Monday, June 20, 2016

Cinderella dan Pengagum Misterius

            Dua bulan lalu …
Aku berlari tergesa-gesa sambil memeluk buku-buku diktatku. Hari kuliah yang tak kunantikan. Semalam aku menghabiskan waktu menyusun bahan pelajaran untuk Edi, anak tetanggaku yang sudah tiga bulan kuajari Bahasa Inggris. Aku berusaha tak memikirkan keletihan yang sering menyergapku. Kehampaan dalam hatiku yang lebih meracuniku.
            Napasku terengah-engah saat berhasil memasuki bus kampus yang cukup sesak dengan beberapa mahasiswa. Aku berdiri, hampir menyenggol lengan seorang cowok yang sibuk mendengarkan musik dari ponselnya.
            “Maaf.”
            Belum sempat menemukan keseimbangan kakiku, bus kampus mengerem mendadak karena ada motor yang mendadak melintas di depan. Aku terdorong ke depan hingga buku-buku diktatku berhamburan jatuh. Aku menubruk lengan kiri cowok yang berdiri di sebelahku. Sesaat dia spontan menahan tubuhku hingga aku tak perlu terkapar sambil menahan malu.
            Aku tertunduk meminta maaf berkali-kali. Aku nyaris meluncurkan umpatan kasar. Tak seharusnya pengendara motor ugal-ugalan tanpa peduli keselamatan orang lain. Sementara dalam kamus kehidupanku, kesopanan dan kebaikan hati telah mengikat tubuh dan jiwaku. Aku adalah Emi, si Putri Baik Hati. Tak ada yang istimewa dariku dibandingkan Mae, si Putri Jenius dan Emma, si Putri Cantik.
            Aku memeluk diktatku sambil melamun sedih. Ingin rasanya aku menghilang dari rutinitas membosankan yang melelahkan. Meski orangtuaku terkenal baik hati, namun sikap keduanya seolah mengabaikan sosokku. Selama 19 tahun, rasanya menyesakkan dibayangi sosok kedua kakak perempuanku yang sempurna. Aku berusaha menahan luka yang terpendam. Berpura-pura tersenyum seakan tak satu pun beban yang menghantuiku. Bagiku jam-jam yang kuhabiskan di perpustakaan kampus berhasil menjauhkanku dari kekosongan yang menghantuiku hari demi hari.
            Aku meneriakkan suara sekencang mungkin saat bus kampus melewati ruang fakultas Sastra Inggris. Jantungku berdetak kian cepat. Napasku memburu. Terasa risau dan rasa takut saling berkejaran menekan otakku. Mengirimkan sinyal yang semakin melumpuhkan hatiku.
            Aku menerobos sebuah ruangan yang senyap hingga bunyi napas pun terdengar tertahan. Pak Indra, Dosen Pengantar Sastra berdiri di depan kelas sambil menatap dingin. Aku cepat-cepat membungkuk sambil melontarkan maaf berkali-kali. Rasanya kata “maaf” telah terukir dalam otakku dari kecil. Betapa melelahkannya terus meminta maaf. Di rumah, aku paling sering meminta maaf bila Ayah atau Bunda terlihat ingin menyalahkan seseorang untuk segala hal yang merisaukan hati keduanya. Hanya Mae dan Emma yang selalu menuai pujian. Bila keduanya mengalami kekecewaan atau kekalahan, Ayah atau Bunda akan berlomba-lomba menghibur dan menghadiahi macam-macam. Sebaliknya, aku si Tak Terlihat harus berjuang meraih perhatian keduanya, meski selalu berujung kecewa.
            Entah mengapa setiap kelulusanku, Ayah maupun Bunda seolah sibuk. Ayah adalah Profesor Matematika yang kesohor, sedangkan Bunda bekerja di perusahaan percetakan terbesar di Bandung. Mae mewarisi kepintaran yang tak terhingga dari Ayah, sementara Emma dianugerahi kecantikan luar biasa dari Bunda. Aku, si bungsu tak menuruni gen cerdas maupun cantik. Aku bahkan harus mati-matian belajar ilmu eksakta meski membencinya seumur hidup. Hanya Lala, sahabatku sejak SMP yang selalu menyemangatiku agar menekan rasa minder yang tak kunjung berhenti mematikan harapanku. Meski berbeda jurusan, Lala sering menghabiskan waktunya bersamaku.
            Sebulan lalu …
Usai kuliah, seperti biasa, aku tergesa-gesa menyusuri lorong kampus. Dari kejauhan, Lala melambaikan tangannya. Kami janjian bertemu di depan “markas” abadi kami, perpustakaan kampus.
            Di dalam perpustakaan yang lengang, kami pun duduk di pojok ruangan dekat lemari bertuliskan “Filsafat”. Lala, sambil menatap serius, setengah berbisik, “Em, si Aldi barusan putus dengan pacarnya. Gimana kalau kamu mendekati dia duluan sebelum orang lain merebutnya?Dia kan pengagum rahasiamu.”
            Aku menghela napas panjang. Lalu memutar bola mataku dengan gaya dramatis. Seraya membalas tatapan Lala, aku menggeleng tak percaya. Aldi, si Pangeran Kampus begitu julukannya. Wajahnya ganteng dengan postur kurus tinggi dan senyuman maut yang mampu melelehkan para cewek. Belum lagi orang tuanya Direktur bank swasta dan pemilik butik terkenal. Tak dapat dibayangkan Aldi, si sosok sempurna yang diidamkan siapa pun menghujaniku dengan puisi-puisi cinta.
            “Jangan bercanda dengan tampang serius begitu, La.”Kataku sambil tersenyum masam.
Lala terkikik geli. Beberapa orang mendelik ke arahnya. Spontan Lala menutup mulutnya. “Bulan depan kan UKM PA mau rapat tentang liburan akhir semester. Pokoknya kamu harus ikut acara kemping.”
Lagi-lagi aku menghela napas panjang. Honor mengajarku belum cair. Iuran acara kemping lumayan menguras kantong. Tak mungkin aku memelas pada Ayah Bunda. Seperti biasa, mereka pasti tampak enggan sambil melontarkan sejuta pertanyaan. Pada akhirnya mereka akan beralasan kemping hanya membuang waktu. Sejak dulu Ayah Bunda tak pernah tertarik dengan semua kegiatanku. Sikap keduanya berubah seratus delapan puluh derajat bila Mae atau Emma yang membujuk. Terkadang kurasa akulah Cinderella versi modern, meski tak memiliki Ibu tiri atau saudara tiri. Sebenarnya Tante Devi pernah membocorkan rahasia saat aku menangis memohon-mohon. Ketika aku lahir, Ayah Bunda merasakan kekecewaan yang pahit. Mereka mengharapkan kehadiran anak laki-laki. Sejak umur 14 tahun, aku berhenti memprotes Ayah Bunda. Aku mematikan jiwa pemberontak yang menggelora sejak sosoknya seperti dianggap bayangan.
Lala menatap simpatik. Dia membuang napas seirama denganku. “Oke, nanti aku pinjamkan uangnya. Tidak mau tahu. Kamu harus ikut.”
Perasaan bersalah seketika menyesakkan dadaku. Terbayang sosok memelas Lala yang kesekian kalinya membujuk orangtuanya, terutama ibunya yang suka menceramahinya soal betapa langkanya uang dan perlunya mewaspadai pemborosan uang. Meski berusaha menolak, nyatanya Lala keras kepala. Pelototan mautnya membuatku menyerah kalah.

