Thursday, February 25, 2016

Potret Sektor Transportasi Wilayah Timur Indonesia



          Wilayah Timur Indonesia mencakup Maluku dan Papua yang meliputi 4 provinsi, yaitu Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat. Sebagian besar wilayah tersebut dapat dijangkau melalui transportasi darat, laut dan udara, namun tidak semuanya memiliki rute reguler. Lebih ekstrimnya, Provinsi Papua misalnya, wilayahnya lebih banyak yang sulit dijangkau kecuali melalui transportasi udara. Hal ini merupakan kendala terbesar yang berdampak pada aksessibilitas wilayah, yang selanjutnya mempengaruhi distribusi barang dan jasa. Komoditas yang dipasok dari luar wilayah timur rentan dengan sensivitas harga, tergantung pada arus transportasi yang membawa komoditas tersebut. Kecepatan kenaikan harga barang dan jasa atau dikenal dengan istilah “inflasi” termasuk cukup tinggi. Namun problem terbesar bukan hanya pada faktor harga saja, tetapi juga pada ketersediaan komoditas untuk memenuhi kebutuhan domestik di wilayah timur.


            Sektor transportasi menghubungkan daerah-daerah yang berada dalam satu wilayah dan dari luar wilayah. Sektor ini terdiri dari transportasi darat (bus antar kota, kereta, minibus), transportasi laut (kapal, perahu, atau jonson), dan transportasi udara (pesawat). Papua Barat, contohnya hanya dalam wilayah yang terjangkau oleh transportasi darat sedangkan untuk hubungan ke luar hanya menggunakan pesawat dan kapal laut. Serupa dengan Maluku dan Maluku Utara yang berupa kepulauan, bahkan provinsi ini tidak dapat menggunakan transportasi darat untuk lintas antar wilayah. Provinsi Papua sendiri dominan menggunakan pesawat udara. Masing-masing provinsi telah dilengkapi dengan infrastuktur pendukung transportasi, yaitu pelabuhan yang dikelola PT Pelindo, bandar udara dengan standar sesuai peraturan keselamatan nasional, dan armada yang dioperasikan oleh swasta maupun perorangan.


            Kemajuan sektor transportasi di wilayah timur Indonesia tergolong lebih lambat dibandingkan wilayah barat dan tengah. Meski telah dilengkapi oleh infrastuktur dasar, yaitu jalan, jembatan, pelabuhan, bandar udara, terminal, namun keadaan geografis wilayah cukup menghambat pembangunan sarana dan prasarana fisik. Di Papua Barat, sebagai contohnya hanya memiliki tiga pelabuhan besar yang dikelola oleh Pelindo, enam pelabuhan perintis khusus untuk ASDP (Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan), dan enam bandar udara. Wilayah Papua Barat sebenarnya terdiri dari 12 kabupaten dan satu kota (data tahun 2015) sehingga untuk empat kabupaten pemekaran baru (Kabupaten Tambrauw, Maybrat, Pegunungan Arfak dan Manokwari Selatan) masih mengandalkan infrastruktur pendukung transportasi yang minim dan armada terbatas. Bandingkan dengan wilayah barat dan tengah yang rata-rata telah mampu menjangkau wilayah-wilayah dengan berbagai pilihan transportasi baik dari jalur darat, laut maupun udara, meski masih terdapat wilayah yang hanya diakses satu jenis transportasi saja.


            Sektor transportasi memegang peranan penting dalam arus distribusi barang dan jasa. Adanya rute reguler dan armada transportasi yang memadai menyebabkan pasokan barang dan jasa yang ke luar masuk wilayah tersebut akan lancar. Selain itu, biaya pengangkutan memiliki pengaruh besar dalam penentuan harga barang dan jasa karena komponen biaya ini dapat menaikkan maupun menurunkan harga. Dengan demikian, bila biaya pengangkutan dibebankan pada konsumen maka harga komoditas akan meningkat. Kebutuhan domestik akan komoditas yang tidak diproduksi di wilayah tersebut juga dapat memicu tingginya permintaan.


