Oh, astaga. Aku benar-benar merindukan sosoknya. Kepergianku ke Jakarta tak mampu menghapus bayangannya. Deru pesawat bergemuruh. Ada sedikit guncangan, namun bukan kepanikan yang menyergapku. Malah ketakutan untuk keputusan yang kuambil tanpa pikir panjang yang menggangguku. Pesawat melaju mulus di landasan hingga pelan-pelan berhenti pada suatu titik. Aku terpaku. Nyaris sekujur tubuhku gemetaran. Mungkin tak seharusnya aku menginjakkan kaki di tempat ini. “Maaf, Mbak.”Suara pramugari mengagetkanku. Pelan-pelan aku menarik napas. Pramugari itu tersenyum. “Anda tidak apa-apa?” “Oh.”Aku menatapnya linglung. Lalu kualihkan tatapanku ke sekeliling. Seisi kabin nyaris kosong. Rupanya aku terlalu sibuk berkelana dengan pikiranku. Pramugari itu melempar senyum menenangkan. Aku mengembuskan napas. Kalah. Hatiku begitu lemah hingga tak mampu memutuskan pilihan yang tepat. Aku melangkah lunglai. Udara segar menyambutku. Tapi yang kurasakan justru kedinginan yang menusuk hatiku. Bandara ini begitu kecil, namun sekelilingnya menyajikan pemandangan alami yang serba hijau. Baru kali ini aku bersentuhan dengan alam yang tenang. Setengah bingung, aku membuntuti langkah orang-orang yang tersisa. Mereka berjalan ke sebuah gedung. Aku mengedarkan pandangan, menjelajahi sekitarku. Benar-benar menenangkan. “Dithaaaa, Dithaaaaa.....”Seseorang memanggil keras namaku. Terasa familiar. Aku pun melirik ke sana kemari. Tak perlu waktu lama untuk menyadari siapa yang memanggilku. Wajah itu begitu ceria dengan senyum hangat yang akrab. Di sebelahnya berdiri seorang laki-laki jangkung, kurus dan berkulit cokelat. Rika, sepupuku memelukku gembira. Seolah-olah aku telah lama menghilang dari pandangannya. Aku membalasnya dengan canggung. Padahal tujuh bulan lalu aku masih tinggal di kota ini. “Oh, gimana perjalanannya?Pasti kamu capek ya. Maaf, seharusnya kamu tidak perlu repot-repot datang. Tapi aku mau kamu hadir di pernikahanku nanti. Mama sudah merecokiku terus soal bridemaids.” Untuk pertama kalinya aku tersenyum. Rika memang selalu memancarkan kehangatan. Dia menepis semua keraguanku dengan sambutannya yang luar biasa. “Sayang, sudah to. Jangan terlalu bicara banyak. Dia pasti su lelah.” “Eh iya. Ditha, kenalkan calon suamiku, Daniel.” Aku tersenyum dan membalas uluran tangan Daniel yang terasa kasar namun mengalirkan kehangatan. Rika menyambar lenganku dan menarikku pergi. Daniel dengan sopan menawarkan diri untuk membawa koperku. Laki-laki itu menyunggingkan senyum sekilas, namun mampu mencairkan kekakuan antara kami. Kota Kaimana lebih sepi bila dibandingkan Jakarta. Dominasi pepohonan dan pegunungan menghiasi wajah kota itu. Wajah-wajah asing bertebaran, namun suasana penuh akrab begitu terasa. Aku selalu mengagumi setiap sudut kota yang menyajikan pemandangan yang sangat berbeda dengan Jakarta yang penat dan sesak. Daniel, pacar Rika sepertinya sengaja mengemudikan mobil perlahan hingga aku memuaskan nostalgia keindahan Kaimana. Tiba di rumah, Tante Inggrid dan Om Edi memelukku hangat. Tidak ada yang berubah. Rumah mungil dengan kesan hangat yang hampir memancar di setiap sudut. Interior rumah itu begitu sederhana, didominasi furnitur dan warna-warna alam seperti coklat, hijau dan biru. Rika membawaku ke kamar yang akan kutempati. Aku masih terpesona dengan kamar dengan pemandangan langsung kehijauan pepohonan. Ornamen kayu begitu dominan dengan perabotan seperlunya. Rasanya sudah lama aku merindukan kamar ini. Rika memperkenalkan para cewek yang menjadi pengiring pernikahannya. Beberapa