Image : Google
* * * * *
            Di hari rapat UKM PA (Pecinta Alam), aku dan Lala memilih duduk paling pojok. Menyepi dari hiruk pikuk anggota lain. Kami sibuk menyusun rencana. Saat ingin mencatatnya dalam agenda harian, aku tiba-tiba tersadar. Agendaku sudah dua bulan menghilang.  Meski aku berusaha mencarinya hingga putus asa, agenda itu tak terlihat dimana pun. Lala mengomeli memoriku yang setara dengan Pentium Satu. Entah sudah berapa macam barang yang hilang secara misterius dari kehidupanku. Ralat, sebenarnya jaringan memori di otakku berkapasitas terbatas hingga tak ada memori yang awet tersimpan.
            Saat kami sedang berdebat dalam setengah bisikan, seseorang menepuk puncak kepala kami dengan buku. Kami pun meringis kompak dan mengangkat kepala. Aku tertegun. Sosok Davi, si Ketua PA sedang meluncurkan tatapan laser. Sejak pertama kali bertemu, si senior itu bersikap dingin. Tak salah dia dijuluki Pangeran Es. Meski tampan dan jangkung, dia jarang tersenyum. Tatapan matanya agak sinis dan tajam membara.
Sialnya, aku pernah tidak sengaja menyiram wajah dan seluruh tubuhnya saat acara Ospek UKM PA. Salahnya sendiri, tiba-tiba melintas saat aku mengira tak ada orang dan langsung membuang air beras yang kutampung. Sejak itu, aku jadi gugup ketakutan bila bertemu muka. Tak kusalahkan bila dia dendam. Aku juga pernah menyodok hidungnya dengan gagang sapu ijuk saat acara baksos kampus. Dia bahkan pernah terhantam pintu saat aku membuka ruangan UKM PA.  
Aku benar-benar menyesali deretan “dosa” yang tak sengaja itu. Kalau bukan karena Aldi, sosok yang membuatku jatuh cinta sejak pertama kali ikut Ospek kampus, aku akan mencoret UKM PA dari daftarku. Aldi yang menyapaku saat aku kebingungan menyusuri kampus untuk menemukan gedung auditorium. Senyumnya benar-benar menghipnotisku. Menghancurkan gumpalan beban yang menghimpitku bertahun-tahun.
Lamunanku mendadak buyar saat Lala menyikut lenganku. Memori manis saat bersama Aldi pun berhamburan. Aku memandang Lala yang mengedipkan sebelah matanya ke arah depan. Kuikuti tatapannya. Aku meneguk ludah. Si Mata Laser, Davi memanggil gemas namaku. Seketika semua pasang mata menoleh ke arahku. Bahkan tatapan Aldi membuatku sesak napas. Wajahku memerah. Aku pun meminta maaf sambil menunduk.
Kesedihanku perlahan mencair saat memandang sepucuk surat yang tersimpan di dalam tasku. Sudah dua bulan aku menerima surat misterius yang selalu menghiasi hari-hariku. Awalnya, surat itu kutemukan di atas tasku saat ketiduran di ruang perpustakaan kampus. Aku memandang Aldi, yang sejurus kemudian seakan sadar ditatap. Dia melirik ke arahku sambil tersenyum. Aku jadi grogi. Buru-buru kumasukkan surat itu ke dalam tas. Aku mencurigai dialah pengagum rahasiaku sejak tiga minggu lalu. Saat di perpustakaan kampus, aku tak sengaja mengintip sosoknya yang serius menulis sesuatu di atas secarik kertas. Setelah itu beranjak pergi ke arah lemari perpustakaan. Penasaran, aku pun mengintip tulisannya. Syok campur tak percaya saat membaca deretan puisi yang isinya persis dengan puisi yang dialamatkan padaku.
Terbayang semua kejadian yang menghadirkan sosoknya. Saat aku ketiduran dengan sepucuk surat yang ditinggalkan, hanya dia yang membaca buku di perpustakaan. Ketika aku kelelahan sehabis uji coba pendakian, kulihat dia berjalan ke arahku sambil tersenyum. Setelah aku mengambil tasku yang tergeletak di ruang UKM, sepucuk surat melayang jatuh. Baru-baru ini, Lala menangkap sosoknya yang menyelipkan surat saat aku ketiduran dalam ruang kelas yang sepi.
“Em, acara kemping akhir semester ini bisa jadi takdir. Jangan sampai kesempatan langka itu lolos. Sudah dua bulan si Pangeran Aldi bersembunyi dalam label Pengagum Rahasia.”Bisik Lala dengan semangat berapi-api.
Aku pun mengangguk mantap. Dua minggu lagi acara kemping akhir semester. Pada puncak acara, akan ada sesi “Pengakuan”. Semua anggota bebas menumpahkan unek-uneknya. Bahkan rumor beredar, lima tahun berturut-turut, selalu ada pasangan yang tercipta gara-gara pengakuan cinta. Aku bertekad akan mengukir sejarah. Akan kunyatakan perasaanku pada si Pangeran Kampus. Aku tak ingin seperti “Putri Duyung” yang mengharapkan si Pangeran datang atau Cinderella yang menunggu pangeran yang menjemputnya.
Di hari kemping, dua jam sebelum sesi “Pengakuan”, aku berusaha menenangkan debaran jantungku yang berloncatan kacau. Kami sedang menyantap makan malam. Lala sekali lagi berbisik meyakinkanku. Aku bahkan sudah menghapal puisi yang semalaman kutulis. Tak seorang pun yang akan menyangka kalau sosok yang mengetuk hatiku adalah si Pangeran Aldi. Hanya dia yang akan tahu karena dialah yang menulis puisi untukku. Aku hanya membalik kata-katanya.
Setelah satu per satu mengungkapkan perasaan, aku meringis kesal saat sebagian besar cewek anggota UKM PA menyatakan cinta pada Aldi. Si Aldi hanya melempar senyum sopan. Saat tiba giliranku, jantungku makin bertalu-talu. Seakan-akan aku lari marathon berkilo-kilo meter. Aku berdeham sejenak sebelum membacakan puisi.
“Untuk si Pujangga, yang mengukir sejuta cinta di atas hati tak berjiwa. Dia adalah Cinderella, yang melukis horizon di atas kanvas. Dia adalah si Putri Tak Terlihat, yang dibayangi jiwa perih tak terperi. Dia tak kan ragu berlari, menyongsong si Pujangga meski hatinya terkoyak. Hanya padamu wahai Pangeran Pujangga, serpihan hatinya menyatu utuh. Dia tak lagi Cinderella yang malang, Dia adalah Cinderella yang penuh kemilau. Saat Pangeran menyelimutinya dengan asa harapan yang berkilau.”
Sesaat sunyi senyap. Aku membisu gugup. Tak seharusnya semua terdiam hening. Tiba-tiba sebuah tepukan memecah keheningan malam. Akhirnya semua bertepuk tangan. Aku memandang sekeliling dengan takjub. Belum pernah aku mendapatkan tepuk tangan massal yang paling antusias. Terdengar teriakan penuh kekaguman. Rasanya aku seperti menggenggam kemenangan.
“Puisi yang luar biasa, Emi.”Sebuah suara lembut menyentakku disusul tepukan pelan di pundak.
Aku melongo tak percaya. Davi, si Pangeran Es menyunggingkan senyum paling menawan. Dia bahkan terlihat lebih tampan daripada si Pangeran Aldi. Seketika itu aku menunduk malu. Entah mengapa aku merasakan sesuatu menggelitik perutku. Sensasinya membanjiriku dengan kebahagiaan. Efeknya lebih dahsyat dari kekagumanku pada Aldi.
“Wahai, Cinderella yang mengukir senyum tulus. Jangan pernah meragu, Pangeranmu menyambut sungguh. Jiwanya hanya tertuju padamu.”
Aku menoleh kaget saat bisikan itu mengalun merdu. Si senior Davi mengulum senyum jahil.
“Ada agenda warna kelam tertinggal di bus. Kurasa agenda itu terlalu berat dengan curahan hati seseorang selama bertahun-tahun.”

Aku membelalakkan mata saat kepingan puzzle itu tersusun utuh. Sosoknya terlihat jelas. Astaga, ternyata dialah si cowok bus. Aku memutar memoriku saat aku menoleh sekilas padanya. Sebuah senyum terbentuk. Senyum yang sama dengan sosok tak terlihat itu. Akhirnya aku menyadari, selama ini sosok yang mencairkan keresahan hatiku bukanlah Aldi. Cinderella hanya terlalu sibuk tenggelam dalam kesedihannya dan menyesali kemalangan hidupnya. Cinta tak selamanya seperti yang terlihat, hanya perlu dirasakan keping demi keping agar mencairkan kesedihan.