            Program tol laut yang diluncurkan oleh Presiden RI, Jokowi pada akhir tahun 2015 boleh jadi membawa angin segar terutama untuk wilayah paling timur Indonesia, yaitu Papua dan Papua Barat yang memiliki harga komoditas yang cukup tinggi se-Indonesia. Dengan adanya tol laut yang berupa pembangunan pelabuhan yang dikenal dengan istilah deep sea port menghubungkan pulau-pulau di Indonesia diharapkan kesenjangan harga dapat diminimalisir dan tingkat inflasi terkendali. Dengan adanya deep sea port ini, maka akan ada kapal besar yang setiap hari keluar-masuk sehingga harga komoditas di semua pulau menjadi sama. Program tol laut diklaim mampu memangkas disparitas harga dari daerah produksi dengan daerah terpencil di Indonesia hingga 30 persen. 


            Pembangunan tol laut ini diharapkan memicu stimulus positif terhadap peningkatan sektor transportasi ke arah lebih baik. Kinerja pertumbuhan sektor transportasi di Papua dan Papua Barat juga berpeluang besar untuk tumbuh. Jumlah permintaan konsumen untuk sektor transportasi di Pulau Papua menunjukkan lonjakan yang signifikan, terutama transportasi laut dan udara. Hal ini terutama ditunjukkan oleh kenaikan jumlah penumpang dan frekuensi penerbangan atau pelayaran. Provinsi Papua contohnya, pada tahun 2014 jumlah penumpang kapal yang berangkat dari pelabuhan mencapai 333.929 orang, naik sekitar 67,15 persen dibandingkan tahun 2013 (199.774 orang). Demikian juga dengan frekuensi pelayaran juga meningkat tajam dari 475 kunjungan di tahun 2013 menjadi 654 kunjungan di tahun 2014 atau naik sekitar 37,68 persen. Meski kinerja pertumbuhan sektor transportasi Provinsi Papua selama dua tahun terakhir berkisar 8 - 11 persen dan kontribusinya terhadap perekonomian regional selama 2010-2014 hanya sekitar 3 – 6 persen. Namun mengingat kebutuhan penduduk di Pulau Papua yang tinggi akan sektor transportasi, maka sektor ini berpeluang tumbuh positif bila disertai peningkatan pelayanan dan perbaikan infrastruktur pendukung transportasi yang kontinu.

 (Catatan Kaki, Sorong, Februari 2016)

Wednesday, February 24, 2016

Kemiskinan Papua Barat : Antara Angka dan Realitas



             Kemiskinan seringkali dikaitkan dengan ketidakmampuan seseorang atau penduduk untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia, yaitu kesehatan, pendidikan, sandang, pangan dan papan yang layak. Kemiskinan secara harafiah berarti kondisi dimana seorang tidak mampu menghidupi dirinya maupun keluarganya untuk memperoleh pendapatan demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Menurut Sarasutha dan Noor dalam Supadi dan Achmad Rozany (2008 : 3 – 4) “kemiskinan secara konseptual dapat dibedakan atas tiga pengertian, yaitu kemiskinan subyektif, kemiskinan absolut dan kemiskinan relatif. Sedangkan kemiskinan berdasarkan konsep BPS adalah ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. Menurut BPS (2008), berbagai masalah kemiskinan dapat dikelompokkan dalam empat terminologi, yaitu kemiskinan absolut, kemiskinan relatif, kemiskinan kultural dan kemiskinan struktural. Pertanyaan mendasar sesungguhnya, apakah tingkat kemiskinan yang menunjukkan trend penurunan ditunjukkan melalui persentase penduduk miskin yang terus menurun telah sesuai dengan realitas yang terjadi?