sudah kukenal. Aku sempat tinggal dan bekerja di Kaimana dua tahun sebagai tenaga honor administrasi di rumah sakit. Meski sibuk dengan persiapan pernikahannya, Rika berusaha keras agar aku tidak merasa kesepian. Kehangatannya benar-benar membuatku merasa bersalah. Tak seharusnya aku merepotkannya. Aku nyaris tak berpikir saat dia meneleponku untuk memintaku mendampinginya dalam pernikahan sakral dengan Daniel. Mereka telah berpacaran tiga tahun. Saat itu, otakku jenuh dengan pekerjaan. Belum lagi sosok seseorang menyita seisi pikiran dan hatiku. Aku berjuang keras menahan perih yang menekan dada. Duniaku terasa sunyi. Tak ada lagi telepon penuh rindu setiap malam. Atau senyuman penuh kehangatan yang menyambutku. Aku benar-benar tak mampu menghapus sosoknya yang begitu melekat di hatiku. Susah payah akhirnya aku memutuskan pulang ke Jakarta tujuh bulan lalu. Entah sudah berjuta-juta kali upayaku untuk meraih sosoknya. Namun dia seolah mengabaikan kecemasanku. Dia memilih menjauh dengan sejuta alasan. Aku berusaha memberinya ruang. Berharap dia akan lelah dengan jarak di antara kami. Aku menunggu, menunggu dan terus menunggu dengan harapan yang makin membuncah. Entah mengapa penantian terasa lebih buruk daripada sikap dinginnya. “Ditaaa...”Lamunanku terputus. Aku terhempas ke masa kini. Rika menatapku dengan cemas. Aku tersadar kalau saat ini kami duduk dan di depan kami tersaji menu makan malam. “Kamu kenapa?”Tanya Rika terdengar lebih cemas. Mungkin reaksi bisuku memancing penasarannya. Orangtuanya dan kerabat dekat kami menatap penuh tanya. Aku tersenyum kecil lalu menggeleng pelan. “Tidak apa-apa. Mungkin hanya capek karena perjalanan jauh.” Rika memandang dengan tatapan penuh tanya. Sinar matanya masih terpancar tak percaya. Aku menyunggingkan senyum menenangkan. Om Doni mengalihkan perhatian Rika. Meski aku merasakan dia masih melirik terus dengan tatapan yang ingin kuhindari. Selama hampir lima hari menikmati udara segar dengan pemandangan kota di Kaimana, aku mulai resah. Ketakutanku makin nyata. Rasanya menyesakkan. Meski kehangatan Rika dan keluarganya terasa menyenangkan, namun aku masih tak mampu menghapus bayangan seseorang. Kata-kata Mami kembali menghantuiku. Suaranya yang menolak tegas kehadiran seseorang yang bermakna bagi hidupku yang membosankan. Terasa bagai pisau menghujam hatiku bertubi-tubi. “Ditha, tolong hentikan hubungan kalian. Percayalah sayang, dia akan menyakiti hatimu. Perasaan Mami tidak nyaman dan Mami tidak suka dia.” Aku merintih letih. Pernah aku membayangkan bayangannya memudar seiring waktu. Namun justru kerinduan menyerangku. Aku tak mampu membendung kepedihan yang perlahan mengurungku. Mami benar, tak seharusnya aku membiarkannya menembus bahkan menggapai hatiku. Aku menyesali sekaligus mensyukurinya. Mungkin otakku sudah korslet total. Susah payah aku membentengi diriku agar tidak terjerumus dengan sosoknya. Namun belakangan ini sosoknya makin merenggut kesadaranku. Tepukan pelan dan panggilan lembut menyentakku. Rika telah berdiri di sebelah dengan senyum manisnya. Matanya memancarkan sinar kecemasan. “Kamu tidak apa-apa, Dit?Kamu selalu melamun. Ada apa?” Aku memaksakan diri tersenyum. Rika menggenggam tanganku. Terasa hangat menjalari sekujur tubuhku. Aku baru menyadari sore mulai beranjak. “Tante menelepon, menanyakan apa kamu baik-baik saja. Aku bilang kamu tidak apa-apa. Tapi kelihatannya Tante mengkhawatirkan kamu. Tante meminta tolong padaku untuk menemanimu termasuk mendengarkan kalau kamu ingin curhat.” “Kapan