@ElfryantyNovita, Dongeng Masa Kini, Mei 2016

Wednesday, April 13, 2016

Kau Adalah Lelakiku

Aku memandangi wajahnya yang bersimbah keringat. Aku tak kuasa mengalihkan tatapanku yang menelusuri setiap jengkal tubuhnya yang tercipta sempurna. Wajahnya setengah oval dengan bulu-bulu halus yang tumbuh di sekitar bibir, memberikan kesan jantan. Rambutnya yang dipotong rapi pada kedua sisi menjuntai tak mencapai leher. Tubuhnya jangkung kurus dengan otot bisep yang menonjol. Aku menahan napas setiap kali keluwesan tubuhnya menari-nari di depan mataku. Ingin rasanya aku menyentuh kulitnya yang terkesan kasar. Dia tampak serius memeriksa pekerjaannya.
            Asistenku menyela khayalanku yang kian melambung tinggi. Aku sempat terkejut, cepat-cepat aku menyembunyikan perasaan terlarang itu. Berkali-kali aku berhati-hati agar tidak terekspos siapa pun. Aku membayangkan media akan berjingkrak kegirangan bila berhasil mengendus kesalahanku. Aku sudah menjelma menjadi pengusaha furnitur kualitas ekspor yang pernah diwawancarai majalah bisnis yang cukup popular di kawasan metropolis Jakarta.
            Aku cepat-cepat membaca laporan yang diangsurkan asistenku. Order barang lumayan sepi dari luar negeri. Mungkin aku masih harus bersabar dengan kondisi pasar luar negeri yang lesu. Justru permintaan furnitur dari domestik meningkat tajam. Aku menyunggingkan senyum puas.
            “Maaf, AC-nya sudah selesai direparasi. Saya sudah memastikan compressornya berfungsi baik. Freonnya tidak mengalami kebocoran. Ada baiknya minimal tiga bulan sekali AC-nya dicuci.”
            Aku manggut-manggut. Diam-diam mataku menjelajahi setiap keringat yang menetes di wajah hingga dadanya. Dia telah melepas kemejanya, menyisakan kaus dalam yang melekat erat dan membentuk tubuhnya. Tampak menyembul otot-otot perut yang rata. Aku menelan ludah. Aku berusaha menepis kekagumanku yang menjelma menjadi perasaan mendamba yang cukup menyiksa.
            Aku baru bertemu dengannya setengah tahun lalu saat para karyawanku kelabakan mencari tukang servis yang ahli. Tukang servis AC yang lama tak terlalu memuaskan pekerjaannya. AC di toko malah lebih sering rusak. Aku melampiaskan kemarahanku karena terbebani untuk mengawasi tiga toko furnitur di kawasan yang berbeda di Jakarta. Wajah para karyawanku memucat, tak seorang pun berani bersuara. Selama ini aku tahu, mereka tak pernah menyaksikan letupan kemarahanku. Aku selalu bersikap hangat, akrab dan ramah. Aku bahkan mampu mengingat nama mereka termasuk keluarganya dan kebiasaan mereka yang terpatri di otakku. Sejak kecil aku jenius dalam mengingat.
            Orang tuaku amat bangga saat aku menyodorkan raporku yang selalu berprestasi. Mereka bahkan sering menangis terharu saat aku memenangkan sejumlah penghargaan. Aku memiliki tiga kakak perempuan yang ceriwis dan galak. Mereka terkadang mem-bully-ku meski tak parah. Bagi mereka, aku adalah sosok adik manis yang harus selalu menuruti keinginan mereka. Aku bertumbuh menjadi anak yang peka dan sensitive perasaannya.
            Diusiaku yang menginjak 30 tahun, untuk pertama kalinya ada seseorang yang mampu mengguncang hatiku. Aku tak pernah sehari pun melupakan saat pertemuan pertama dengan lelaki itu. Dia tampak tergesa-gesa memasuki toko kami dengan seorang pria. Dengan sorot meminta maaf, dia berbicara pada bawahanku, supervisor toko yang tak sabaran menanti kehadirannya. Ketika itu aku sedang menjelaskan furnitur model terbaru yang diukir pekerja kami pada calon konsumen yang rewel. Aku melirik sekilas dan terkesiap saat tatapan kami beradu. Dia mengangguk sopan. Harus kuakui, aku terkesan dengan aura yang menyelimuti lelaki itu.
            Dia bahkan lihai memperbaiki AC toko yang fatal kerusakannya. Di bulan ketiga, aku mencoba mengorek kesehariannya. Dia berbicara sambil sesekali tersenyum meski tak menghentikan kesibukan kerjanya.
            “Saya lulus sarjana Teknik Arsitektur tapi lebih tertarik mengutak-atik mesin dan elektronik. Jadi selesai kuliah, saya tak mendengarkan orang tua saya untuk mencari pekerjaan tetap. Saya malah membuka usaha reparasi elektronik dan AC dengan modal yang saya kumpulkan selama setahun bekerja di perusahaan konstruksi.”
            Dia mengulas senyum tipis, melirik sekilas lalu memusatkan perhatian pada komponen AC yang telah dibongkarnya. Dia mengerjakannya di gudang belakang toko furniturku. Tanpa sadar aku ikut tersenyum. Makin mengagumi keuletan dan sikap optimisnya yang tak pernah pudar. Dia telah menjadi tukang reparasi AC langganan kami. Bahkan aku terkadang memanggilnya bila ada alat elektronik yang rusak di rumahku. Dia memuji penuh antusias saat muncul di depan rumahku untuk memperbaiki TV LCD di kamar yang sengaja kurusakkan.
            Kesuksesanku makin menginspirasinya untuk menekuni usahanya. Dia memiliki cita-cita ingin sukses membangun usaha reparasi alat elektronik terbesar di Jakarta. Aku menyemangati impiannya. Dulu aku juga begitu bersemangat di masa muda. Mengenyahkan perasaan buruk yang menekan saat orang tuaku akhirnya mengetahui rahasia terbesarku. Ibu menangis terisak tanpa henti, sementara Ayah terdiam membisu beberapa lama di kursinya.
            “Maafkan aku, Ayah, Ibu. Aku sudah berusaha melawan sisi hatiku sejak dulu. Aku juga tak menginginkannya tapi sekeras apa pun aku menghindarinya, pada akhirnya aku menjadi putus asa.” Aku berusaha meredam luapan perasaanku yang diliputi keputusasaan.
            Ayah memandangku seolah menerawang jauh. Ibu makin menangis keras, tak mampu menanggung kekecewaan yang menghantamnya. Setelah membisu dengan pikirannya, Ayah pun menarik napas dan menghembuskannya panjang.
            “Baiklah, kalau memang itu keputusanmu, Nak. Tak ada lagi yang bias Ayah katakan. Ayah akan berusaha memahami isi hatimu.”
            Mau tak mau aku menghela napas lega. Ayah begitu bijaksana, tak pernah menghakimi kesalahanku di sepanjang memoriku. Aku merasa bersalah saat menatap gurat-gurat kelelahan yang menghiasi wajahnya. Seketika wajahnya bertambah tua beberapa tahun.
            Kini, aku tak lagi melarikan diri. Aku memutuskan untuk mengabaikan suara-suara sumbang yang menyangsikan keberadaanku. Aku berusaha hidup normal seperti orang lain. Sepuluh tahun bergulat dalam peperangan batin yang menyiksa cukup membuatku lelah luar biasa. Ketiga kakak perempuanku yang telah menikah sempat kaget tak percaya. Namun tak ada yang mencela atau mencemoohku. Sedikitnya aku masih bisa bersyukur Tuhan menghadiahi keluarga yang tetap menerimaku apa adanya.
 * * * * *
            Aku mematut-matut penampilanku di depan kaca. Kemeja semi formal dan celana skinny panjang berbahan katun. Sejak tadi aku gelisah menanti pertemuan dengan si lelaki tukang servis. Namanya Mas Doni Setyawan. Aku baru mengetahui namanya sebulan lalu. Biasanya aku hanya memanggilnya “Mas”. Aku mengusulkan pertemuan di kafe untuk membahas rencana ekspansi bisnis dari jasa reparasi alat elektronik dan AC miliknya. Aku bahkan akan menginvestasikan modal untuk membuka toko yang menjual alat-alat elektronik dan AC.
            Tadinya dia enggan mengungkapkan impian yang terus mengusik pikirannya. Setelah aku membujuk setengah memaksa, dia akhirnya mengatakannya dalam satu tarikan napas.
            Entah mengapa, dadaku selalu berdetak dua kali normal saat berhadapan dengannya. Aku canggung layaknya wanita yang jatuh cinta. Namun dia tak menyadari rona merah di wajahku setiap kali dia tersenyum. Dia juga tak tahu bila aku diam-diam suka memandangi wajahnya. Di luar pekerjaan, Doni tetap memancarkan kehangatan dan keramahan yang menyejukkan hatiku. Dia tak memerhatikan kekikukan yang menyergapku setiap kali dia menepuk pundak atau menyalami tanganku dengan semangat.
            Pertemuan itu terus berlanjut. Perasaanku kian tumbuh bak bunga-bunga yang bermekaran. Sia-sia saja aku menyingkirkannya. Akhirnya aku pun memasrahkan diri. Aku akan menyimpan rapat-rapat perasaan asing yang menyenangkan ini. Tak seorang pun boleh merampasnya atau mencela ketulusan hatiku.
            Setelah pertemuan-pertemuan yang intens, Doni mengajakku mengunjungi calon toko baru yang akan mewujudkan cita-citanya. Di sana aku bertemu dengan dua orang temannya. Seorang lelaki agak gempal dan seorang wanita manis yang mungil. Sempat terbersit rasa cemburu saat menyaksikan Doni berinteraksi dengan akrab kepada Reta, nama wanita itu. Katanya dia adalah teman kuliahnya dulu tapi berbeda jurusan. Mereka bertemu saat keduanya bergabung di organisasi PA (Pecinta Alam). Reta dan Doni saling tertawa-tawa dan bercanda. Aku berjuang keras menekan kejengkelan yang menyusup.
            Tak hanya sekali dua kali, bahkan Reta juga menyeruak di antara kami berdua saat pembicaraan strategi bisnis di kafe langganan kami. Dia melontarkan ide-ide dengan wajah sumringah. Beberapa kali aku menangkap pancaran sinar mata Doni yang menatap Reta lekat-lekat sambil menyunggingkan senyum geli. Dia bahkan sering mengacak-acak rambut Reta hingga wanita itu mengomel. Padahal aku menangkap basah senyum manis yang menghiasi wajahnya setelah diperlakukan begitu. Aku mengerang dalam hati. Sampai kapan aku akan sanggup menahan gejolak hatiku yang kacau.
            Setiap hari di kantor, aku melamun membayangkan hari-hari yang dilewati Doni dan Reta. Sepertinya mereka terikat oleh masa lalu dan takdir pertemuan yang abadi. Sudah sepuluh tahun kebersamaan mereka yang takkan dapat kutaklukkan. Mengapa bukan aku yang bertemu Doni sepuluh tahun yang lalu?Suatu saat aku merasa jantungku akan meledak bila terus memendam perasaan sakit dan cemburu ini.
            Doni tak pernah menyadari kegalauan hatiku yang dikacaukan oleh kehadirannya. Tak seharusnya perasaanku menjadi sesensitif ini. Sisi kewanitaanku kian menguasai jiwaku. Tak pernah aku begitu gelisah hingga tak mampu memejamkan mata di malam hari. Aku masih terus berharap dapat memandangi Doni selamanya. Aku ingin sosok Reta tak hadir di antara kami. Masih sisa dua bulan lagi sebelum aku kehabisan alasan untuk bertemu Doni.
            Percik-percik bahagia membanjiri seluruh rongga hatiku saat Doni berhasil membeli toko yang diidam-idamkannya dan mengisinya dengan berbagai merek barang elektronik. Aku sibuk mengkomando para pekerja yang hilir mudik membawa masuk barang-barang. Tak kutangkap sosok Doni di sekitar toko. Mungkin dia sibuk di belakang toko yang menjadi gudang reparasinya. Mataku berseri-seri saat sosoknya tampak dari kejauhan di sudut kiri gudang. Namun langkahku terhenti saat mendengar perdebatan Doni dengan Aris, si lelaki gempal sahabatnya. Reta berdiri tak jauh dari keduanya. Aku spontan menyembunyikan diri, menguping pembicaraan mereka.
            “Don, laki-laki yang membantumu itu pasti gay. Aku sudah sejak lama memerhatikan gerak-geriknya. Sebaiknya kau menjauh darinya sebelum keadaan lepas kendali. Bukannya aku ingin menjelek-jelekkannya. Dia memang baik, tapi orientasi seksualnya akan membahayakanmu. Dia pasti suka padamu.”
            “Yang benar saja, Ris. Jacky bukan gay. Jangan menuduhnya.”
            Aris menghela napas putus asa. Dia mengacak-acak rambutnya yang keriting dengan luapan frustasi.
            “Reta, coba katakan sesuatu. Katakan kalau bukan aku saja yang merasakannya. Laki-laki itu pasti gay tulen. Sudah berapa kali aku menangkap basah tatapannya yang tak biasa pada Doni. Kelelakian Doni pasti menarik hatinya. Aku benar-benar gila.”
            Reta menghembuskan napas. Dia mendekati Doni, menjejerinya, menatapnya dengan jenis tatapan yang pastinya akan meluluhkan hati Doni.
            “Aku juga merasakannya, Don. Dia menyukaimu. Aku tak kan menghakimi orientasi seksualnya karena aku tidak berhak menghina harga diri seseorang. Aku hanya ingin kau mengatakan perasaanmu padanya. Pasti sulit memendam perasaan sebesar itu.”
            Tiba-tiba jemari-jemariku gemetaran. Aku takut kejujurannya akan menghancurkan hatiku. Aku benar-benar ketakutan bila dia menyadari diriku yang abnormal. Aku sungguh kalut hingga cepat-cepat pergi meninggalkan mereka.
* * * * *
            “Maafkan aku.” Ketakutanku menjelma nyata saat dia mengucapkannya. Seakan itu vonis kematian yang menentukan napas kehidupanku.
            Aku dapat memahami sepenuhnya ketidaknyamanan dalam suaranya. Aku mencela diriku yang tak berdaya dengan perasaan ini. Namun segumpal kelegaan menyusup tatkala pikiran buruk yang sempat menghantuiku tak terjadi. Doni menghadapi kenyataan itu dengan tenang dan damai.
            “Aku takkan meminta kau untuk membuang jauh-jauh perasaan itu. Aku tak berhak untuk itu. Aku memikirkan ini cukup lama. Pada akhirnya aku harus berterima kasih karena kau telah banyak membantuku. Aku tak dapat membalas kebaikanmu. Tapi aku akan mengakui satu hal. Aku hanya mencintai Reta. Aku bahkan sudah melamarnya untuk menikahiku.”
            Doni memandangku penuh simpati. “Tolong mengertilah. Aku berharap kau tidak membenci hidup dan dirimu sendiri. Aku akan mencoba memahami apa yang anda alami selama ini.”