            Papua Barat merupakan salah satu provinsi termuda di Indonesia (provinsi ke-32) yang memiliki kekayaan sumber daya alam melimpah, sama halnya dengan Provinsi Papua. Namun justru provinsi ini memiliki tingkat kemiskinan, persentase jumlah penduduk miskin dan distribusi pendapatan yang cukup timpang selama lima tahun terakhir setelah Provinsi Papua. Hal ini dinilai wajar oleh beberapa pihak karena beberapa alasan. Salah satunya adalah keterbatasan infrastruktur dasar yang menghubungkan provinsi ini dengan wilayah lain di Indonesia. Meski wilayah di Papua Barat cukup terpencil, namun transportasi antar daerah masih tergolong cukup lancar dibandingkan Provinsi Papua. Tingkat pertumbuhan ekonomi Papua Barat selama tahun 2010-2014 juga tumbuh positif meski fluktuatif. Pengaruh keberadaan migas yang cukup signifikan hampir identik dengan Provinsi Papua yang sangat bergantung sepenuhnya pada kecepatan dan arah pertumbuhan sektor migas. Hakekatnya pertumbuhan ekonomi yang tinggi seharusnya menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat yang membaik. Namun kondisi riilnya, pendapatan per kapita yang merupakan turunan dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang menunjukkan gambaran kesejahteraan penduduk tidak sejalan dengan tingkat kemiskinan yang masih tinggi. Apakah hal ini berarti bahwa angka kedua indikator ini saling bertentangan?Atau salah satu indikator memiliki keakuratan angka yang meragukan?



            Selama tahun 2007-2010, persentase penduduk miskin Papua Barat mengalami penurunan, sedangkan secara absolut jumlah penduduk miskin relatif turun. Namun untuk periode 2011-2015, tingkat kemiskinan dalam setahun dipantau sebanyak 2 kali, yaitu pada bulan  Maret dan September. Dalam dua tahun terakhir, persentase penduduk miskin maupun jumlah penduduk miskin cenderung menurun. Pada bulan Maret 2013 persentase penduduk miskin Papua Barat sebesar 26,67 persen, selanjutnya pada bulan September 2015 persentasenya menurun sekitar 0,94 persen menjadi 25,73 persen. Penurunan persentase penduduk miskin mengindikasikan adanya peningkatan pendapatan penduduk sehingga mampu melewati garis kemiskinan yang digunakan sebagai ukuran standar menentukan kemiskinan. Namun perlu diperhatikan indeks kedalaman kemiskinan selama Maret 2011-2015 cenderung menurun dari 8,78 pada Maret 2011 menjadi 6,24 pada Maret 2015, berarti bahwa rata-rata pengeluaran penduduk mulai mendekati garis kemiskinan. Bila mendekati garis kemiskinan maka penduduk akan berpeluang rentan kemiskinan. Dengan kata lain, jumlah penduduk Papua Barat yang menjadi miskin akan meningkat.   

Sumber : BPS Provinsi Papua Barat, Indikator Kesejahteraan Rakyat, 2014
            Ketimpangan pendapatan Papua Barat selama 2010-2014 tergolong dalam status ketimpangan rendah, namun terjadi kenaikan dari tahun ke tahun. Hal ini berarti bahwa distribusi pendapatan antar penduduk cukup timpang. Ketimpangan ini akan melahirkan “gap” pendapatan yang makin jauh antara penduduk kaya dan miskin. Secara statistik maupun realitas terdapat kesamaan, yaitu terlihat perbedaan yang mencolok antara si kaya dan si miskin. Sementara itu, meski terdapat kecenderungan penurunan persentase penduduk miskin, banyak pihak menilai pada kenyataannya jumlah penduduk miskin justru bertambah. Ini merupakan paradoks pembangunan yang sulit terjawab bahkan oleh pakar ekonomi dan sosial budaya karena kemiskinan adalah indikator yang kompleks. Perlu adanya kajian mendalam untuk melihat hubungan sebab akibat antara kemiskinan dan indikator makro yang terkait erat. Dengan demikian, kemiskinan tidak dipandang dari satu sisi saja.    