Mami datang ke sini?” “Paling lambat lusa, sehari sebelum pernikahanku. Tante kelihatan cemas kalau kamu nanti ketemu sama …” Aku menggigit bibir. Rika terdiam. Dia menyadari sinar keresahan yang terpancar di setiap inci tubuhku. Kadang-kadang, aku bersyukur dia amat memahamiku. Aku masih enggan mengungkapkan keresahan yang seakan meracuniku hari demi hari. “Dit, besok kita pergi ke pantai ya. Kamu masih ingat nggak, kalau kita lagi banyak pikiran, kita pasti ke sana memandangi senja.” “Tidak usah, Ka. Kamu kan sudah capek mengurus persiapan pernikahanmu.” Rika berkacak pinggang dengan tatapan pura-pura marah. “Oh ayolah, Dit. Kamu harus menikmati keindahan Kaimana. Nanti kalau sudah di Jakarta, kamu harus cerita sama teman sekantormu.” Aku membisu. Ragu. Sebenarnya aku tak ingin mengacaukan cutiku, tapi perasaanku masih berantakan. Tak mampu untuk menjalani hari tanpa kesadaran penuh. Rika menatapku dengan sinar mata memelas. Aku mengerang. Dia menyatukan kedua telapak tangannya sambil memandangku penuh harap. Oh, sudahlah. Sejak dulu aku tahu dia keras kepala. Percuma mendebatnya. Aku pun mengangguk pasrah. Untuk kesekian kalinya, aku mendengarkan suara operator yang menyambut dari seberang. Entah sudah keberapa ratus kalinya suara itu bergaung di telingaku. Sekali lagi membunuh harapan yang membuncah di hatiku. Sepertinya dia mengganti nomornya. “Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Silakan mencoba beberapa saat lagi.” Mengapa saat itu dia seolah menguji perasaanku?Padahal aku tak pernah menyerah pada hubungan kami. Meski peluangnya tipis untuk menyatukan kami dalam pernikahan. Apakah kata-kataku pada pertemuan terakhir kami telah menyakiti hatinya?Hingga dia butuh ruang untuk memikirkan kebersamaan kami?Atau dia ingin memberiku rasa sakit yang serupa? “Al, aku tahu pasti sulit menghadapi penolakan keluarga, terutama Mami. Sampai kapan pun dia tidak akan setuju dengan rencana kita. Tapi kita tidak boleh menyerah.” Air mata yang sedari tadi kutahan akhirnya meleleh di pipi. Oh, kata-kata itu pasti telah menohok hatinya. Padahal ketika itu dia ingin pamit, meninggalkanku sejenak untuk pulang kampung ke Tana Toraja. Keluarga besar di sana akan mengadakan pesta pemakaman Neneknya yang meninggal dua tahun lalu. Kehadirannya sangat diharapkan sejak dia merantau dan tak pernah kembali selama lima tahun. Setelah mendengar kata-kataku, dia sempat mengeluh marah namun kemarahannya perlahan mereda setelah menyaksikan reaksiku yang tampak terluka. Dia pun menarikku ke dalam pelukannya, memberiku dekapan yang menghangatkan. Kini sosoknya telah menjauh. Telah ribuan SMS kukirimkan ke nomor ponselnya, namun tak ada balasan. Bahkan kemudian saat aku mengirimkan SMS lagi, semuanya macet di udara. Begitupun dengan jutaan teleponku, yang semuanya berakhir dalam boks pesan. Aku terhempas dalam kekecewaan campur kesedihan. Rasanya begitu menyakitkan saat sosoknya pelan-pelan menghilang. Aku merasa kehilangan yang teramat perih. Ketakutanku telah menjelma nyata. Rasanya dia telah memilih menghapus sosok hingga bayang-bayangku. Bahkan ketika aku meninggalkan Kaimana, dia belum kembali. Sebuah tepukan lembut menyadarkanku. Aku terhempas ke masa kini, di suatu pantai dengan untaian pasir putih dan debur ombak yang lembut mengalun. Aku menoleh ke sebelah. Rika telah berdiri dengan senyumannya yang hangat. Dia melingkarkan lengannya di bahuku dan berbisik pelan. “Tunggu ya Dit. Aku berharap senja hari ini bisa menghapus semua kesedihan dan derita yang kamu tanggung.” Mataku