            Pertahananku runtuh. Aku menangis, meminta maaf berulang-ulang. Belum pernah aku bertemu dengan seseorang yang tak mencibir atau menghakimi anomali yang terjadi padaku kecuali keluarga sendiri. Dia sungguh lelaki yang baik yang tak pernah akan kutemukan lagi di dunia ini. Aku berharap akan ada lagi orang-orang yang sepenuhnya memahami dan tak memandangku dengan tatapan aneh yang menuduh. Bagaimana pun aku juga dilahirkan ke dunia dengan sempurna, seperti orang-orang normal yang lain. Hanya saja jiwaku bertentangan dengan identitas fisikku sehingga itu sungguh menyiksaku seumur hidup. Aku hanya butuh pengakuan tentang eksistensiku di dunia. Itu sudah lebih dari cukup.

(Penggalan kisah untuk sahabatku, Februari 2016)
Copyright @ElfryantyNovita

Sensus Ekonomi 2016 : Data Mencerdaskan Bangsa

           Sensus ekonomi 2016 adalah salah satu perhelatan nasional yang akan digelar pada bulan Mei 2016. Meski dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik sebagai penyelenggara yang ditunjuk oleh pemerintah, namun Sensus Ekonomi 2016 pada hakikatnya merupakan agenda nasional yang perlu didukung oleh seluruh pihak, tak hanya oleh pemerintah setempat namun juga para pelaku usaha dan masyarakat. Sensus ekonomi dilaksanakan untuk mendapatkan potret utuh perekonomian bangsa, sebagai landasan penyusunan kebijakan dan perencanan pembangunan nasional maupun regional.