(Kota Sorong, Februari 2016)

Thursday, February 11, 2016

Puisi Angin

Aku berdiri di tengah hamparan pasir putih
Sayup-sayup terdengar debur ombak yang resah
Melagukan ratapan akan kehidupan
Mendambakan sepercik asa harapan
Iramanya begitu pilu
Seakan-akan merobek hingga ke ulu

Aku terdiam membisu
Hendak kubawa kemana sejuta kelu
Langkahku tertahan angin kencang
Aku berjuang bertahan hingga pincang
Angin hanya tertawa mengejek penuh ironi  
Seakan aku hanya segenggam debu tak berarti

Angin terus menghempas
Memaksaku hingga tak bernapas
Angin tak berhenti menyapu keras
Membuatku berjuang untuk melangkah terus
Meski angin takkan berhenti memporak-porandakanku hingga berkeping-keping
Namun aku memilih takkan menyerah meski akhir tak berujung
Suatu hari angin akan kelelahan
Dan aku akan bangga mampu bertahan


Perekonomian Papua Barat : Menapak Harapan di Tahun 2016

            Perekonomian nasional di tahun 2015 bisa dikatakan mengalami kelesuan sebagai dampak dari melemahnya perekonomian global. Melemahnya perekonomian global sangat mempengaruhi perekonomian nasional dan regional di Indonesia karena ekonomi Indonesia cukup rentan terhadap faktor eksternal.

            Pertumbuhan Indonesia pada tahun 2015 tumbuh 4,79 persen atau melambat dibandingkan tahun 2014 sebesar 5,02 persen. Indikator makro lain juga menunjukkan adanya dampak perlambatan ekonomi global, yaitu nilai tukar rupiah yang terus tergerus oleh dolar Amerika, tingkat pengangguran terbuka nasional pada Agustus 2014 sebesar 5,94 persen atau meningkat bila dibandingkan Februari 2014 sebesar 5,70 persen, kinerja ekspor nasional yang terus menurun sejak tahun 2012 dari sebesar 190,02 miliar US Dolar menjadi 175,98 miliar Dolar pada tahun 2014, posisi utang luar negeri Indonesia yang memiliki trend peningkatan sejak tahun 2010 serta indikator moneter lain. Rentannya ekonomi Indonesia juga turut mempengaruhi perekonomian regional, terutama provinsi-provinsi di Pulau Jawa yang menguasai perekonomian nasional dengan kontribusi sebesar lebih dari 50 persen. Khusus untuk wilayah regional timur yang mencakup Maluku dan Papua, perekonomian kedua region tersebut hanya menyumbang sekitar 0,5 persen terhadap perekonomian nasional bila diukur dari pencapaian Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang menjadi ukuran untuk mencerminkan kondisi perekonomian makro. Dengan kata lain, gejolak ekonomi yang terjadi pada Maluku dan Papua hanya menciptakan guncangan yang tak mempengaruhi perkembangan ekonomi Indonesia. Pertanyaannya adalah akankah ada harapan untuk perekonomian yang lebih baik di tahun 2016?

            Provinsi Papua Barat merupakan sebuah provinsi di Pulau Papua yang dimekarkan dari Provinsi Papua berdasarkan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 1999. Sejak tahun 2010, Papua Barat mengalami perkembangan pesat dalam pembangunan infrastuktur fisik untuk menunjang kegiatan ekonomi yang pada akhirnya dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk di wilayah ini yang cukup tertinggal bila dibandingkan wilayah lain di Indonesia. Perekonomian Papua Barat terbilang cukup menjanjikan terlebih dengan keberadaan Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah, sama halnya seperti Provinsi Papua. Papua Barat memiliki aset SDA gas alam cair yang diolah oleh perusahaan raksasa BP (British Petroleum) sejak Juni 2009 di Kabupaten Teluk Bintuni. Keberadaan gas alam cair Tangguh serta merta berdampak terhadap perekonomian Papua Barat pada tahun 2010 yang tumbuh sangat tinggi, yaitu sebesar 46,56 persen (data BPS, PDRB tahun dasar 2010). Bahkan sektor migas menguasai lebih dari separuh dari penciptaan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) selama lima tahun terakhir, artinya perekonomian Papua Barat tergolong sangat rapuh dikarenakan guncangan eksternal yang negatif terhadap sektor migas akan menyebabkan perlambatan ekonomi daerah.