berkaca-kaca. Rika memberiku tatapan penuh makna. Lama kami saling bertatapan dalam diam. Oh, tak sadarkah dia. Sejak kami kecil hingga kini, bahkan sampai jarak dan waktu memisahkan kami, dia selalu memberiku kehangatan yang melimpah ruah di hatiku. Dia menyayangiku lebih dari sekedar sepupu. Bahkan dia meneteskan air mata saat aku memilih meninggalkan Kaimana. “Oh, cepat lihat ke pantai, Dit.” Dia tersadar sesuatu. Aku pun melirik ke arah pantai. Aku terpaku. Seakan-akan aku tersedot dalam dunia asing yang indah. Warna kemerahan senja yang menghiasi cakrawala membuatku kehilangan kata-kata. Perlahan-lahan mentari turun seakan ingin tenggelam dalam pesona pantai yang membiaskan rona senja. Aku kehilangan kata-kata. Tak mampu melukiskan perasaan yang membanjiri hatiku. “Tetap indah ya kan, Dit. Sepertinya senja ingin menyedot semua kesedihan kita. Kuharap senja sudah menghapus derita di hatimu.” Air mataku panas. Dadaku terasa sesak. Seolah ada yang menghimpitnya hingga aku tercekik. Napasmu memburu. Tanpa mampu kutahan, kesedihan itu memaksaku menyerah. Aku kalah. Air mata perlahan-lahan menetes di pipiku. Aku terguncang. Aku pun menangis keras-keras. Pertahananku jebol. Susah payah aku memendamnya, namun kini tak tertahankan lagi. Aku sungguh mencintainya. Begitu mencintainya sampai perasaanku terluka terlalu dalam. Dia tidak akan kembali. Dia telah memutuskannya. Dia bak senja yang pelan-pelan akan menghilang dibalik gelombang pantai. Dia hanya akan memancarkan kehangatan sesaat sebelum sosoknya lenyap. Aku takkan bisa meraihnya. Dari kejauhan, senja itu telah memudar. Menyisakan setitik cahaya hingga lenyap sepenuhnya. Rika telah memelukku dengan lembut. Tanpa kata namun penuh makna. “Dia akan menikah, Dit.” Aku terguncang. Melepas pelukan Rika. Berusaha mencari kebohongan dari matanya. “Sabtu ini dia akan menikah di Tana Toraja.” “Kok kamu tahu?Itu pasti cuma gossip.”Sangkalku keras. Rika berteriak frustasi. “Sampai kapan kamu akan terus keras kepala, Dit?Dia itu tidak sungguh-sungguh mencintai kamu. Aku bisa merasakannya. Kalau tidak, kenapa dia tidak berjuang mempertahankanmu?Kalian sudah berencana menikah tujuh bulan lalu. Tapi sekarang apa.” Air mataku tumpah. Aku berjongkok sambil menumpahkan semuanya. Harapanku kosong. Selama dua puluh delapan tahun aku hidup di dunia ini, untuk pertama kalinya aku merasa hampa. Rika ikut berjongkok dan memelukku penuh sayang. “Kamu pantas mendapatkan seseorang yang lebih baik, Dit. Kamu pasti akan menemukan kebahagiaan sama seperti aku.” Aku terus menangis. Menangisi cinta yang telah menjauh. Senja itu perlahan-lahan tenggelam.

Sunday, January 10, 2016

Love Raphsody

Aku akan menikah tiga minggu lagi. Sungguh penantian panjang yang melelahkan. Namun aku akan bersabar sampai momen membahagiakan itu tiba. Calon istriku adalah cewek paling aneh dan menarik yang pernah kukenal. Tentu saja dia juga wanita tercantik dimataku. Tedi selalu menertawakanku setiap aku memuji-mujinya. Debbie memang unik. Jujur saja, dia tak secantik mantan-mantanku, namun seolah ada magnet dalam dirinya yang menarikku. Dia ramah, ekspresif, apa adanya dan menyenangkan.
Pertemuan pertama kami terjadi 3 tahun lalu, saat pertunangan sepupuku, Tedi dengan pacarnya. Awalnya aku menolak hadir. Aku baru saja putus dengan Nadya. Masalahnya sepele. Nadya menganggap aku terlalu cuek dan lebih sering nongkrong dengan teman-temanku daripada memerhatikannya. Susah payah aku membujuknya, namun dia sudah lelah dengan hubungan satu arah. Akhirnya kami pun putus.