            Ungkapan data mencerdaskan bangsa bukan hanya sekedar kata-kata karena didalamnya terkandung pengertian mendalam bahwa dalam membuat suatu perencanaan pembangunan memerlukan data sebagai landasan informasi yang pada akhirnya akan bermanfaat untuk kepentingan bangsa. Data diibaratkan pondasi sekaligus pilar pembangunan. Data tidak hanya sekedar berisi informasi, namun juga dapat digunakan sebagai pijakan untuk menyusun program pembangunan yang berorientasi kesejahteraan bangsa. Bila pemerintah nasional atau regional akan merencanakan suatu kebijakan misalnya dalam bidang ekonomi seperti bantuan beras untuk keluarga miskin atau pra sejahtera, maka pemerintah harus memiliki informasi data seperti jumlah penduduk miskin berdasarkan acuan tertentu, persebaran penduduk miskin berdasarkan wilayah, serta identitas penduduk miskin tersebut mencakup nama, alamat, jumlah pendapatan yang diterima dan jumlah anggota rumah tangga. Dengan demikian, pemerintah nasional maupun regional memiliki patokan jelas dalam mengalokasikan bantuan sekian rupiah dari anggaran APBN atau APBD untuk penduduk miskin yang berhak memperolehnya. Masih segar dalam ingatan bangsa Indonesia, pada saat Bantuan Tunai Langsung (BLT) pertama kali digulirkan pada tahun 2005, jumlah penduduk yang mengaku miskin seketika membludak. Protes terus dilayangkan pada pemerintah terkait mekanisme pendataan yang menghasilkan basis data penduduk miskin. Kini kegiatan pendataan apa pun menjadi sorotan publik bila tak sesuai dengan realita di lapangan.


            Memasuki tahun 2016, bangsa Indonesia akan bersiap menyambut pendataan skala nasional yaitu Sensus Ekonomi (SE) 2016. Agenda Sensus Ekonomi ini adalah pendataan seluruh sektor usaha secara menyeluruh (selain sektor pertanian) yang akan menghasilkan gambaran lengkap mengenai perekonomian Indonesia dari level nasional hingga regional meliputi level dan struktur ekonomi non-pertanian termasuk informasi dasar dan karakterisktiknya. Bahkan Sensus Ekonomi 2016 juga akan meghasilkan informasi untuk pengembangan usaha dan daya saing bangsa. Cakupan dalam SE 2016 yang menyeluruh tidak hanya terbatas pada skala usaha besar dan menengah saja (UMB), namun juga usaha yang bersifat skala UKM (Usaha Kecil Menengah) dan sektor informal. Dengan cakupannya yang luas, SE akan mampu menjaring usaha-usaha yang selama ini terpinggirkan atau luput dari perhatian pemerintah. Tidak akan ada lagi usaha-usaha kecil yang mengalami mati suri jika pemerintah memiliki landasan data dalam perencanaan pembangunan yang berbasis ekonomi kerakyatan. Pemerintah perlu menopang UKM terutama  yang berdomisili di tingkat kabupaten/kota agar mampu mandiri dan berdaya saing tinggi, terutama dalam menghadapi era perdagangan bebas seperti MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN).


            Hasil pendataan SE 2016 akan menyediakan informasi pemetaan daya saing bisnis menurut wilayah. Manfaat terbesar lainnya adalah hasil pendataan SE 2016 dapat digunakan sebagai tinjauan prospek bisnis dan perencanaan investasi di Indonesia. Bila investor asing atau domestik memiliki ketertarikan untuk berinvestasi di Kota Sorong misalnya, maka mereka dapat melihat gambaran umum melalui hasil pendataan SE 2016 yang dipublikasikan sehingga publikasi SE 2016 dapat diibaratkan sebagai prospektus. Menurut Wikipedia, prospektus adalah gabungan antara profil perusahaan dan laporan tahunan yang menjadikannya sebuah dokumen resmi yang digunakan oleh suatu lembaga/perusahaan untuk memberikan gambaran mengenai saham yang ditawarkan untuk dijual kepada publik. Pertanyaan yang krusial adalah apakah SE 2016 sebagai basis data untuk potret ekonomi Indonesia akan mencerdaskan bangsa?



            Pada dasarnya data dapat mencerdaskan bangsa bila memberi informasi yang sahih atau valid tentang suatu indikator. Mahasiswa yang menggunakan data yang tepat dalam penyusunan skripsinya akan mampu menghasilkan analisis dan kesimpulan yang tepat pula sesuai tujuan yang dirumuskan. Demikian pula bila pemerintah nasional maupun daerah dalam menyusun program kebijakan pembangunan bila menggunakan data yang sesuai, maka tujuan program dan sasaran yang ditargetkan tersebut akan tercapai. Dalam menghasilkan data yang bersifat mencerdaskan bangsa perlu adanya dukungan dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah, pelaku usaha, akademisi, tokoh-tokoh masyarakat hingga masyarakat umum. Ayo sukseskan SE 2016!