            Trend kecenderungan pertumbuhan ekonomi Provinsi Papua Barat dapat diperkirakan dari pergerakan laju pertumbuhan sektor migas, yaitu lapangan usaha Pertambangan Migas dan Industri Pengolahan Migas. Jika kedua sub kategori tersebut mengalami pertumbuhan positif yang cukup tinggi maka dapat dipastikan laju pertumbuhan ekonomi daerah akan positif tinggi atau mengalami percepatan. Selama dua tahun terakhir (tahun 2014-2015), perekonomian Papua Barat mengalami perlambatan meskipun tumbuh positif searah dengan perlambatan ekonomi nasional. Hal ini diperkirakan karena faktor eksternal dari perlambatan ekonomi nasional akibat kelesuan ekonomi global yang dipicu dari perlambatan ekonomi Amerika dan Tiongkok. Sebagai pengimpor terbesar komoditas Indonesia, dua negara tersebut memiliki pengaruh yang besar dalam perekonomian Indonesia. Bila sentimen pasar masih negatif dalam merespon setiap kebijakan pemerintah maka perlambatan ekonomi pada tahun 2016 tidak terelakkan. Pemerintah Indonesia perlu mengantisipasi faktor eksternal yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi perkembangan ekonomi.

            Pertanyaannya, bagimana dengan kondisi perekonomian Papua Barat di tahun 2016?Tidak berbeda dengan nasional, Papua Barat juga sangat rentan terhadap faktor eksternal. Pada tahun 2014, laju pertumbuhan ekonomi Papua Barat tumbuh melambat sebesar 5,38 persen dibandingkan tahun 2013. Demikian juga pada tahun 2015 yang mengalami perlambatan ekonomi sebesar 4,10 persen. Kondisi perekonomian Papua Barat yang lesu terutama dipicu dari situasi perekonomian Indonesia selama tahun 2014-2015. Untuk tahun 2016, para pakar ekonomi memprediksi perekonomian nasional akan membaik. Hal ini ditandai dengan optimisme para pelaku ekonomi terhadap perekonomian Amerika dan Tiongkok yang menunjukkan sinyal positif. Ekonomi Indonesia masih dapat tumbuh lebih baik pada tahun 2016 didasarkan pada mulai berjalannya program tol laut yang digagas pemerintahan Joko Widodo sehingga dengan adanya tol laut akan menurunkan biaya logistik terutama ke wilayah timur Indonesia. Papua Barat akan memperoleh stimulus positif dengan pembangunan tol laut tersebut. Distribusi barang akan lancar sehingga dengan sendirinya inflasi akan terkendali dan daya beli masyarakat meningkat.


            Perekonomian Papua Barat yang tergolong rentan terhadap kondisi ekonomi nasional perlu dibenahi. Sumber pertumbuhan ekonomi Papua Barat lebih banyak ditopang dari lapangan usaha Konstruksi, selain industri migas. Hal ini berarti bahwa naik turunnya ekonomi Papua Barat dipengaruhi dari pembangunan infrastruktur fisik dan membaiknya iklim investasi untuk sektor tersebut. Memasuki tahun 2016, pemerintah daerah di Papua Barat perlu membuat kebijakan progresif untuk mendorong tumbuhnya sektor UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) yang memproduksi barang dan jasa. Selain itu impor barang juga harus didukung oleh peningkatan sektor transportasi yang memadai karena sebagian besar barang yang beredar di Papua Barat sepenuhnya berasal dari luar wilayah seperti Surabaya, Manado dan Makassar. Adanya sinyalemen positif dari ekonomi nasional perlu direspon dengan tepat agar pertumbuhan ekonomi Papua Barat membaik di tahun 2016.

