Thursday, February 25, 2016

Potret Sektor Transportasi Wilayah Timur Indonesia



          Wilayah Timur Indonesia mencakup Maluku dan Papua yang meliputi 4 provinsi, yaitu Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat. Sebagian besar wilayah tersebut dapat dijangkau melalui transportasi darat, laut dan udara, namun tidak semuanya memiliki rute reguler. Lebih ekstrimnya, Provinsi Papua misalnya, wilayahnya lebih banyak yang sulit dijangkau kecuali melalui transportasi udara. Hal ini merupakan kendala terbesar yang berdampak pada aksessibilitas wilayah, yang selanjutnya mempengaruhi distribusi barang dan jasa. Komoditas yang dipasok dari luar wilayah timur rentan dengan sensivitas harga, tergantung pada arus transportasi yang membawa komoditas tersebut. Kecepatan kenaikan harga barang dan jasa atau dikenal dengan istilah “inflasi” termasuk cukup tinggi. Namun problem terbesar bukan hanya pada faktor harga saja, tetapi juga pada ketersediaan komoditas untuk memenuhi kebutuhan domestik di wilayah timur.


            Sektor transportasi menghubungkan daerah-daerah yang berada dalam satu wilayah dan dari luar wilayah. Sektor ini terdiri dari transportasi darat (bus antar kota, kereta, minibus), transportasi laut (kapal, perahu, atau jonson), dan transportasi udara (pesawat). Papua Barat, contohnya hanya dalam wilayah yang terjangkau oleh transportasi darat sedangkan untuk hubungan ke luar hanya menggunakan pesawat dan kapal laut. Serupa dengan Maluku dan Maluku Utara yang berupa kepulauan, bahkan provinsi ini tidak dapat menggunakan transportasi darat untuk lintas antar wilayah. Provinsi Papua sendiri dominan menggunakan pesawat udara. Masing-masing provinsi telah dilengkapi dengan infrastuktur pendukung transportasi, yaitu pelabuhan yang dikelola PT Pelindo, bandar udara dengan standar sesuai peraturan keselamatan nasional, dan armada yang dioperasikan oleh swasta maupun perorangan.


            Kemajuan sektor transportasi di wilayah timur Indonesia tergolong lebih lambat dibandingkan wilayah barat dan tengah. Meski telah dilengkapi oleh infrastuktur dasar, yaitu jalan, jembatan, pelabuhan, bandar udara, terminal, namun keadaan geografis wilayah cukup menghambat pembangunan sarana dan prasarana fisik. Di Papua Barat, sebagai contohnya hanya memiliki tiga pelabuhan besar yang dikelola oleh Pelindo, enam pelabuhan perintis khusus untuk ASDP (Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan), dan enam bandar udara. Wilayah Papua Barat sebenarnya terdiri dari 12 kabupaten dan satu kota (data tahun 2015) sehingga untuk empat kabupaten pemekaran baru (Kabupaten Tambrauw, Maybrat, Pegunungan Arfak dan Manokwari Selatan) masih mengandalkan infrastruktur pendukung transportasi yang minim dan armada terbatas. Bandingkan dengan wilayah barat dan tengah yang rata-rata telah mampu menjangkau wilayah-wilayah dengan berbagai pilihan transportasi baik dari jalur darat, laut maupun udara, meski masih terdapat wilayah yang hanya diakses satu jenis transportasi saja.


            Sektor transportasi memegang peranan penting dalam arus distribusi barang dan jasa. Adanya rute reguler dan armada transportasi yang memadai menyebabkan pasokan barang dan jasa yang ke luar masuk wilayah tersebut akan lancar. Selain itu, biaya pengangkutan memiliki pengaruh besar dalam penentuan harga barang dan jasa karena komponen biaya ini dapat menaikkan maupun menurunkan harga. Dengan demikian, bila biaya pengangkutan dibebankan pada konsumen maka harga komoditas akan meningkat. Kebutuhan domestik akan komoditas yang tidak diproduksi di wilayah tersebut juga dapat memicu tingginya permintaan.


            Program tol laut yang diluncurkan oleh Presiden RI, Jokowi pada akhir tahun 2015 boleh jadi membawa angin segar terutama untuk wilayah paling timur Indonesia, yaitu Papua dan Papua Barat yang memiliki harga komoditas yang cukup tinggi se-Indonesia. Dengan adanya tol laut yang berupa pembangunan pelabuhan yang dikenal dengan istilah deep sea port menghubungkan pulau-pulau di Indonesia diharapkan kesenjangan harga dapat diminimalisir dan tingkat inflasi terkendali. Dengan adanya deep sea port ini, maka akan ada kapal besar yang setiap hari keluar-masuk sehingga harga komoditas di semua pulau menjadi sama. Program tol laut diklaim mampu memangkas disparitas harga dari daerah produksi dengan daerah terpencil di Indonesia hingga 30 persen. 


            Pembangunan tol laut ini diharapkan memicu stimulus positif terhadap peningkatan sektor transportasi ke arah lebih baik. Kinerja pertumbuhan sektor transportasi di Papua dan Papua Barat juga berpeluang besar untuk tumbuh. Jumlah permintaan konsumen untuk sektor transportasi di Pulau Papua menunjukkan lonjakan yang signifikan, terutama transportasi laut dan udara. Hal ini terutama ditunjukkan oleh kenaikan jumlah penumpang dan frekuensi penerbangan atau pelayaran. Provinsi Papua contohnya, pada tahun 2014 jumlah penumpang kapal yang berangkat dari pelabuhan mencapai 333.929 orang, naik sekitar 67,15 persen dibandingkan tahun 2013 (199.774 orang). Demikian juga dengan frekuensi pelayaran juga meningkat tajam dari 475 kunjungan di tahun 2013 menjadi 654 kunjungan di tahun 2014 atau naik sekitar 37,68 persen. Meski kinerja pertumbuhan sektor transportasi Provinsi Papua selama dua tahun terakhir berkisar 8 - 11 persen dan kontribusinya terhadap perekonomian regional selama 2010-2014 hanya sekitar 3 – 6 persen. Namun mengingat kebutuhan penduduk di Pulau Papua yang tinggi akan sektor transportasi, maka sektor ini berpeluang tumbuh positif bila disertai peningkatan pelayanan dan perbaikan infrastruktur pendukung transportasi yang kontinu.

 (Catatan Kaki, Sorong, Februari 2016)

No comments:

Post a Comment