Sunday, February 28, 2016

My Dream

Aku berusaha mengumpulkan keberanian sementara menanti vonis yang meluncur dari bibir ortuku. Kesunyian total menyelimuti kami. Aku mengawasi ekspresi Papa dan Mama. Wajah Mama masih menyisakan perasaan seakan ditampar bercampur putus asa. Sementara Papa tampak berpikir keras. Keningnya berkerut luar biasa. Rupanya Papa benar-benar serius.Aku tegang setengah mati. Kubulatkan tekad agar tak satu pun kata-kata Papa nanti yang mengoyahkanku. Aku makin gelisah dalam duduk. Tanganku dingin. Keringat mengalir setes demi setetes.
Akhirnya seolah seabad telah berlalu, Papa berdeham. Menarik napas perlahan-lahan, sebelum menatapku tajam.
“Sayang, kenapa harus Papua Barat?”
Aku menelan ludah. Bukannya aku sudah mengatakan alasannya?Mengapa Papa perlu bertanya lagi?Sia-sia usahaku berceloteh panjang lebar.
“Papa, tadi kan aku sudah menjelaskannya. Apa Papa mau aku mengulang kembali semuanya dari awal?”
“Oh, lupakan saja.”Papa tampak gelisah. Membisu lagi. Oh, aku benar-benar tersiksa.
Kualihkan tatapanku ke arah Mama. Mama lebih parah. Airmata seakan siap jebol kapan saja. Aku mendesah lega saat Beliau berusaha menahan diri. Hatiku seketika akan luluh menyaksikan Mama meneteskan airmata.
“Pa, maafkan Rena. Rena …”
Aku ikut diam. Sepertinya ketularan diamnya Papa. Kutundukkan kepalaku dalam-dalam. Aku memandang taplak meja berukir bunga. Hening sejenak.
“Pa …”
“Papa tahu, sayang. Tolong beri waktu Papa dan Mama memikirkannya dulu. Rasanya … sulit. Kamu tahu. Papua Barat … hmm …tempat yang cukup jauh. Terlalu jauh malah. Seperti di ujung bumi. Jadi … ya … Papa bukannya melarang. Hanya … Papa rasa Mama juga perlu waktu.”
Oh, rasa bersalah menghujam dadaku keras. Belum pernah Papa segugup itu. Papa yang kukenal selalu tenang, bijak dan bisa diandalkan.
“Oke, Pa. Rena mengerti kalau Papa dan Mama butuh waktu mempertimbangkannya. Tapi Rena mohon. Rena amat menginginkannya.” Aku menatap Papa pasrah.
Papa tersenyum menenangkan. Sinar matanya tampak suram. Mama masih terisak. Aku pun pamit pergi. Bagaimana pun percuma membujuk ortuku saat ini. Mereka terlihat lelah dan shock.
Mungkin kalian akan mencelaku habis-habisan. Aku telah mengecewakan ortuku. Lebih dari sekedar kecewa malah. Bahkan teman-teman dekatku ikut heboh. Mereka kompak menyuarakan protes. Mengapa harus ke Papua Barat?Kan masih ada tempat lain yang lebih baik!Demikian alasan mereka. Astaga!Kayak itu tempat terkutuk saja. Seolah-olah kau akan mati pada kesempatan pertama saat menginjakkan kaki di sana.
Aku tahu siapa pun akan menentang. Aku tahu, banyak cerita mengerikan tentang provinsi paling ujung timur itu. Gempa bumi, wabah malaria, epidemik AIDS, bahkan perang antar suku. Namun apa daya. Aku terlanjur jatuh cinta dan terlalu ingin mencurahkan hatiku ke sana. Dan kesempatan sekali seumur hidup itu ditawarkan dosen pembimbingku, Dr. Rahardi Baskoro, spesialis penyakit dalam. Beliau sangat memuji skripsiku berjudul “Penanganan Malaria Epidemik di Daerah Tropis Indonesia yang Minim dan Potensial Wabah-Studi Empirik Lima Kabupaten di Provinsi Papua dan Papua Barat”. Bahkan Dr. Reinaldi Hariawan, dosen pengujiku yang terkenal pelit nilai di kampus memberi aplaus kelewat heboh. Beliau menawarkan posisi ko-as di Papua Barat. Koleganya, dokter spesialis malaria sudah 3 tahun menghabiskan hari-hari di sana.
Sejak mengerjakan proyek skripsiku, aku pernah sambil lalu mengutarakan kemungkinan aku ingin mengabdi ke Papua Barat. Namun Papa hanya tergelak, candaanku benar-benar lucu baginya. Sementara Mama terbelalak sejenak, lalu beliau menganggapku main-main. Aku jadi tak tega berkata jujur. Bisa-bisa sakit jantung Papa kumat.
Aku pun memendamnya dalam hati. Menyimpan rapat di suatu sudut terdalam. Berharap mampu meluapkannya suatu hari. Maka aku pun memilih hari itu. Tepat seminggu setelah euforia kelulusanku usai.
* * * * *
“Kakak sudah dengar, Re. Yang benar saja!Kau cuma bercanda, kan. Kau cuma emosi sesaat, kan.” Suara Kak Rado tajam menusuk. Sinar matanya menyelidik.
Aku diserang keletihan luar biasa. Kakak sulungku sengaja pulang sehari dari pamerannya di Jakarta. Sudah 2 tahun dia menenggelamkan diri di dunia melukis. Dia juga suka mendesain interior. Usia kami terpaut 5 tahun.
“Sudahlah, Kak. Apa kakak juga akan menentang Rena?Rena capek kalau terus dibombardir dengan protes.”
Pasti Papa menelepon dan memohon Kak Rado untuk membujukku. Dasar Papa licik!Aku tahu Beliau takkan menyakitiku. Namun Papa terlalu cerdik, tahu kelemahan terbesarku. Aku mampu menolak argumen siapa pun. Cuma Kak Rado yang kucemaskan.
Kak Rado menatapku iba. Di sinar matanya memancar sayang. Aku meringis dalam hati. Keterlaluan benar Papa!Kak Rado itu logis, cerdas dan anehnya berbakat menaklukkan hati siapa pun, termasuk sedingin es sekali pun.
“Re, kamu tahu banget kalau Papa dan Mama sangat mencemaskanmu. Sejak kecil mereka selalu melindungimu. Kamu pun tak pernah jauh dari mereka. Kamu tahu, mereka mencintaimu karena kamu anak perempuan satu-satunya. Mereka pasti nggak mau sesuatu apa pun menimpamu. Kakak pun begitu.”
“Sejak awal, kamu sudah memilih fakultas kedokteran dan menjalaninya selama 5 tahun sampai akhirnya tahun ini kamu lulus. Mereka memintamu jadi dokter seperti mereka. Kamu pun menurut dengan senang hati. Prestasimu bagus dan yakinlah, Papa Mama sangat bangga. Mereka sudah berharap kau akan mengikuti jejak mereka. Bekerja di tempat bagus, gaji tinggi, penuh pengabdian dan karir sukses. Mengapa tiba-tiba kau tidak bertanggung jawab sampai akhir?Kau malah ingin menjauh. Ke Papua Barat lagi.”
Aku menggigit bibir. Gugup. Tatapan Kak Rado tepat menghujam jantungku. Aku kian gusar berdiri di sebelahnya. Angin sepoi membelai lembut pipiku. Perlahan aku menarik napas. Gazebo itu, pemandangan indah taman belakang dan rumah dari sudut belakang mematri memoriku. Kak Rado benar. Sejak kecil ortuku mendekap erat dan menjagaku ketat. Tidak seprotektif itu pada Kak Rado dan Kak Rangga. Aku amat dimanja, disayang dengan berlebihan. Di antara kami bertiga, cuma aku yang setuju jadi dokter. Kak Rado memberontak, gigih memperjuangkan impiannya jadi pelukis. Kak Rangga berkeras kuliah jurusan bisnis dan setahun ini bekerja di Singapura.
“Maafkan aku, Kak. Rena tak mau mundur. Sekali ini Rena ingin bersikap egois.”
“Astaga!Coba pikirkan perasaan Mama Papa. Mereka sangat mencemaskanmu. Terlalu beresiko ke sana. Pikirkan dulu, Re.”
“Sudah kupikirkan selama setahun.”Timpalku ketus. Maaf saja Kak Rado. Aku takkan goyah. Tekadku sekuat baja dan sedingin es.
Kak Rado memicingkan mata, seakan belum pernah menatapku. Sekelebat syok melintas di wajahnya. Meski begitu dia tersenyum kalem.
“Re, please. Tolong pikirkan kembali. Jangan kecewakan Mama Papa. Suatu hari kamu akan menyesalinya.”
“Dan apa Kak Rado pernah menyesali keputusan kakak?Saat menentang keinginan Mama Papa. Aku pun begitu. Untuk sekali ini aku memutuskan sesuatu. Bukan orang yang memilihkannya untuk hidupku.”
Kak Rado membisu lama. Dia tertegun tadi. Kata-kataku menembus dinding pertahanannya. Tampak sinar mata mengalah. Aku pun menyunggingkan senyum. Aku menang.
* * * * *
Ternyata Papa Mama masih berjuang keras. Kali ini Kak Rangga membujukku, disusul Nenekku dari Mama, Om dan Tante Wiryawan yang kusukai, Paman dan Bibi Jonar yang jauh-jauh dari Siantar (aku amat sayang mereka), bahkan keluarga besar kami, siapa pun yang bersedia, mengepung dan memojokkanku. Awalnya aku mampu meladeninya. Namun sebulan berlalu tanpa persetujuan ortuku. Kesabaranku kehilangan batas. Dr. Baskoro bolak balik bertanya. Bulan depan akan ada perjalanan tim medisnya ke Manokwari. Beliau tak memaksa bila aku masih ragu. Rupanya Papa sudah campur tangan hingga Beliau tak enak hati menjerumuskanku dalam bahaya. Ya ampun, Papa!Beliau memang salah seorang dokter bedah terkenal Indonesia dan Mama adalah dokter spesialis anak yang top. Namun ini sudah kelewatan!
Aku memilih mengkonfrontasi ortuku. Terbuka, aku memprotes mereka di ruang keluarga, empat hari menjelang tenggat waktu keberangkatan tim dokter Baskoro.
Bermenit-menit aku menumpahkan unek-unek. Aku benar-benar frustasi.“Pa, berapa kali kukatakan. Bukankah kita sudah sepakat sebelumnya?Waktu itu aku sudah bilang pada Papa. Papa berkata, “terserah kau mau kemana, Na. Yang penting kau lulus dan jadi dokter”. Apa Papa mau melanggarnya?Bukankah Papa sendiri yang mengajar kami agar taat pada peraturan, disiplin pada aturan dan memegang teguh janji serta bertanggung jawab?Dimana Papa yang selalu memegang prinsip itu?!”
“Jangan sekali-kali menguliahi Papa, Re!”Kata Kak Rado menahan geram. Wajahnya gusar. Papa mengangkat tangan. Kak Rado mendesah putus asa. Masa bodoh!
“Na, Papa mohon. Ini demi kebaikanmu. Lupakanlah Papua Barat. Papa bisa membantu. Papa punya banyak kolega. Tak ada hal bagus yang bisa kamu dapatkan di sana. Pokoknya kamu tidak boleh pergi!Kamu mengerti?!”
Rahang Papa mendadak mengeras. Sikapnya berubah berwibawa. Tegas dan mematikan. Mama duduk di sebelah dengan sikap serupa. Tekadnya meruntuhkan sikap kerasku terpancar. Kak Rangga lebih lunak. Dia tersenyum menyemangati. Dari dulu selalu begitu. Mendukung dan memberiku kebebasan secara tepat.
Aku menghela napas panjang. “Baik, apa pendapat Papa kalau aku punya mimpi?Dari dulu aku selalu menuruti apa pun kemauan dan kata-kata Papa Mama. Tak pernah sekali pun aku membantah. Tak pernah. Papa Mama mengaturku sekolah dimana, les apa, bahkan akan jadi apa. Kak Rado dan Kak Rangga bisa memilih hidup mereka sendiri. Tapi aku tidak. Lalu apa bedanya aku dengan mereka?Untuk pertama kalinya, aku benar-benar punya keinginan. Hanya sekali saja, Pa, Ma. Lebih baik aku memilih hidupku untuk sekali ini dan kalau menyesalinya, itu salahku sendiri. Daripada orang lain yang memilihnya, lalu saat menyesalinya, aku jadi menyalahkan orang lain.”
Lalu tiba-tiba, tanpa peringatan, tanpa tanda-tanda, di tengah usaha Papa membalasku berapi-api, serangan itu memukul jantungnya. Beliau kehabisan napas dan tersungkur kesakitan menghujam lantai. Mama kaget, berteriak histeris. Kak Rangga dan lainnya menghampiri Papa. Untung Kak Rado tanggap menelepon ambulans. Sementara aku terpaku ngeri. Membeku hingga sekujur tubuh. Oh, Tuhan!Tuhan!Tuhan!
Ketegangan itu berlanjut di rumah sakit. Papa dilarikan ke ruang UGD dan hampir berjam-jam di sana tanpa irama kehidupan. Mama terisak, tubuhnya berguncang hebat. Kak Rangga merangkul lembut, menenangkannya. Sejak dulu dia ahli dalam hal itu. Tangis Mama agak reda, menyisakan wajah letih. Paman, Bibi, Om, Tante, sepupu-sepupuku menyusul kemudian. Ruang tunggu itu jadi sesak. Aku menangis kencang, menyesali semuanya. Apalagi Kak Rado sempat murka. Membuat rasa bersalahku menjadi-jadi. Namun Kak Rangga menengahi. Sedikit membelaku tepatnya. Padahal aku layak ditampar keras.
Untunglah Papa sempat diselamatkan. Untuk sementara Beliau harus istirahat total di rumah sakit. Aku sengaja menghindar, tak mendekati Beliau. Takut memompa jantungnya lagi. Susah payah, aku bertahan mengintip Papa yang dibaringkan selama seminggu ini. Yang mengejutkanku, Papa sendiri yang ingin berbicara dan mendengar suaraku. Aku teramat merindukan Beliau. Ternyata Papa juga kelewat sayang dan kangen padaku.
Kata-katanya membuat kegembiraanku meluap. “Na, Papa pikir … Ternyata Papa begitu egois padamu dan kakak-kakakmu. Papa dan Mama selalu menuntut kalian seperti kami. Kami hanya ingin melindungi kalian dari kerasnya hidup. Tidak aneh kalau Kak Rado dan Kak Rangga memberontak. Sungguh tak bijaksana. Bagaimana pun kuatnya, kerasnya perlindungan ortu, tak berarti anak akan aman. Hidup anak bukan ditentukan oleh ortu. Ortu seharusnya mendukung apa pun keputusan anak, karena yang akan menjalaninya bukan mereka. Sampai kapan pun anak takkan bertumbuh dewasa bila ortu selalu protektif dan mengatur anak. Jadi, Na. Pergilah, Sayang. Bertumbuh dewasalah, raihlah cita-citamu. Dan ingatlah, kami, Papa Mama, akan selalu menunggumu kembali.”
Airmataku meleleh tak henti. Aku memeluk lembut Papa, lalu mendekap hangat Mama. Aku benar-benar bahagia, dicintai begitu hebat oleh Papa dan Mama. Aku pun sangat mencintai mereka.
* * * * *
Sebulan lamanya aku tenggelam dalam merawat orang-orang yang terserang malaria. Wabah malaria sedemikian hebat hingga aku dan tim dokter Baskoro berjuang keras. Perlahan-lahan aku menganggap Manokwari itu sebagai rumah keduaku. Orang-orang di sini begitu hangat dan luar biasa. Seperti keluargaku di Bandung. Aku mulai fasih berbahasa setempat. Mereka menyambut kami dengan keramahan indah. Agak sulit menelepon atau mengirim surat di sini. Daerahnya cukup terisolir dan sepi dari dunia luar. Namun perjuangan dan kegigihan mereka membuatku meneteskan air mata haru tiap hari.
Aku menuliskan surat pada Papa dan Mama sebelum mereka sangat rindu dan berpikir aku lenyap. Aku tersenyum membacanya terakhir kali, sebelum menyerahkannya pada Dr. Baskoro yang akan kembali ke Jakarta.