(Opini, Elfryanty, Februari 2016)

Tuesday, January 26, 2016

Sorong, Pesona Sejarah Daerah Timur

           Sorong dikenal dengan sebutan “pintu gerbang daerah timur”. Awalnya Kota Sorong merupakan salah satu kecamatan yang dijadikan pusat pemerintahan Kabupaten Sorong. Kemudian statusnya ditingkatkan dari Kota Administratif Sorong menjadi Kota Sorong berdasarkan Undang-undang Nomor 45 tahun 1999. Kota Sorong mengalami perkembangan pesat menjadi pusat ekonomi, perdagangan, dan kepadatan penduduk mulai tahun 2010 dikarenakan posisinya yang strategis serta tofografinya yang lebih memungkinkan pembangunan infrastuktur fisik dibandingkan wilayah lain di Papua Barat. Namun jangan salah, meski pusat ekonomi di bagian kepala burung, ternyata Kota Sorong juga memiliki pesona tersendiri yang seharusnya tidak boleh dilewatkan sebagai daerah destinasi sejarah.

Dokumentasi : Tugu ucapan selamat datang


Lokasi dan Transportasi

          Kota Sorong terletak di ujung timur Indonesia, tepatnya di kepala burung Pulau Papua. Anda dapat menggunakan maskapai Garuda Indonesia, Sriwijaya Air dan Express Air untuk menjangkau kota ini. Bahkan ada penerbangan yang langsung ke Kota Sorong tanpa transit, yaitu rute Jakarta-Sorong menggunakan Express Air dengan harga tiket berkisar Rp. 1.600.000,- hingga Rp. 2.100.000,-. Bila terbang dengan Garuda Indonesia atau Sriwijaya Air biasanya pesawat akan transit di Kota Makassar. Untuk rute Ambon-Sorong menggunakan maskapai Wings Air yang singgah lebih dahulu di Bandara Torea, Fakfak dan Bandara Utarum, Kaimana.

          Setelah tiba di Bandara Domine Eduard Osok (DEO) Sorong, anda dapat menggunakan jasa taksi bandara atau ojek yang diparkir di areal bandara. Bila anda backpacker dengan kocek terbatas, anda dapat menggunakan angkot namun harus berjalan sekitar 100 meter ke luar bandara.


PULAU DOFIOR

        Pulau Dofior atau biasanya disebut sebagai tugu selamat datang merupakan tugu ikonik di Kota Sorong. Artinya belum menginjakkan kaki di Kota Sorong bila tidak mengunjungi spot menarik ini. Anda dapat berfoto di sini karena biasanya tugu ini digunakan sebagai tempat untuk mengabadikan kenangan bahwa mereka pernah datang ke Sorong. Perlu diingat bahwa tempat ini hanya dapat disinggahi bila air laut sedang surut dan itu pun space-nya terbatas karena Pulau Dofior sebenarnya pulau kecil di tengah lautan luas.


Dokumentasi : Menara Jeffman di Pulau Dofior
      Akses ke Pulau Dofior menggunakan taksi laut dari Halte Doom, yaitu halte yang terletak di sebelah Pelabuhan Sorong. Bila anda tiba di Bandara Domine Eduard Osok (DEO) Sorong, anda dapat melanjutkan perjalanan dengan naik angkot (angkutan kota) warna kuning sebanyak dua kali dengan rute H dan rute B. Tarif angkot hanya sebesar Rp. 5.000,- untuk dewasa sekali jalan. Jika menggunakan taksi bandara hanya memakan waktu sekitar 15 menit ke Pelabuhan Sorong dengan tarif lebih mahal, yaitu Rp. 150.000,- hingga Rp. 200.000,- atau jasa ojek dengan merogoh kocek sekitar Rp. 25.000,- hingga Rp. 30.000,-. Dari Halte Doom, anda naik taksi laut dengan perkiraan perjalanan sekitar 30 – 45 menit, tergantung gelombang laut.