Sepanjang pesta itu, aku enggan meladeni cewek yang berusaha menarik perhatianku. Tedi mati-matian menjodohkanku dengan semua cewek kenalannya. Kami sudah bersahabat sepuluh tahun sejak SMP, jadi aku memakluminya.
Di sana, saat aku pura-pura ke toilet (aku menghindar dari incaran para cewek jomblo-sungguh menyebalkan), sosok Debbie tampak berdebat dengan Lala, sahabatnya sejak TK. Tadinya aku cuek saat melintas di depan mereka yang berdiri di sudut ruangan, namun langkahku terhenti mendengar ucapan Debbie. Susah payah aku menahan tawa.
“Ya ampun, Deb. Susah payah gue kenalkan elo sama sepupu gue yang super tampan, elo malah sibuk makan di meja prasmanan.”
“Habis makanannya enak-enak. Gue susah menahan diri kalo di depan gue ada makanan. Tenang saja. Sepupu elo nggak menganggur kok. Tadi ada dua cewek yang mengajaknya kenalan.”
Lala menahan gemas. Dia menjitak jidat Debbie dengan semangat menggelora. Debbie meringis kecut. “Elo itu pintar, tapi nggak peka. Masa elo malah memilih makanan daripada cowok sih?Mana ada cewek nggak waras kayak elo.”
Debbie manyun. Bibirnya lalu meliuk lucu. Aku benar-benar berusaha tak meledakkan tawa. Tampangnya gabungan malas, sebal, dan kesal.
“Elo sih ngenalin gue dengan cowok cakep bertampang playboy. Maaf kalo gue jujur. Dia bisa mendapatkan cewek mana pun yang dia mau. Gue nggak mau makan hati. Lebih baik gue mundur sebelum itu terjadi. Sepupu loe nggak rugi, kok. Justru gue yang rugi karena kehilangan kesempatan mencicipi makanan enak.”
“Mencicipi makanan apaan?Dimata gue kelihatan elo makan dengan rakus.”
“Berarti elo salah lihat. Mungkin seharusnya elo periksa mata ke dokter. Siapa tahu minus. Gue cuma nyomot doank kok.”
Ampun deh!Tawaku meledak. Sumpah!Aku berjuang keras menahannya. Ucapannya itu sungguh menggelitik. Keduanya menoleh. Tatapan mereka super heran.
Itulah awal pertemuan kami. Tadinya kupikir kami tidak akan bertemu lagi. Ternyata takdir mempertemukan kami lagi di pesta ulangtahun Arya, sepupu teman SMA-ku. Kebetulan atau ini namanya takdir – entahlah - kakak Debbie adalah pacar Arya. Maka, tanpa buang waktu, aku mendekati Debbie untuk mengajaknya ngobrol dengan modus menanyakan nomor ponselnya.  
Awalnya dia keberatan. Alasannya membuatku tergelak. Sungguh. Itu alasan paling konyol yang pernah kudengar.
“Loe serius mau minta nomor ponsel gue?”
Aku tersenyum mengangguk. Debbie menghela napas berat. Rautnya seolah-olah mengatakan,”Nanti-elo-akan-menyesal-seumur hidup”.
“Memangnya kenapa?Tidak boleh, ya?Atau ada yang marah?”
“Bukannya begitu. Elo kan belum tentu menelepon gue. Daripada nomor gue mubazir dalam phonebook elo, lebih baik elo simpan nomor-nomor yang sudah pasti terpakai.”
Oke, wajahku jadi bengong sejadi-jadinya. Percayakah kalian, bahwa nomor dialah yang pertama kali kuhubungi setelah aku meninggalkan pesta ultah Arya. Reaksi Debbie?Tentu saja kaget setengah mati. Tapi sumpah, kata-kata pembuka yang terlontar dari bibirnya setelah ponsel tersambung dan aku mengucapkan hai adalah, “Maaf, nomor anda tidak tercetak di phonebook saya. Jadi pasti anda salah sambung.”
Aku menganga takjub sebelum membalasnya. Entah mengapa, sejak mendengar kata-kata itu, mulai timbul desiran aneh di dadaku. Aku bertekad ingin mengenalnya lebih dekat. Maka mulailah aku gencar mendekatinya. Awalnya susah, apalagi dia tipe cuek dan selalu meragukan keseriusanku. Coba tebak, apa katanya saat aku mengajaknya kencan?