“Untuk Papa dan Mama, Rena baik-baik saja di sini. Orang-orangnya benar-benar hangat dan baik hati seperti Papa Mama. Ini bagai rumah keduaku. Terima kasih sudah mengijinkanku ke sini. Aku sayang kalian.”
(Catatan Harian, 2 Juni 2009)

Potret Sektor Perikanan Papua Barat : Menyongsong Paradigma Ekonomi Biru

           Provinsi Papua Barat dikenal memiliki kekayaan alam bahari sama seperti Provinsi Papua. Kedua provinsi yang berada di ujung timur Indonesia ini berlimpah hasil perikanan dan keanekaragaman ekosistem air. Kekayaan ekosistem air ini yang terkenal hingga ke luar negeri adalah Raja Ampat yang bahkan mendapat julukan The Lost Paradise. Kekayaan ekosistem lain yang tidak kalah dengan pesona Raja Ampat juga dimiliki oleh Kaimana yang terkenal dengan dan Teluk Wondama yang memiliki kawasan konservasi alam berupa terumbu karang dan karang laut yang indah, dikenal dengan nama Taman Nasional Teluk Cenderawasih.


            Berdasarkan data PDRB dengan migas (minyak bumi dan gas bumi), subsektor perikanan menyumbangkan sekitar 4,36 persen terhadap penciptaan PDRB pada tahun 2012. Bahkan selama tahun 2002, pada awal pemekaran Papua Barat subsektor ini memiliki sumbangan sebesar 11,64 persen. Meskipun selama tahun 2003-2012, sumbangan subsektor perikanan cenderung menurun, namun tetap menjadi yang tertinggi dibandingkan keempat subsektor lainnya dalam sektor pertanian. Sedangkan bila dalam PDRB tanpa migas, maka sumbangan subsektor ini jauh lebih tinggi, yaitu sebesar 9,93 persen pada tahun 2012. Meski sumbangan terhadap PDRB cukup baik, justru kinerja pertumbuhan subsektor ini cenderung naik turun selama tahun 2003-2012. Pada tahun 2012 subsektor perikanan justru mengalami kontraksi menjadi minus 0,22 persen. Artinya produksi subsektor perikanan mengalami penurunan drastis bila dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini kemungkinan dipicu oleh musim angin yang berubah-ubah tiap tahun, peralihan kegiatan ekonomi oleh nelayan dikarenakan ketidakpastian cuaca dan resiko keselamatan yang cukup tinggi ketika melaut sehingga nelayan mengurangi frekuensinya dalam penangkapan ikan dan justru beralih profesi misalnya bertani atau menjadi buruh pertanian.


            Sementara jumlah rumah tangga yang mengelola budidaya ikan di Papua Barat baik ikan air tawar maupun ikan air laut termasuk cukup sedikit. Hal ini mungkin karena jumlah orang yang memiliki pengetahuan dalam budidaya ikan tergolong cukup sedikit. Berdasarkan data Statistik Indonesia Tahun 2011, jumlah rumah tangga perikanan untuk budidaya laut sebanyak 2.008 rumah tangga, budidaya tambak sebanyak 202 rumah tangga, budidaya kolam sebanyak 2.444 rumah tangga, budidaya sawah sebanyak 27 rumah tangga. Jumlah rumah tangga perikanan budidaya meningkat sekitar 1,6 kali lipat dibandingkan tahun 2010, atau secara persentase terjadi peningkatan sebesar 59,54 persen. Namun untuk kawasan Sulampua (Sulawesi, Maluku dan Papua), jumlah rumah tangga yang berusaha di sektor perikanan budidaya di Papua Barat tahun 2011 berada di urutan ke 9 setelah Gorontalo dan sedikit lebih baik daripada Maluku Utara. Bandingkan dengan Papua yang memiliki rumah tangga perikanan budidaya sebanyak 7.165 rumah tangga meski secara persentase hanya mengalami kenaikan sekitar 20,44 persen dibandingkan tahun 2010 (tahun 2010 rumah tangga perikanan budidaya sebanyak 5.949 rumah tangga). Meskipun jumlah rumah tangga budidaya jauh lebih sedikit, namun bila terjadi peningkatan signifikan setiap tahunnya, maka kemungkinan perikanan Papua Barat akan mampu mendongkrak perekonomian di sektor pertanian karena nilai tambah perikanan budidaya lebih besar dan hasilnya berkelanjutan dengan pembiayaan lebih minim daripada perikanan tangkap. Secara ekonomis, membudidayakan ikan memerlukan waktu yang lama dibandingkan penangkapan ikan baik di perairan laut maupun perairan umum. Namun penangkapan ikan memerlukan pembiayaan yang cukup besar, biasanya mencakup biaya BBM, balas jasa tenaga yang dipekerjakan dan sewa perahu. Budidaya ikan akan lebih menguntungkan dari sisi ekonomi karena tidak terpengaruh musim seperti halnya penangkapan ikan.