TEMBOK DOFIOR (TEMBOK BERLIN)

          Tembok Dofior atau lebih dikenal dengan nama Tembok Berlin merupakan spot atau objek yang menarik bagi anda yang ingin menikmati suasana sunset yang romantis di sore hari. Keindahan senja dengan siluet matahari yang perlahan-lahan terbenam membuat momen anda bersama pasangan terasa indah.

Dokumentasi : Indahnya senja di Tembok Berlin
Tembok Berlin juga dapat menjadi pilihan keluarga bersantai sambil menikmati suasana wisata pantai. Pada sore hingga malam, deretan panjang warung-warung makan terutama bagi pecinta seafood akan memanjakan lidah anda. Jangan lupa untuk memesan saraba, minuman khas daerah timur yang mirip wedang jahe namun dengan sentuhan citarasa Papua. Anda juga dapat meminta saraba dicampur susu atau coklat.
          Untuk menuju Tembok Berlin, anda hanya perlu berjalan kaki sekitar 200 meter dari Pelabuhan Sorong atau menggunakan taksi bandara dari Bandara DEO untuk menempuh perjalanan selama 15 menit.

PANTAI TANJUNG KASUARI

          Pantai Tanjung Kasuari termasuk satu dari dua pantai yang menjadi objek wisata alam andalan di daratan Kota Sorong. Anda akan terbuai dengan pesona pantai dengan hamparan pasir putih yang indah. Belum lagi debur ombak pantai dan barisan pohon kelapa yang menambah keelokan panorama pantai ini. Di sini disediakan fasilitas perahu kayu bagi anda yang ingin menjelajahi tepi pantai yang dangkal dan honai-honai untuk bersantai menikmati kesejukan angin. Honai adalah rumah khas Papua yang terbuat dari rumbia. Namun honai di sini tak berdinding sehingga anda masih dapat menikmati pemandangan.  


Dokumentasi : Debur ombak Pantai Tanjung Kasuari
          Untuk menjangkau pantai ini, anda harus menggunakan transportasi darat. Lama perjalanan dari Bandara DEO dengan taksi bandara sekitar satu jam. Bila anda tiba di Pelabuhan Sorong dengan kapal, anda hanya memerlukan waktu 30 menit dengan mobil rental. Belum ada transportasi umum ke tempat ini. Tarif jasa taksi bandara dikenakan sebesar Rp. 250.000,- hingga 300.000,-; sementara rental mobil sekitar Rp. 150.000,- pp.

PULAU DOOM
       Bagi anda yang ingin menyusuri sejarah, Pulau Doom merupakan saksi bisu masa penjajahan Belanda karena pulau ini pernah dijadikan pusat perdagangan dan pemerintahan. Tak heran masih tersisa peninggalan-peninggalan yang memiliki nilai sejarah tinggi bagi Bangsa Indonesia di pulau ini. Rumah-rumah berjajar dan berderet rapi serta pipa-pipa yang mengaliri semua rumah menjadi bukti sejarah keberadaan Belanda.

Dokumentasi : Pulau Doom yang bernilai historis tinggi
          Menariknya Pulau Doom juga menjadi saksi sejarah saat pendudukan tentara Jepang di daerah timur. Di sini banyak terdapat gua-gua bawah tanah yang difunsikan tentara Jepang sebagai bunker pertahanan pada masa itu.
          Pulau Doom dapat ditempuh melalui taksi laut dari Halte Doom selama 30 menit atau dapat menggunakan perahu bermotor yang disewa dengan tarif sesuai kesepakatan tawar-menawar.