“Kencan?Dengan elo?”
Aku mengangguk antusias. Mata Debbie bersinar seolah tak percaya.
“Elo yakin?”
“Seratus persen. Memangnya kenapa?”
“Lebih baik jangan. Elo pasti menyesal. Lagipula elo kan bisa mengajak siapa saja. Yang ada juga gue yang rugi. Sepanjang jalan dengan elo, gue bisa dimusuhi cewek-cewek. Wajah elo kan kelewatan gantengnya.”
Astaga!Aku tak bisa menahan tawa. Perutku sampai sakit. Bisa-bisanya ada cewek seaneh dirinya. Bahkan kencan dengannya juga unik. Serba makanan dan mainan. Kami selalu berhenti di suatu tempat hanya untuk makan. Dan, jangan tertawa, ini benaran. Sungguh. Belum pernah aku menyaksikan seorang cewek yang porsi makannya super jumbo. Entah dia sengaja atau tidak membuatku il-fil. Aku justru makin penasaran.
Setelah 6 bulan - ya ampun - belum pernah selama itu aku menaklukkan hati cewek, akhirnya dia setuju berpacaran denganku tapi ada syarat dan ketentuan berlaku. Aku makin bengong saat dia menyodorkan surat perjanjian. Masa pacaran saja perlu kontrak?
“Aku maunya, nanti kalaupun putus, hubungan kita tetap baik. Aku malas bernasib seperti sepupu atau temanku. Setelah putus, mereka malah saling benci. Bayangkan saja, ada yang sampai menjelek-jelekkan pasangannya. Gila!Kemana rasa cinta mereka yang dulu bersemi indah itu?”
Sekali lagi aku tertawa terbahak-bahak. Entah sudah keberapa kalinya aku tertawa. Sepanjang bersamanya, aku sering tertawa. Dia itu polos atau apa?Seolah-olah dia berasal dari planet mana.
Setahun kebersamaan kami juga tidak mulus. Beberapa kali keriki-kerikil tajam berusaha menggoyahkan hubungan kami. Pernah dia cemburu karena ada cewek sekantorku yang terang-terangan suka padaku. Dia mengabaikanku beberapa hari. Aku berusaha membujuknya dengan menyodorkan sejuta alasan. Salahku juga sih memberi perhatian pada cewek itu, yang dianggapnya sebagai bentuk cinta dalam hati. Di kala lain, gantian aku yang marah. Dia sering menomorduakan aku dan lebih peduli pada sahabat-sahabatnya. Lucu juga. Kok aku malah cemburu sama wanita?
Ketika Debbie bertemu pertama kali dengan orangtuaku, aku sempat ketar-ketir. Namun kecemasan itu seketika mencair saat memandanginya akrab dengan orangtuaku. Mama dan Papa selalu sumringah bila Debbie muncul. Anehnya, cuma aku yang sering diacuhkannya. Dia malah sering melupakanku. Aku pernah curhat pada Lala, sahabatnya.
Lala malah terkikik geli. “Itu tandanya elo orang yang paling disayanginya lebih dari siapapun. Dari dulu sifatnya begitu. Mantan pacarnya memutuskan dia karena itu. Tahu nggak, dia mengalami kekosongan selama 2 bulan setelah diputusin.” Aku termangu, caranya aneh dalam mengungkapkan cinta.
Setiap perhatian kecil darinya membuat hatiku melonjak kegirangan. Dia tak pernah absen mengirim SMS setiap rindu menyergap hatiku, menitipkan bekal makan siang ke kantor melalui kurir, memberi kejutan pesta ultahku dan kenangan manis yang lain.
Tanpa terasa tiga tahun berlalu, aku menikmati setiap momen didekatnya. Keceriaannya, wajah cemberutnya, tangis bahagianya, kecemburuannya, semua itu terpahat di hatiku.
Ketika tiba saat aku melamarnya, aku susah payah merencanakannya seromantis adegan film-film. Lala membantuku menipunya agar mampir ke kantor. Tedi tampak girang menghias ruanganku dengan balon dan pernak-pernik. Dilla, kakak Debbie bersemangat membuat kue dan memasang lilin. Orangtuaku dan orangtua Debbie bahkan luar biasa bahagia dan menyemangatiku. Betapa aku bersyukur memiliki keluarga dan teman-teman yang selalu mendukung kami.