            Secara sumber daya sebenarnya Papua Barat memiliki kekayaan laut yang melimpah karena dikelilingi oleh perairan laut bebas, terutama Kabupaten Raja Ampat. Bahkan Papua Barat memiliki pulau terbanyak di kawasan Sulampua (sebanyak 1.945 pulau) yang tentunya dikelilingi oleh perairan. Sementara Papua hanya memiliki pulau sebanyak 598 pulau. Ini berarti Papua Barat memiliki potensi perikanan yang besar. Namun berdasarkan data Dirjen Perikanan Tangkap Indonesia, jumlah produksi perikanan tangkap Papua Barat sebanyak 117.299 ton pada tahun 2011 atau sekitar 2,05 persen terhadap produksi perikanan Indonesia. Sementara produksi perikanan Papua sekitar 4,84 persen terhadap Indonesia dan jumlahnya 2,4 kali lipat dibandingkan Papua Barat. Artinya perikanan tangkap di Papua lebih produktif karena jumlah rumah tangga yang berusaha di sektor perikanan tangkap 3 kali lipat lebih banyak daripada Papua Barat. Sementara untuk produksi perikanan budidaya Papua Barat sebanyak 29.784 ton pada tahun 2011. Jumlah ini mengalami kenaikan dibandingkan tahun 2010 yaitu sebesar 36,94 persen. Bahkan produksi perikanan budidaya Papua Barat sekitar 7,16 kali lipat lebih banyak daripada Papua. Artinya meski jumlah rumah tangga perikanan budidaya di Papua Barat lebih sedikit namun lebih produktif dalam menghasilkan komoditas perikanan.


            Nilai tambah subsektor perikanan dalam PDRB tertinggi dibandingkan subsektor lain untuk sektor pertanian. Subsektor ini dapat menginput bahan baku ke sektor industri pengolahan hasil-hasil perikanan, misalnya dalam pembuatan ikan kaleng atau udang beku. Nilai tambahnya akan mengalami peningkatan dibandingkan jika tidak diolah lebih lanjut. Upaya industrialisasi sektor perikanan ini diprediksi mampu menggerakkan perekonomian Papua Barat karena bahan baku tidak perlu diimpor sehingga keberadaan sektor ini akan memberikan efek terhadap sektor-sektor lain. Industrialisasi tersebut dikenal dengan istilah ekonomi biru (blue economy) yang merupakan sebuah paradigma (konsep) baru yang bertujuan untuk menghasilkan pertumbuhan ekonomi dari sektor kelautan dan perikanan, sekaligus menjamin kelestarian sumberdaya serta lingkungan pesisir dan lautan. Pendekatan pembangunan industrialisasi kelautan dan perikanan melalui blue economy merupakan model pendekatan pembangunan ekonomi yang tidak lagi mengandalkan pembangunan ekonomi berbasis eksploitasi sumber daya alam dan lingkungan yang berlebihan. Artinya meski terjadi proses industrialisasi yang dituding dapat merusak lingkungan, namun konsep ekonomi biru tetap memperhatikan aspek ekosistem perairan.


            Industrialisasi perikanan merupakan upaya untuk menjadikan sektor perikanan menjadi sebuah kegiatan industri dan berorientasi pada skala industri. Industrialisasi perikanan mengembangkan sektor perikanan secara terintegrasi dari hulu ke hilir. Integrasi ini akan menciptakan kesetaraan usaha perikanan hulu dan hilir. Konsep industrialisasi perikanan yang akan dikembangkan yaitu program industrialisasi perikanan yang bertujuan untuk meningkatkan produktivitas dan nilai tambah produk perikanan (value added), sekaligus meningkatkan daya saing yang berbasis pada ilmu pengetahuan dan teknologi. Kementrian Kelautan dan Perikanan memperkenalkan konsep ekonomi biru pada tahun 2012. Program industrialisasi kelautan dan perikanan bertujuan untuk meningkatkan produktivitas dan nilai tambah produk kelautan dan perikanan, sekaligus meningkatkan daya saing yang berbasis pada ilmu pengetahuan dan teknologi.  Ada tujuh hal yang ingin dicapai dalam industrialisasi perikanan yaitu peningkatan nilai tambah, peningkatan daya saing, modernisasi sistem produksi hulu dan hilir, penguatan pelaku industri perikanan, berbasis komoditas, wilayah dan sistem manajemen, berkelanjutan serta transformasi sosial.   
     

            Konsep industrialisasi perikanan sebenarnya akan memberi manfaat yang tepat bila sasaran jelas dan programnya memiliki fokus serta berkelanjutan. Salah satu masalah dalam pengembangan sektor perikanan di Papua Barat adalah minimnya daerah pemasaran, terutama karena nelayan tidak memiliki posisi tawar-menawar harga yang seimbang dengan pedagang besar ikan. Musim cuaca yang berubah-ubah turut berdampak pada turunnya produksi ikan pada perikanan tangkap. Pemerintah daerah seharusnya juga lebih giat dalam mendorong pengembangan perikanan budidaya khususnya budidaya ikan laut. Nasib nelayan perlu mendapat perhatian, tidak hanya terbatas pada pemberian bantuan alat tangkap ikan saja, namun juga dalam hal penyediaan daerah pemasaran ikan. Meningkatnya produksi perikanan tidak serta merta berdampak pada kesejahteraan nelayan. Nilai tambah yang lebih tinggi adalah produk perikanan hasil olahan industri karena selain dapat memenuhi kebutuhan domestik di Papua Barat, juga akan memberi sumbangan terhadap peningkatan pendapatan asli daerah melalui ekspor. Jauh lebih tinggi nilai ekspor produk pertanian hasil olahan industri daripada komoditas perikanan mentah.



            Konsep ekonomi biru dirasa tepat untuk pengembangan ekonomi kerakyatan yang berbasis subsektor perikanan di Papua Barat bila pemerintah daerah dan pihak-pihak yang terkait serius dalam mengembangkannya. Fokus dalam konsep ini bukan pada hasil yaitu peningkatan produksi subsektor pertanian setiap tahun tetapi pada bagaimana mengoptimalkan potensi perikanan di wilayah dengan program yang bersinergi, berkelanjutan serta berwawasan lingkungan. Industrialisasi perikanan perlu tanpa harus mengeksploitasi ekosistem laut secara berlebihan. Utamanya adalah peningkatan kesejahteraan nelayan terutama di daerah pesisir pantai. Pemerintah daerah perlu menyusun suatu masterplan ekonomi biru yang terarah dan berorientasi pada peningkatan subsektor perikanan sebagai penggerak perekonomian. Sektor perikanan khususnya perikanan budidaya tidak bisa lepas dari dukungan pemerintah karena sebagian besar rumah tangga perikanan memiliki skala usaha menengah ke bawah. Konsep ekonomi biru perlu diterapkan dengan dukungan penuh dari pemerintah daerah, pengusaha, investor dan pihak terkait lainnya demi masa depan subsektor perikanan di Papua Barat yang lebih baik demi terwujudnya kesejahteraan masyarakat, khususnya nelayan. Diharapkan perikanan akan mampu menjadi salah satu sektor penggerak perekonomian wilayah dan memberi dampak terhadap sektor lain dalam perekonomian melalui proses industrialisasi perikanan.