Taman Wisata Hutan Lindung (Arboretum)
          Hutan di Papua Barat masih dipertahankan eksistensinya sebagai sumber paru-paru bagi penduduknya. Tak terkecuali di Kota Sorong yang memiliki hutan wisata yang terkenal dengan nama “Taman Wisata Hutan Lindung” atau Taman Wisata Arboretum. Arboretum adalah Bahasa Latin untuk hutan lindung.

Dokumentasi : Gerbang masuk Taman Wisata Arboretum
        Di hutan wisata ini telah disediakan fasilitas honai-honai yang nyaman untuk bersantai hingga area camping bagi pengunjung yang ingin merasakan suasana hutan. Anda juga dapat melepaskan penat atau stress saat menikmati keindahan deretan pepohonan hutan hijau dan suara kicauan burung. Bahkan tempat ini sangat menawan sebagai latar belakang foto anda dengan nuansa hutan di luar negeri seperti Amazon.
          Perjalanan menuju hutan wisata ini dapat ditempuh menggunakan taksi bandara selama 15 menit atau taksi rental dari Pelabuhan Sorong yang memakan waktu 30 menit.

PULAU SOOP
          PulauSoop merupakan satu dari empat pulau besar yang menjadi bagian wilayah Kota Sorong. Di pulau ini anda akan dimanjakan pemandangan hamparan pasir putih yang menarik dengan view  yang melebar ke arah laut kurang lebih 100 meter di arah utara. Pada bagian barat pantai terdapat batuan-batuan besar yang tersebar di tepi pantai. Tentara Jepang pernah menjadikannya sebagai basis pertahan udara. Selain itu, serupa dengan Pulau Doom, terdapat gua batu dan lubang bagi senjata mesin yang diarahkan ke airport Jefman peninggalan tentara Jepang karena mereka mendirikan tempat persembunyian di sini selama Perang Dunia II.

Dokumentasi : Hamparan pasir putih di Pulau Soop
          Pulau Soop menjadi destinasi wisata alam sekaligus sejarah yang sayang bila dilewatkan. Turis juga dapat melakukan aktivitas wisata seperti berenang, berperahu tradisional dan memancing. Mayoritas penduduk pulau ini memiliki fasilitas transportasi laut, sarana penangkapan ikan dan bangunan rumah tradisional.
          Satu-satunya transportasi ke Pulau Soop adalah perahu bermotor atau taksi laut dari Halte Doom. Lama perjalanan hanya sekitar 7-12 menit.

PULAU RAAM
            Keunikan Pulau Raam adalah bila dilihat dari kejauhan atau ketinggian, pulau ini memiliki bentuk mirip dengan seekor buaya. Lebih terkenal dengan sebutan Pulau Buaya karena bentuknya tersebut. Pulau Raam menjadi batas terluar Kota Sorong.
          Topografi pulau ini adalah berpasir putih dengan variasi relief batu di sebelah barat dan kumpulan batu apung di sebelah selatan. Hal ini menjadikan pulau ini terkesan otentik dan berpanorama cantik.

Dokumentasi : Pulau Raam dari kejauhan
          Aktivitas wisata yang dapat dieksplorasi di pulau ini adalah berenang, berperahu, memancing, dan duduk di tepi pantai sambil menikmati alam yang menawan. Pulau Raam juga satu-satunya pulau di Kota Sorong yang menawarkan snorkeling di tepi pantai dan diving pada coral reef dekat batu apung. Tak kalah dengan pulau di Raja Ampat, Pulau Raam juga memiliki keindahan alam bawah laut, tebing terjal biota laut serta flora-fauna yang tak kalah mempesona.

          Untuk menjangkau pulau ini hanya menggunakan perahu bermotor atau taksi laut dari Halte Doom kurang lebih selama 30 menit.