Reaksi Debbie?Dia terkejut sekaligus linglung. Dia meneteskan air mata haru sampai membuatku aku kelabakan.
“Davi Pratama, sebelum melamar, sebaiknya rundingkan dulu caranya denganku.”Katanya sambil terisak tanpa henti.
Aku tersenyum geli. Lalu merengkuhnya dalam dekapanku. Mana ada di dunia ini, dimana sang pria berunding dulu dengan sang wanita tentang cara melamar?Kalau begitu, untuk apa melamar?Sekalian saja tanya, mau pernikahan seperti apa.
Akhirnya, di sinilah aku. Aku berdiri sambil mengamati persiapan untuk pernikahanku. Hampir rampung. Aku tak menyangka kalau mempersiapkan pernikahan begitu luar biasa melelahkan. Orangtuaku dan orangtua Debbie berkeras ingin pernikahan yang tak terlupakan. Debbie setuju saja. Dia pernah berbisik pelan padaku setelah persiapan memasuki minggu kedua.
“Gila, kenapa sih pernikahan harus ribet dan melelahkan seperti ini?Tolol saja kalau ada orang yang memilih bercerai lalu menikah lagi. Apa mereka nggak capek?Mengulangi kerepotan pernikahan?”
Oke, aku cuma bisa tertawa. Dalam hati bertekad, aku tidak akan membuatnya mengulangi ritual pernikahan. Apalagi kalau sampai dia menikahi orang lain. Aku bergidik ngeri memikirkannya.
Tedi menepuk pundakku, membuyarkan lamunan yang membiusku. Rasanya aku sudah mengembara dari massa lalu, masa kini dan masa depan.
“Orang yang elo puja setengah mati sudah datang. Baru juga berpisah tiga hari, elo sudah kangen berat. Elo punya penyakit cinta akut.”
Aku tergelak kecil. Sudah tiga hari memang kami tak bertemu. Debbie mengunjungi neneknya di kampung halaman. Dia berkeras ingin memboyong neneknya ke Jakarta. Namun, justru dia seolah betah di sana, menghabiskan waktu sampai tiga hari. Aku terpaksa menelepon, mengingatkannya. Dia malah cengengesan.
“Maaf, Dav. Sekedar mengingat masa kecil dulu. Lumayan buat refreshing dari persiapan pernikahan.”
Yang benar saja. Dia memang selalu mengejutkanku dengan cara-cara di luar normal. Kadang aku merenung. Apa aku akan tahan kalau seumur hidup menghabiskan hari-hari bersamanya?Dengan segala tingkah lakunya?Atau kebiasaannya?Termasuk segala kekurangannya?Aku bisa saja mati tertawa. Atau malah suatu hari aku justru sebal dengan sifatnya yang unik?
Namun saat aku melirik sosoknya yang melintasi lantai ballroom itu, aku tertegun. Dia tampak lebih cantik dan segar. Keceriaan tak pernah lepas dari raut wajahnya. Aku meringis. Begitulah cinta. Tak peduli seaneh atau seunik apa pun pasanganmu, perasaan itu tetap terpatri dihatimu. Aku ingin lebih banyak lagi tertawa bersamanya. Melewatkan hari-hari sepanjang tahun sampai usia kami mendekati senja. Musik di hatiku mengalun merdu.
Dia mengulum senyum manis. Secercah sinar menyelimuti wajahnya. Menepis semua keraguan yang sempat mengusik hatiku. Aku tersenyum lebar membalasnya. Daripada sejuta kecemasan yang hinggap, ternyata keinginan untuk bersamanya jauh lebih menggelora. Toh selama ini, aku tahan-tahan saja dan malah nyaman dengan keanehannya.

Aku meraih tangannya setelah dia menghampiriku dan berdiri sambil menatap lurus mataku. Saat menggenggam kehangatan jemarinya, aku diam-diam berdoa untuk kebahagiaan kami selamanya. Tiga tahun berlalu, kami berhasil melewati masa-masa serba warna-warni. Masih ada masa depan yang menanti kami di sana. Karena aku mencintainya sepenuh hatiku. Dialah Love Raphsody-ku yang menggema di hatiku.